
Impor Senjata Eropa Melonjak 210 Persen, Rusia Jadi Faktor Utama
Eropa masuk fase impor senjata besar-besaran. Laporan SIPRI yang dirilis Senin, 9 Maret 2026, mencatat negara-negara di Eropa kini menjadi kawasan pengimpor senjata terbesar dunia setelah volume impor melonjak 210 persen pada periode 2021-2025 dibanding 2016-2020. Reuters menegaskan lonjakan itu dipicu ancaman Rusia dan keraguan yang membesar atas jaminan keamanan Amerika Serikat.
Ini penting sekarang karena lonjakan impor senjata tidak berdiri sendiri. Dewan Uni Eropa mencatat belanja pertahanan negara anggota diperkirakan mencapai 381 miliar euro pada 2025, dengan 130 miliar euro di antaranya untuk investasi, naik 11 persen dari 2024 dan 62,8 persen dibanding 2020. Artinya, arah belanja publik Eropa memang sedang bergeser lebih agresif ke pertahanan.
Untuk publik, dampak terdekatnya konkret. Saat impor senjata dan anggaran pertahanan naik, ruang fiskal, prioritas industri, dan arah belanja negara ikut berubah. NATO dan Uni Eropa juga sudah membuka jalur pendanaan baru, dari komitmen belanja 5 persen PDB di NATO hingga skema pinjaman SAFE milik Uni Eropa. Ada detail penting yang terlihat dari rilis resmi SIPRI, dokumen Dewan Uni Eropa, dan pernyataan NATO.
Impor Senjata Eropa Melonjak 210 Persen
Data utama datang dari SIPRI. Lembaga itu menyebut negara-negara di Eropa menerima 33 persen dari seluruh impor senjata global pada 2021-2025. Lima tahun sebelumnya, pangsanya hanya 12 persen. Reuters merangkum tren yang sama dengan kalimat lebih sederhana, yakni impor senjata Eropa “more than trebled”, atau lebih dari tiga kali lipat, dalam lima tahun terakhir.
SIPRI menyebut lonjakan itu tidak hanya disebabkan bantuan ke Ukraina. Dalam rilis resminya, Direktur SIPRI Arms Transfers Programme, Mathew George, mengatakan, “While tensions and conflicts in Asia and Oceania and the Middle East continue to drive large-scale arms imports, the sharp increase in arms flows to European states pushed global arms transfers up almost 10 per cent.” Ia menambahkan, “Deliveries to Ukraine since 2022 are the most obvious factor, but most other European states have also started importing significantly more arms to shore up their military capabilities against a perceived growing threat from Russia.”
Itu berarti isu utama bukan lagi hanya Ukraina sebagai penerima bantuan militer. Negara-negara Eropa lain juga mempercepat impor senjata untuk memperkuat kemampuan tempurnya sendiri. Setelah Ukraina, Polandia dan Inggris menjadi pengimpor terbesar di Eropa dalam lima tahun terakhir. Hampir setengah senjata yang masuk ke Eropa berasal dari Amerika Serikat, disusul Jerman 7,1 persen dan Prancis 6,2 persen.
Ada satu detail yang perlu dibaca hati-hati agar tidak keliru. SIPRI menyebut impor negara-negara di Eropa naik 210 persen. Pada saat yang sama, SIPRI juga mencatat impor gabungan 29 negara NATO di Eropa naik 143 persen. Angka ini berbeda karena basis pengukurannya berbeda. Yang pertama menghitung seluruh negara di Eropa, sedangkan yang kedua hanya anggota NATO Eropa saat ini. Reuters memakai ringkasan “lebih dari tiga kali lipat”, yang sejalan dengan lonjakan 210 persen itu.
SIPRI Catat Polandia dan Inggris di Depan
Urutan waktunya jelas. Setelah invasi penuh Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, para pemimpin Uni Eropa di Versailles pada Maret 2022 sepakat untuk berinvestasi lebih besar di bidang pertahanan, memperkuat industri pertahanan, dan mengurangi ketergantungan strategis. Dewan Uni Eropa menegaskan ancaman itu belum berubah dan masih terkait langsung dengan perang Rusia di Ukraina.
Perubahan itu lalu bergerak dari janji politik ke angka belanja dan pengadaan. Dewan Uni Eropa mencatat total belanja pertahanan negara anggota mencapai 343 miliar euro pada 2024, lalu diperkirakan naik menjadi 381 miliar euro pada 2025. Kenaikan ini berjalan seiring dengan dorongan untuk mempercepat kerja sama riset, pengadaan, interoperabilitas, dan dukungan layanan militer lintas negara anggota.
SIPRI juga menunjukkan siapa yang paling banyak diuntungkan dari gelombang impor senjata ini. Amerika Serikat memasok 42 persen ekspor senjata global pada 2021-2025 dan untuk pertama kalinya dalam dua dekade, porsi terbesar ekspor senjata AS justru masuk ke Eropa, yakni 38 persen, bukan Timur Tengah. Ke Eropa secara keseluruhan, ekspor senjata AS melonjak 217 persen dibanding periode sebelumnya.
Ketergantungan ini makin jelas bila dipersempit ke NATO Eropa. SIPRI menyebut 58 persen impor senjata 29 anggota NATO di Eropa berasal dari Amerika Serikat. Pemasok berikutnya jauh di bawahnya, yakni Korea Selatan 8,6 persen, Israel 7,7 persen, dan Prancis 7,4 persen. Jadi, walau Eropa bicara banyak soal kemandirian pertahanan, arus impor senjata saat ini masih sangat berat ke pemasok luar, terutama Washington.
Katarina Djokic dari SIPRI merumuskan kontradiksi itu secara langsung. Ia mengatakan, “Although European firms have ramped up arms production and the European Union’s new investment support for member states’ arms industries has led to a number of intra-EU orders, European states continued to import US arms in 2021-25, especially combat aircraft and long-range air defence systems.” Kutipan ini penting karena menjelaskan bagaimana impor senjata tetap naik meski industri lokal juga sedang digenjot.
Wajib Tahu:
Eropa menyerap 33 persen impor senjata global pada 2021-2025, tertinggi di dunia.
Impor senjata negara-negara Eropa naik 210 persen dibanding periode 2016-2020.
Untuk anggota NATO di Eropa, impor senjata gabungan naik 143 persen, dan 58 persen di antaranya berasal dari Amerika Serikat.
Setelah Ukraina, Polandia dan Inggris menjadi pengimpor terbesar di Eropa dalam lima tahun terakhir.
SAFE Uni Eropa dan Target NATO 5 Persen
Respons kelembagaan Eropa kini sudah bergerak ke tahap aturan dan uang. Dewan Uni Eropa menyebut ReArm Europe atau Readiness 2030 membuka jalan untuk tambahan belanja pertahanan hingga 800 miliar euro sampai 2030. Pilar pertamanya adalah SAFE, instrumen pinjaman hingga 150 miliar euro untuk membantu negara anggota melakukan kenaikan investasi pertahanan secara cepat melalui common procurement atau pengadaan bersama.
Dalam laman resminya, Komisi Eropa menegaskan SAFE dirancang untuk “unlock over €800 billion in defence spending across the EU”. Dewan Uni Eropa juga menyebut hingga Februari 2026, klausul pelonggaran fiskal nasional untuk belanja pertahanan sudah diaktifkan bagi 17 negara anggota. Fleksibilitas itu berlaku empat tahun mulai 2025, dengan tambahan ruang sampai 1,5 persen PDB per tahun.
Langkah itu sudah mulai berjalan di level negara. Pada 15 Januari 2026, Komisi Eropa menyetujui gelombang pertama rencana SAFE untuk delapan negara, yakni Belgia, Bulgaria, Denmark, Spanyol, Kroasia, Siprus, Portugal, dan Rumania. Nilai total tahap awal ini sekitar 38 miliar euro, dan pembayaran pertama diproyeksikan mulai cair pada Maret 2026 setelah persetujuan Dewan.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, “Last year, the EU has made more progress in defence than in decades before.” Ia menambahkan, “The White Paper and the Readiness Roadmap 2030 enabled Member States to mobilise up to 800 billion euros for defence.” Pesan Komisi jelas, percepatan ini bukan reaksi sesaat, tetapi proyek jangka menengah untuk menaikkan kapasitas tempur Eropa.
Dari sisi NATO, tekanannya juga naik. NATO kini memuat secara resmi keputusan KTT Den Haag 2025 bahwa sekutu berkomitmen mengalokasikan 5 persen PDB per tahun untuk pertahanan pada 2035. Dari angka itu, minimal 3,5 persen untuk kebutuhan pertahanan inti dan hingga 1,5 persen untuk belanja keamanan terkait, termasuk infrastruktur dan ketahanan sipil.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte juga memberi gambaran soal jurang lama antara Amerika dan Eropa. Dalam forum Davos pada Januari 2026, ia berkata, “Even today, the US is spending 3.5% of GDP on core defence; we are spending in Europe average 2% on defence.” Dalam pidato lain pada 3 Maret 2026, Rutte menegaskan, “All of us spending more on defence makes all of us more secure.”
Belanja Senjata Eropa Masuk Fase Mahal
Apa artinya atau dampaknya bagi audiens. Gelombang impor senjata ini berarti biaya pertahanan Eropa akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Saat negara-negara Eropa menambah pembelian jet tempur, sistem pertahanan udara jarak jauh, amunisi, dan perlengkapan pendukung, tekanan ke anggaran negara ikut naik, bahkan ketika Uni Eropa memberi ruang fiskal tambahan. Itu bukan otomatis berarti anggaran sosial dipotong, tetapi ruang kompetisinya jelas akan mimpor senjata Eropa 2026akin ketat.
Ini yang perlu dicermati. Narasi resmi Eropa menekankan penguatan industri pertahanan sendiri, tetapi data SIPRI memperlihatkan impor senjata justru masih sangat bergantung pada pemasok luar. Untuk seluruh Eropa, Amerika Serikat memasok 48 persen impor. Untuk NATO Eropa, porsinya bahkan 58 persen. Jadi, ada jarak antara target kemandirian industri dan praktik pengadaan di lapangan.
Risiko berikutnya adalah siklus ketergantungan baru. Semakin besar impor senjata dari luar, semakin kuat juga pengaruh pemasok terhadap interoperabilitas, suku cadang, pemeliharaan, dan upgrade sistem tempur. Ini bukan hanya soal siapa menjual senjata, tetapi juga soal siapa yang akan mengikat arsitektur pertahanan Eropa selama satu dekade ke depan. Inilah mengapa SIPRI menilai negara-negara Eropa masih terus membeli sistem tempur utama dari AS, terutama pesawat tempur dan pertahanan udara jarak jauh.
Ada juga konsekuensi politik. Dewan Uni Eropa menegaskan penguatan pertahanan dilakukan untuk menghadapi “rapid geopolitical shifts” dan dampak perang Rusia di Ukraina. NATO bahkan menyebut lingkungan keamanan saat ini sebagai yang paling berbahaya sejak akhir Perang Dingin. Jadi, impor senjata besar-besaran ini bukan semata siklus bisnis industri militer, melainkan respons terhadap perubahan ancaman yang sudah dilembagakan dalam dokumen resmi Barat.
Yang akan diuji setelah ini ada tiga. Pertama, apakah lonjakan impor senjata bisa beralih menjadi kapasitas produksi Eropa sendiri. Kedua, apakah skema SAFE dan pengadaan bersama benar-benar menekan biaya dan mempercepat pengiriman. Ketiga, apakah kenaikan belanja pertahanan hingga target 5 persen PDB di NATO bisa dipertahankan tanpa memicu friksi politik domestik. Sampai Senin, 9 Maret 2026, data yang paling otoritatif menunjukkan satu arah yang tegas: Eropa sedang mempercepat impor senjata dalam skala yang belum terlihat pada periode sebelumnya, dan Rusia menjadi pemicu utamanya.