
Penjualan Mobil Turun 7,2% di 2025, Daya Beli Melemah Jadi Sorotan Gaikindo
Penjualan Mobil Turun 7,2% sepanjang 2025, berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Angka penjualan dari pabrik ke dealer (wholesales) tercatat 803.687 unit, turun dari 865.723 unit pada 2024.
Kenapa penting sekarang: pelaku industri menilai pelemahan permintaan berkaitan dengan daya beli dan faktor makro, dari suku bunga hingga nilai tukar. Untuk konsumen, dampak terdekatnya ada pada pola promo, strategi stok dealer, sampai arah kebijakan insentif yang ditunggu pasar.
Gaikindo juga menegaskan pasar 2026 masih bergerak di bawah bayang-bayang ketidakpastian kebijakan. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut target penjualan 2026 dipatok 850 ribu unit, namun bisa berubah mengikuti perkembangan.
Di sisi lain, data resmi Bank Indonesia menunjukkan penjualan eceran Desember 2025 diprakirakan tetap tumbuh, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) naik 4,4% (year-on-year). Kontras ini membuat pelemahan permintaan mobil jadi sorotan tersendiri. Ada detail penting yang terlihat dari rilis resmi, daftar agenda, atau dokumen terkait.
Berikut rangkuman faktanya, siapa bicara apa, kapan, di mana, dan angka apa yang dipakai.
GAIKINDO: Penjualan mobil turun 7,2% pada 2025
Gaikindo mencatat wholesales 2025 sebesar 803.687 unit. Itu berarti Penjualan Mobil Turun 7,2% dibanding 2024 yang mencapai 865.723 unit.
Penjualan ritel (dealer ke konsumen) sepanjang 2025 juga turun. Gaikindo menyebut retail 2025 sebesar 833.692 unit, turun 6,3% dari 889.680 unit pada 2024.
Data ini muncul dalam rilis di situs Gaikindo pada 12 Januari 2026, dan diperkuat oleh laporan ANTARA yang mengutip angka yang sama.
Untuk konteks ekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ekonomi Indonesia tahun 2025 tumbuh 5,11% (year-on-year). Artinya, pertumbuhan ada, tetapi tidak otomatis mengangkat permintaan kendaraan baru.
Ini yang perlu dicermati: pelemahan penjualan mobil terjadi ketika indikator makro tertentu menunjukkan pertumbuhan. Perbedaan ritme ini biasanya membuat industri menyoroti faktor kredit, ekspektasi konsumen, dan sikap “menunda beli” pada barang tahan lama seperti mobil. Pernyataan resmi soal satu penyebab dominan yang “paling menentukan” belum ada, karena Gaikindo menyebut faktornya berlapis.
Data 803.687 unit: Desember 94.100 jadi penahan
Dalam rincian bulanan yang dipublikasikan detikOto, lonjakan terjadi pada Desember 2025. Wholesales Desember mencapai 94.100 unit, naik 26,9% dibanding November 2025.
Rincian detikOto juga memuat daftar penjualan wholesales per bulan dari Januari hingga Desember 2025, lalu daftar retail sales per bulan. Di sana, total wholesales tetap sama dengan Gaikindo, yakni 803.687 unit.
Namun ada perbedaan kecil pada angka total retail. Gaikindo dan ANTARA menulis 833.692 unit, sementara detikOto menulis total retail 833.702 unit pada daftar bulanannya. Selisih 10 unit ini belum dijelaskan dalam keterangan di artikel detikOto maupun rilis Gaikindo yang dirujuk. Untuk angka utama, rujukan yang https://oto.detik.com/mobil/d-8299797/penjualan-mobil-di-indonesia-tahun-2025-tembus-830-ribu-unitlebih otoritatif tetap rilis Gaikindo dan kutipan data Gaikindo di ANTARA.
Gaikindo menilai perbedaan antara wholesales dan retail masih “terkendali”, karena stok yang menumpuk berpotensi menekan diskon dan cashflow dealer. Penjelasan teknis tambahan soal ambang “terkendali” dan metode audit data tidak dijabarkan di rilis tersebut.
Wajib Tahu:
Wholesales 2025: 803.687 unit, turun 7,2% dari 2024 (865.723 unit).
Retail 2025 versi Gaikindo: 833.692 unit, turun 6,3% dari 2024 (889.680 unit).
Desember 2025 jadi titik balik memastikan target tercapai: wholesales 94.100 unit.
Bank Indonesia mencatat IPR Desember 2025 diprakirakan tumbuh 4,4% (year-on-year), terutama ditopang kelompok suku cadang dan aksesori, makanan-minuman, hingga BBM kendaraan bermotor.
BPS menyatakan ekonomi 2025 tumbuh 5,11%, memberi konteks bahwa perlambatan penjualan mobil bukan semata “ekonomi nol”, melainkan bisa terkait pola belanja dan kredit.
Jongkie dan Kukuh soroti daya beli, BI rate 4,75%
Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menegaskan penjualan mobil dipengaruhi banyak faktor. Ia menyebut suku bunga, nilai tukar, pertumbuhan ekonomi, sampai kondisi perbankan ikut menentukan arah penjualan.
Dalam pernyataannya di Jakarta pada 23 Januari 2026, Jongkie mengatakan Gaikindo belum memutuskan target 2026 karena harus dibahas dengan anggota. “Jujur saya belum rapat dengan anggota. Ayo sama-sama kita tentuin, proyeksinya berapa tahun ini. Saya nggak bisa memutuskan sendiri. Harus bicara dengan anggota,” ujarnya.
Ia juga mengaitkan kondisi 2025 dengan tekanan permintaan. “Penyebab utamanya adalah daya beli masyarakat yang menurun,” kata Jongkie saat menjelaskan pelemahan penjualan pada periode lain ketika tren penurunan sudah terlihat sejak awal tahun.
Soal perilaku konsumen, Jongkie menyebut kecenderungan menunda pembelian. “Daya beli masyarakat kita bilang wait and see dulu lah. Nanti dulu lah (beli mobil baru), lihat dulu model baru dan lain sebagainya,” ujarnya.
Dari sisi suku bunga acuan, Jongkie menyebut BI rate 4,75% sebagai salah satu variabel yang “bagus”, tetapi tetap harus dilihat bersama faktor lain. Ia menekankan proyeksi tidak ditentukan satu faktor saja.
Bank Indonesia, dalam rilis survei penjualan eceran, memotret dinamika konsumsi ritel di Desember 2025 yang diprakirakan tetap tumbuh. Meski indikator ini tidak spesifik untuk mobil, BI menuliskan kelompok terkait kendaraan seperti BBM dan suku cadang ikut menopang kinerja penjualan eceran.
Ini yang berubah: setelah penurunan tahunan 2025, narasi industri bergeser dari sekadar “mengejar volume” ke “mengunci momentum” pasca libur panjang dan pameran otomotif. Gaikindo menempatkan kalender pameran dan kebijakan insentif sebagai penentu, sambil menunggu kepastian pemerintah.
Target penjualan 2026 850 ribu, pameran jadi tumpuan
Gaikindo menargetkan penjualan mobil 2026 sebesar 850 ribu unit. Pernyataan ini disampaikan Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara dalam diskusi di Jakarta pada 30 Januari 2026.
“Jadi, pada dasarnya kita kemarin sudah sepakat, pada tahun ini kita mematok target sebanyak 850 ribu unit,” kata Kukuh. Ia menambahkan target masih bisa berubah jika ada kebijakan baru atau perkembangan pasar.
Kukuh juga menyinggung momen libur panjang Lebaran sebagai peluang sekaligus tantangan. Menurutnya, pameran otomotif dan peluncuran merek serta model baru diharapkan mendorong penjualan setelah Lebaran. “Nah, kita berharap setelah itu harusnya kita bisa sedikit nge-gas lah gitu. Karena kan panjang, dari Maret sampai ke akhir tahun nanti,” kata Kukuh.
Dampak yang paling dekat untuk publik ada di dua titik. Pertama, konsumen kemungkinan melihat lebih banyak program penjualan, termasuk promo akhir kuartal, karena dealer dan merek berusaha mengamankan volume setelah Penjualan Mobil Turun pada 2025. Kedua, arah insentif dan aturan fiskal, jika ada, berpotensi memengaruhi harga on-the-road dan cicilan, sehingga keputusan pembelian bisa berubah cepat. Hingga 12 Februari 2026, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah soal paket insentif baru yang disebut-sebut pelaku industri dalam berbagai forum.
Apa artinya atau dampaknya: Penjualan Mobil Turun 7,2% bukan hanya soal angka tahunan, tetapi sinyal kehati-hatian rumah tangga untuk pembelian besar. Jika tren menunda beli berlanjut, industri biasanya menahan produksi, memperketat stok, dan mengandalkan event penjualan seperti pameran. Untuk pembeli, situasi ini sering berarti pilihan promo meningkat, tetapi juga ada risiko model tertentu cepat habis jika produksi ditahan. Pernyataan resmi yang memastikan strategi produksi merek-merek besar secara menyeluruh belum tersedia dalam satu rilis komprehensif.
Penjualan Mobil Turun pada 2025 sudah tercatat di data Gaikindo, tetapi akhir tahun memberi bantalan lewat lonjakan Desember. Tahun 2026 dibuka dengan target 850 ribu unit, sambil menunggu kombinasi faktor ekonomi, kebijakan, dan siklus pameran bekerja di lapangan.