
Korban Myanmar Dipulangkan, 90 WNI Tiba di RI, 230 Masih Menyusul
Pusat Focus – Pukul 05.30 WIB pada 22 Januari 2026, rombongan WNI Korban Myanmar turun dari rangkaian perjalanan panjang yang tidak mereka bayangkan ketika pertama kali menerima tawaran kerja. Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, jadi titik akhir sekaligus awal baru. Kementerian Luar Negeri menyebut mereka terjebak penipuan daring dan dipulangkan dari perbatasan Myanmar-Thailand, setelah operasi penindakan otoritas Myanmar menyasar pusat aktivitas online scamming dan online gambling di kawasan Myawaddy.
Bagi pembaca Indonesia, ini bukan sekadar kabar “pemulangan”. Ini alarm keras tentang jalur rekrutmen kerja yang makin licin, lintas negara, dan sering berujung pada eksploitasi. Pemerintah menyatakan masih ada 230 WNI dalam proses pemulangan bertahap, dengan prioritas pada mereka yang menyatakan siap membiayai tiket pulang secara mandiri.
Di bagian tengah laporan ini, ada satu hal yang perlu dibaca pelan-pelan: angka yang beredar tentang jumlah WNI dalam rombongan kali ini tidak sepenuhnya seragam di pemberitaan. Ada yang menyebut 90 orang, ada pula yang menulis 91 orang. Kita akan jelaskan sumbernya dan kenapa perbedaan seperti ini sering muncul dalam operasi lintas otoritas.
Korban Myanmar gelombang ketiga, apa yang terjadi di Soetta
Direktorat Pelindungan WNI (Dit. PWNI) bersama KBRI Yangon dan KBRI Bangkok memulangkan 90 WNI dan menyatakan mereka tiba Kamis pagi, 22 Januari 2026, sekitar pukul 05.30 WIB. Setiba di tanah air, para WNI langsung diserahkan ke instansi terkait untuk penanganan dan pendampingan lanjutan sesuai prosedur.
Sementara itu, dalam foto jurnalistik yang dimuat media lain, tertulis “91 WNI” tiba di Terminal 2 Soetta pada tanggal yang sama, dengan keterangan bahwa mereka “terjaring operasi penindakan” kejahatan online scamming dan judi daring di Myanmar.
Mana yang benar, 90 atau 91? Untuk saat ini, rujukan paling kuat tetap keterangan resmi Kemlu yang disiarkan melalui kantor berita, yaitu 90 WNI. Perbedaan angka 1 orang bisa muncul karena beberapa hal yang lazim di lapangan, misalnya perubahan manifest terakhir, kategori pendampingan, atau perbedaan cara menghitung saat proses dokumentasi foto. Namun, tanpa klarifikasi tertulis tambahan dari Kemlu, kita tidak boleh menebak. Yang bisa dipastikan dari dua sumber kredibel itu, rombongan ini adalah pemulangan lanjutan Korban Myanmar dari jaringan penipuan daring di area Myawaddy.
Yang juga penting: pemulangan 22 Januari 2026 ini disebut sebagai gelombang ketiga. Liputan6 menulis 90 WNI terdampak operasi penindakan pemerintah Myanmar terkait penipuan online dan judi online tiba di Indonesia usai direpatriasi via Thailand.
Kronologi dari Myawaddy ke Jakarta, pola rutenya mulai terbaca
Dalam keterangan Kemlu, pemulangan kali ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah menangani WNI terdampak operasi penindakan Myanmar terhadap pusat kegiatan online scamming dan online gambling di kawasan Myawaddy.
Rute yang berulang muncul dalam beberapa gelombang sebelumnya: dari area Myawaddy, diseberangkan ke Mae Sot, Thailand, lalu transit Bangkok sebelum terbang ke Jakarta. Pola ini terlihat jelas pada gelombang pertama dan kedua pemulangan Desember 2025.
Pada gelombang pertama, KBRI Yangon menyatakan pemindahan dimulai 8 Desember 2025 menuju Mae Sot sebagai tahap awal pemulangan ke Indonesia. Kemlu kemudian merilis bahwa 56 WNI dipulangkan dari Myawaddy pada 8 Desember 2025 melalui Jembatan Persahabatan Myanmar–Thailand No. 2, diterima KBRI Bangkok di Mae Sot, dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta melalui Bangkok pada 9 Desember 2025.
Gelombang kedua menyusul. KBRI Yangon mengumumkan 54 WNI dari Shwe Kokko diseberangkan ke Thailand pada 12 Desember 2025 dan proses pemulangan difasilitasi KBRI Yangon serta KBRI Bangkok. Kemlu juga menegaskan gelombang kedua ini membawa 54 WNI, dengan rujukan bahwa gelombang pertama berjumlah 56 WNI.
Ada detail lain yang patut dicermati karena menyangkut tempo operasi dan skala kasus. Akun resmi KBRI Bangkok, dalam unggahan yang juga berisi imbauan kewaspadaan modus penipuan kerja, menyebut pendekatan pemulangan dilakukan bertahap, dengan jadwal 92 WNI pada 21–22 Januari 2026 dan 37 WNI pada 28–29 Januari 2026.
Angka jadwal 92 itu menarik, karena berbeda dengan realisasi yang diberitakan pada 22 Januari 2026 (90 menurut keterangan Kemlu, 91 menurut keterangan foto). Ini yang berubah dan ini yang perlu dicermati: jadwal lapangan bisa bergeser, jumlah penumpang dalam satu gelombang bisa menyesuaikan faktor administrasi, koordinasi lintas otoritas, dan kesiapan individu untuk pulang. Publik sebaiknya berpegang pada angka yang sudah dinyatakan resmi setelah kedatangan, sambil menunggu pembaruan resmi berikutnya.
Mengapa Myawaddy jadi episentrum, dan kenapa dunia ikut menekan
Kasus Korban Myanmar tidak berdiri sendiri. Dalam skala kawasan, pusat penipuan daring di Myanmar, Kamboja, dan Laos sudah lama menjadi sorotan karena memadukan kejahatan siber, pemerasan, dan perdagangan orang. Laporan UNODC menempatkan fenomena “scam centres” sebagai bagian dari ekonomi kriminal yang kian terorganisasi dan lintas batas.
Associated Press, dalam rangkaian liputannya pada 2025, mencatat operasi penindakan Myanmar terhadap pusat-pusat scam di area dekat perbatasan Thailand. Salah satu yang banyak disebut adalah KK Park di dekat Myawaddy. AP menulis militer Myanmar mengklaim menahan 2.198 orang dalam operasi di KK Park dan menyita perangkat komunikasi, termasuk terminal internet satelit, ketika penertiban dimulai pada awal September 2025.
Dalam laporan lain, AP menyebut jaringan penipuan ini diperkirakan menghasilkan hampir 40 miliar dolar AS per tahun bagi kelompok kriminal, dan ribuan orang asing ditahan serta dideportasi melalui Thailand. Angka dan narasi ini sejalan dengan penekanan UNODC bahwa industri penipuan siber di kawasan Mekong punya dampak global, bukan hanya regional.
Tekanan juga datang dari sisi kebijakan perbatasan. Thailand pernah memutus pasokan listrik dan layanan terkait ke beberapa titik perbatasan Myanmar yang disebut menjadi kantong operasi scam, termasuk Myawaddy, dengan alasan keamanan nasional dan besarnya kerugian akibat penipuan.
Semua konteks ini menjelaskan kenapa pemulangan Korban Myanmar tidak cukup dibaca sebagai drama kriminal semata. Ini ekosistem. Ada lokasi, ada jaringan perekrut, ada logistik lintas negara, ada korban yang dipaksa bekerja, dan ada uang yang mengalir deras.
Wajib Tahu:
Pemerintah menyatakan 230 WNI masih dalam proses pemulangan bertahap, dengan prioritas pada yang siap membiayai tiket pulang secara mandiri.
Gelombang pemulangan Desember 2025 tercatat 56 WNI pada 8 Desember 2025 dan 54 WNI pada 13 Desember 2025 (kedatangan gelombang kedua disebut dalam rilis Kemlu).
Jadwal yang pernah dipublikasikan KBRI Bangkok menyebut 92 WNI pada 21–22 Januari 2026 dan 37 WNI pada 28–29 Januari 2026, tetapi realisasi gelombang 22 Januari 2026 diberitakan 90 atau 91.
Di level kawasan, penertiban pusat scam di sekitar Myawaddy pada 2025 dilaporkan melibatkan ribuan orang yang ditahan dan menjadi sorotan internasional, dengan estimasi pendapatan industri scam nyaris 40 miliar dolar AS per tahun menurut liputan AP yang merujuk UNODC.
Apa artinya untuk Indonesia, dan apa yang kemungkinan terjadi berikutnya
Buat Indonesia, kabar ini punya dua dampak paling dekat. Pertama, risiko korban baru tetap terbuka selama jalur rekrutmen tidak prosedural masih dianggap “jalan pintas” untuk bekerja. Kemlu sendiri menegaskan imbauan agar calon pekerja migran Indonesia selalu mengikuti prosedur resmi dan peraturan yang berlaku, karena jalur resmi dapat menutup banyak celah penipuan dan eksploitasi.
Kedua, tantangan penegakan hukum dan pemulihan korban akan panjang. Banyak Korban Myanmar tidak hanya pulang membawa trauma, tapi juga masalah administratif, potensi jerat pidana bila terindikasi dipaksa menjalankan aktivitas ilegal, dan kebutuhan pendampingan sosial. Karena itu, kalimat “diserahkan kepada instansi terkait” di bandara terdengar sederhana, padahal di dalamnya ada proses asesmen, perlindungan korban, dan penelusuran jejaring perekrut di Indonesia.
Yang kemungkinan terjadi berikutnya, jika mengacu pada pola gelombang dan jadwal yang pernah dipublikasikan KBRI Bangkok, proses pemulangan akan terus berjalan bertahap. Namun, publik juga perlu siap pada kenyataan bahwa angka per gelombang dapat berubah dari rencana, karena operasi lintas negara sangat dipengaruhi akses perbatasan, verifikasi identitas, serta koordinasi keamanan di area yang tidak selalu stabil. Inilah kenapa perbedaan angka 90 dan 91 perlu dibaca sebagai sinyal bahwa informasi lapangan bergerak cepat, bukan sebagai bahan spekulasi.
Pada titik ini, isu Korban Myanmar adalah ujian konsistensi: seberapa cepat negara menutup celah rekrutmen ilegal di hulu, seberapa tegas memburu perekrut di dalam negeri, dan seberapa rapi pendampingan saat para korban kembali. Gelombang ketiga sudah tiba. Gelombang berikutnya, jika berjalan, akan kembali menguji ketahanan sistem yang sama.
Hobi Games ?