
Harga Bitcoin Naik Lagi di Tengah Konflik Timur Tengah, Pulihkah Sentimen?
Harga Bitcoin kembali naik pada Kamis, 5 Maret 2026, di saat konflik Timur Tengah masih memicu guncangan di pasar global.
Data harga BTC menunjukkan Bitcoin berada di US$72.598 per BTC, naik 6,969% dari penutupan sebelumnya, dengan rentang intrahari US$67.504 sampai US$73.984.
Pergerakan itu datang setelah sehari sebelumnya Reuters mencatat Bitcoin sempat menguat 8,4% ke US$73.741 ketika pelaku pasar mencoba kembali ke aset berisiko.
Namun Reuters juga melaporkan pada Kamis Bitcoin dan ether sempat “retreated slightly” setelah kenaikan sebelumnya, menandakan selera risiko belum stabil.
Konsekuensi terdekat untuk publik: volatilitas tetap tinggi, perbedaan harga antar platform bisa melebar, dan posisi leverage berisiko cepat terlikuidasi saat ada headline baru.
Ada detail penting yang terlihat dari rilis resmi, daftar agenda, atau dokumen terkait, termasuk pernyataan PBB soal eskalasi dan peringatan pelayaran Selat Hormuz, plus benchmark harga harian Bitcoin dari CME CF.
Harga Bitcoin US$72.598, naik meski perang berlanjut
Harga Bitcoin menguat meski berita konflik masih mendominasi.
Pernyataan resmi Sekretaris Jenderal PBB pada 28 Februari 2026 menyebut penggunaan kekuatan AS dan Israel terhadap Iran, disusul retaliasi Iran di kawasan, “undermine international peace and security.”
Dalam pernyataan yang sama, Antonio Guterres mengatakan, “I condemn today’s military escalation in the Middle East.”
Di pasar, sinyalnya campuran.
Pada 4 Maret 2026, Reuters mencatat Bitcoin sempat naik 8,4% ke US$73.741 saat dolar AS melemah dan risk appetite membaik.
Pada 5 Maret 2026, Reuters menyebut Bitcoin dan ether terkoreksi tipis setelah kenaikan.
Untuk patokan benchmark yang digunakan pasar institusional, CME CF Bitcoin Reference Rate (BRR) tercatat US$72.584,30 dan diperbarui pada 4 Maret 2026 pukul 16.00 GMT.
Perbedaan tipis antara BRR dan harga real time umum terjadi karena waktu penetapan benchmark dan sumber agregasi perdagangan yang berbeda.
Pertanyaan “kepercayaan pasar crypto kembali pulih” belum punya jawaban tunggal.
Kenaikan Harga Bitcoin hari ini menunjukkan ada pembeli yang kembali masuk.
Tetapi pergerakan “naik lalu turun tipis” di hari berikutnya memperlihatkan pasar masih mudah berubah.
Outflow kripto Iran dan data BRR jadi petunjuk
Data pendukung muncul dari arus kripto di kawasan konflik dan indikator harga yang dipakai institusi.
Reuters melaporkan peneliti blockchain mencatat arus keluar kripto dari bursa Iran melonjak setelah serangan dimulai, dengan total US$10,3 juta keluar dari bursa kripto Iran antara Sabtu sampai Senin.
Dalam laporan yang sama, bursa Nobitex “was not available for comment,” sehingga detail internal platform belum terkonfirmasi dari pihak bursa.
Di sisi lain, patokan BRR dari CME CF menjadi rujukan “closing price” harian yang sering dipakai untuk penyelesaian kontrak dan evaluasi portofolio institusi.
BRR dipublikasikan harian, sehingga perubahan hari-ke-hari bisa dilihat tanpa mengandalkan harga intrahari yang fluktuatif.
Perang juga mempengaruhi pasar lewat jalur energi dan pengiriman.
Otoritas AS melalui MARAD mengeluarkan peringatan MSCI Alert 2026-001A yang menyebut aktivitas militer signifikan dimulai 28 Februari 2026 dan merekomendasikan kapal menghindari area bila memungkinkan.
International Maritime Organization (IMO) juga mengingatkan soal keselamatan pelaut dan menekankan prinsip kebebasan navigasi.
Ini yang perlu dicermati: status “Selat Hormuz ditutup” tidak seragam dalam dokumen dan laporan.
Reuters pada 2 Maret 2026 mengutip pernyataan penasihat senior IRGC yang menyatakan, “The strait (of Hormuz) is closed,” disertai ancaman terhadap kapal yang mencoba melintas.
Namun advisory JMIC (UKMTO) pada 1 Maret 2026 menyebut “no formal legal closure of the Strait of Hormuz,” meski level risiko maritim dinilai CRITICAL.
Dalam kondisi detail berbeda seperti ini, rujukan operasional paling kuat untuk pelayaran adalah advisory resmi otoritas maritim dan peringatan negara bendera, bukan klaim sepihak.
Wajib Tahu:
Harga Bitcoin hari ini: US$72.598 per BTC, naik 6,969% (range US$67.504 sampai US$73.984).
Reuters mencatat Bitcoin sempat naik 8,4% ke US$73.741 pada 4 Maret 2026.
Benchmark CME CF BRR: US$72.584,30 (update 4 Maret 2026 pukul 16.00 GMT).
MARAD: aktivitas militer signifikan dimulai 28 Februari 2026, kapal disarankan menghindari area bila memungkinkan.
Outflow kripto dari bursa Iran: total US$10,3 juta keluar Sabtu sampai Senin (menurut peneliti yang dikutip Reuters).
OJK, CFTC, dan sinyal regulasi yang dibaca pasar
Perubahan sentimen pasar kripto juga dipengaruhi arus regulasi, bukan hanya konflik.
Di AS, Reuters melaporkan Menkeu AS Scott Bessent mendorong Kongres meloloskan RUU aturan aset digital, dikenal sebagai Clarity Act, dan menyebut aturan itu akan memberi “great comfort to the market” saat volatilitas tinggi.
Reuters juga menulis rapat di Gedung Putih pada awal Februari 2026 belum memecahkan kebuntuan antara bank dan industri kripto terkait rancangan aturan.
Isu regulasi ini relevan untuk menjawab pertanyaan “pulihkah kepercayaan.”
Jika ada kemajuan aturan, sebagian investor menilai risiko kepatuhan mengecil.
Jika buntu, pasar tetap menghadapi ketidakpastian status aset dan model bisnis, terutama stablecoin dan platform perdagangan.
Untuk Indonesia, pengawasan aset kripto sudah bergeser dari kerangka komoditas ke kerangka “aset keuangan digital.”
OJK menjelaskan peralihan tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto, dengan penandatanganan berita acara serah terima dan MoU pada 10 Januari 2025.
OJK juga merilis POJK 27 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Aset Keuangan Digital Termasuk Aset Kripto, yang mendefinisikan aset kripto dan ruang lingkup penyelenggaraan perdagangan.
Dari sisi perlindungan konsumen, CFTC mengingatkan virtual currency sangat volatil, nilainya ditentukan suplai dan permintaan, dan tidak didukung pemerintah atau bank sentral.
Peringatan itu menjadi relevan ketika Harga Bitcoin bergerak tajam dalam sehari di tengah berita perang.
Jika publik mencari “satu kalimat” tentang kondisi pasar, belum ada konfirmasi resmi dari regulator bahwa kenaikan Harga Bitcoin berarti risiko menurun.
Yang ada adalah rangkaian sinyal: perdebatan aturan berjalan, risiko geopolitik tinggi, dan volatilitas tetap menjadi karakter utama aset kripto.
Apa artinya Harga Bitcoin bagi investor Indonesia
Harga Bitcoin yang naik saat konflik memanas bisa dibaca dua cara: sebagian melihat peluang, sebagian melihat risiko.
Apa artinya atau dampaknya untuk audiens: jika Anda membeli atau trading di Indonesia, Harga Bitcoin di rupiah akan dipengaruhi 2 faktor sekaligus, yaitu harga global (USD) dan kurs rupiah terhadap dolar di platform.
Perbedaan harga antar bursa bisa melebar saat volatilitas tinggi, terutama ketika likuiditas menipis atau spread melebar.
Dampak lain ada pada biaya dan risiko transaksi lintas batas.
Reuters melaporkan konflik mengganggu pelayaran dan risiko asuransi perang, termasuk laporan kapal tanker rusak dan satu pelaut tewas.
Jika gangguan energi dan logistik berlanjut, pasar bisa kembali memperlakukan perang sebagai risiko inflasi, yang biasanya menekan aset berisiko.
Ini yang berubah pada 5 Maret 2026: sentimen tidak sepenuhnya risk-off.
Harga Bitcoin sempat memantul, sejalan dengan catatan Reuters soal tanda pemulihan risk appetite di aset lain, meski emas dan minyak masih tinggi.
Namun koreksi tipis yang dicatat Reuters menggarisbawahi bahwa pasar belum “tenang.”
Berikutnya yang perlu dipantau pekan ini adalah dua jalur.
Jalur geopolitik: apakah ada perubahan status pelayaran dan risiko di sekitar Selat Hormuz, karena dokumen resmi maritim masih menekankan ancaman tinggi.
Jalur regulasi: apakah Clarity Act bergerak di Kongres AS, karena pejabat pemerintah AS sendiri menyebut aturan bisa memberi kenyamanan pasar.