
Minyak Dunia Naik, Airlangga Tegaskan Harga BBM Subsidi Ditahan
Harga BBM Subsidi dipastikan belum akan naik dalam waktu dekat.
Pernyataan itu disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
Airlangga menyebut Harga BBM Subsidi tidak berubah sampai momen Hari Raya (Idul Fitri) 2026.
Ucapan ini muncul saat harga minyak global naik dan memicu kekhawatiran beban subsidi energi.
Dampak terdekat buat publik: Pertalite dan solar subsidi masih dijual dengan harga yang sama.
Di beberapa laporan harga Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan solar subsidi Rp6.800 per liter.
Pemerintah menegaskan stabilisasi daya beli masih jadi foharga bbm subsidi tidak naik sampai lebaran 2026kus.
Di dokumen APBN, pemerintah juga menyiapkan penguatan “fiscal buffer” dan reformasi subsidi agar lebih tepat sasaran.
Ada detail penting yang terlihat dari dokumen resmi RAPBN 2026 dan Nota Keuangan terkait asumsi harga minyak serta arah kebijakan subsidi BBM.
Airlangga: Harga BBM Subsidi aman sampai Idul Fitri
Airlangga menyatakan Harga BBM Subsidi belum akan dinaikkan.
Ia menyebut tidak ada kenaikan sampai Hari Raya (Idul Fitri).
“Harga BBM untuk subsidi saya pastikan bahwa sampai hari raya (Idul Fitri) tidak ada kenaikan apa-apa,” kata Airlangga, dikutip CNBC Indonesia.
Pernyataan Airlangga juga mengait ke tekanan dari harga minyak yang sedang bergerak naik.
Namun, ia menegaskan keputusan harga subsidi untuk sementara tetap ditahan.
Sehari sebelumnya, pernyataan senada juga muncul dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Bahlil menyebut pemerintah belum menaikkan BBM bersubsidi meski ada gejolak harga minyak.
“Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa,” kata Bahlil, dikutip Liputan6 yang merujuk Antara.
Dua pernyataan itu sama pada intinya: Harga BBM Subsidi ditahan setidaknya sampai Idul Fitri 2026.
Belum ada pengumuman resmi lain yang menyebut tanggal pasti setelah Idul Fitri.
Brent tembus US$83, APBN 2026 pakai ICP US$70
Harga minyak menjadi latar yang paling menekan kebijakan subsidi.
Reuters melaporkan Brent sempat menyentuh US$83,99 per barel pada Kamis, 5 Maret 2026, di tengah eskalasi konflik dan kekhawatiran gangguan pasokan.
Di sisi APBN, Nota Keuangan menyebut proyeksi ICP 2026 berada di level US$70 per barel.
Angka ini jadi salah satu patokan fiskal saat menghitung risiko subsidi dan kompensasi energi.
Perbedaan angka minyak di pemberitaan muncul karena acuan yang dipakai tidak selalu sama.
Bahlil menyebut kisaran 78–80 dolar AS per barel, sementara Reuters menyebut Brent mendekati 84 dolar AS per barel pada 5 Maret 2026.
Ini yang perlu dicermati: selisih harga minyak di atas asumsi berpotensi membengkakkan belanja subsidi dan kompensasi.
Nota Keuangan menegaskan kenaikan harga minyak dan valas dapat meningkatkan subsidi dan kompensasi.
Dari sisi pasokan global, OPEC+ juga bergerak.
Reuters melaporkan OPEC+ sempat mempertimbangkan kenaikan produksi lebih besar, hingga 411.000 barel per hari, dalam rapat 28 Februari 2026.
Namun, kenaikan produksi tidak otomatis menurunkan harga dalam jangka pendek jika risiko konflik dan jalur logistik masih terganggu.
Di pasar, premi risiko bisa tetap tinggi selama ada ancaman gangguan pengiriman.
Pertalite Rp10.000, Biosolar Rp6.800, Harga BBM Subsidi
Harga BBM Subsidi yang paling banyak dipakai masyarakat masih mengacu pada dua produk utama.
Pertalite dilaporkan tetap Rp10.000 per liter, dan solar subsidi (Biosolar) Rp6.800 per liter.
Harga itu kembali disebut tidak berubah ketika Pertamina menyesuaikan sebagian harga BBM non-subsidi per awal Maret 2026.
Detik melaporkan penyesuaian terjadi di Dexlite dan Pertamina Dex, sementara Pertalite dan solar subsidi tidak berubah.
Media lain juga menyebut pola yang sama: non-subsidi bergerak, subsidi tetap.
CNBC Indonesia menulis “terpantau harga BBM Pertalite tetap Rp 10.000 per liter” di tengah penyesuaian BBM non-subsidi per 1 Maret 2026.
Di wilayah tertentu, laporan Antara menyebut Pertamax di DKI Jakarta berada di Rp12.300 per liter per 1 Maret 2026.
Ini konteks penting karena tekanan biaya transportasi sering pindah dari non-subsidi ke biaya logistik.
Apa artinya atau dampaknya buat publik: pengguna Pertalite dan solar subsidi mendapat kepastian jangka pendek untuk mobilitas harian dan persiapan mudik Lebaran.
Di sisi lain, pengguna BBM non-subsidi perlu menyesuaikan anggaran karena harga produk tertentu sudah bergerak naik sejak 1 Maret 2026.
Skema Subsidi Tepat dan skenario bila minyak naik
Arah kebijakan pemerintah di dokumen fiskal menekankan pengetatan sasaran, bukan sekadar menaikkan harga.
Nota Keuangan menyebut “kebijakan subsidi BBM tepat sasaran” dengan penyaluran BBM bersubsidi melalui registrasi konsumen penggunanya.
Kebijakan “subsidi tepat” juga terkait tata kelola di lapangan.
Ombudsman menulis Pertamina Patra Niaga menjalankan program subsidi tepat Pertalite dan Bio Solar dengan pendaftaran kendaraan untuk mendapatkan QR code.
Dari sisi regulasi harga BBM non-subsidi, Kementerian ESDM menjelaskan acuan penetapan harga jual eceran jenis umum (bensin dan solar) mengacu formula yang diatur Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
Sementara untuk Harga BBM Subsidi, pejabat pemerintah menekankan belum ada keputusan menaikkan harga dalam waktu dekat.
Bahlil menyebut pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi setelah rapat Dewan Energi Nasional (DEN).
Waspada berikutnya ada di dua jalur: durasi lonjakan minyak dan ruang fiskal subsidi.
Jika konflik berkepanjangan dan harga minyak bertahan tinggi, risiko kenaikan subsidi dan kompensasi kembali menjadi pembahasan utama di APBN.
Belum ada konfirmasi resmi soal langkah koreksi anggaran subsidi energi dalam waktu dekat, termasuk opsi pengalihan kompensasi atau pengetatan kuota di SPBU.
Yang sudah tertulis di Nota Keuangan adalah arah reformasi: akurasi penerima dan pengendalian konsumsi lewat registrasi.
Wajib Tahu:
Airlangga menyebut Harga BBM Subsidi tidak naik sampai Idul Fitri 2026 (pernyataan di Jakarta, 5 Maret 2026).
Nota Keuangan memproyeksikan ICP 2026 di level US$70 per barel.
Reuters melaporkan Brent menyentuh US$83,99 per barel pada 5 Maret 2026.
Dokumen RAPBN menyebut penyaluran BBM bersubsidi dilakukan dengan registrasi konsumen.
Reuters: OPEC+ sempat mempertimbangkan kenaikan produksi hingga 411.000 barel per hari (rapat 28 Februari 2026).