
Israel Lancarkan Serangan ke Lebanon: 4 Tewas Termasuk Anak, Sekutu Hamas Dibekuk
Israel lancarkan serangan ke Lebanon selatan dan menangkap seorang pejabat kelompok Islamis Sunni yang disebut sekutu Hamas. Aksi lintas batas itu terjadi saat Israel juga melancarkan serangan terpisah yang menewaskan 4 orang, termasuk seorang anak.
Peristiwa ini terjadi pada Senin, 9 Februari 2026, di beberapa titik Lebanon selatan dekat perbatasan Israel. Fokus utama ada di Desa Habbariyeh (Hasbaya) dan desa Yanouh, serta Aita al-Shaab.
Kenapa penting sekarang. Gencatan senjata Israel dan Hezbollah pada 2024 belum menghentikan serangan rutin dan insiden lintas batas. Penangkapan tokoh yang disebut sekutu Hamas membuat eskalasi politik meningkat.
Dampak paling dekat untuk publik adalah risiko keamanan dan ketidakpastian bagi warga di Lebanon selatan, termasuk potensi serangan balasan dan tekanan diplomatik. Reuters mencatat Israel terus melakukan serangan pascagencatan senjata dan korban terus bertambah.
Fakta kunci yang bisa diverifikasi: Israel menyatakan operasi itu “targeted” berbasis intelijen, sementara kelompok yang bersangkutan menyebut pejabatnya dibawa ke Israel. Ada detail penting yang terlihat dari pernyataan militer Israel dan respons pemerintah Lebanon yang menyebut penangkapan sebagai pelanggaran kedaulatan.
Israel lancarkan serangan, siapa yang dibekuk dan di mana kejadiannya
Menurut Reuters, pasukan Israel menyita seorang pejabat Jama’a Islamiya, kelompok Islamis Sunni Lebanon, dalam sebuah penggerebekan. Militer Israel menyebut orang itu sebagai “senior terrorist” dan mengatakan ia dipindahkan ke Israel untuk dimintai keterangan.
Associated Press melaporkan pejabat yang ditangkap adalah Atwi Atwi, seorang pejabat lokal dari al-Jamaa al-Islamiya, yang disebut sebagai sekutu Hamas. Penangkapan terjadi di Desa Hebbarieh, wilayah Hasbaya, dekat perbatasan Israel.
Militer Israel, menurut AP, menyatakan pasukannya menangkap seorang pejabat Islamic Group dalam “targeted intelligence-based operation”, tanpa menyebut nama. Ini membuat identitas Atwi Atwi berasal dari laporan media Lebanon dan pernyataan kelompoknya, bukan pengumuman nama resmi dari militer Israel.
Al Jazeera juga melaporkan al-Jamaa al-Islamiya menuduh Israel “menculik” Atwi Atwi dari rumahnya di distrik Hasbaiyya dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui.
Yang jadi perhatian, Arab News melaporkan Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengecam “abduction” itu dan menyebutnya serangan terhadap kedaulatan Lebanon serta pelanggaran gencatan senjata.
Dalam jalur komunikasi publik, belum ada pernyataan rinci yang menjelaskan mekanisme pemulangan atau status hukum Atwi Atwi selain klaim “dipindahkan ke Israel untuk diinterogasi” dari militer Israel.
Wajib Tahu:
Reuters mencatat 4 orang tewas, termasuk anak, dalam dua serangan terpisah di Lebanon selatan pada 9 Februari 2026.
Tiga korban, termasuk anak usia 3 tahun, tewas di Yanouh. Satu korban lain tewas di Aita al-Shaab, menurut laporan NNA via Kementerian Kesehatan Lebanon yang dikutip Reuters.
Militer Israel menyatakan penangkapan pejabat Jama’a Islamiya dan memindahkannya ke Israel untuk pemeriksaan. Israel menyebutnya “senior terrorist”.
AP menyebut yang ditangkap adalah Atwi Atwi, pejabat lokal al-Jamaa al-Islamiya, dan operasi dilakukan di Hebbarieh dekat perbatasan.
Arab News menyebut PM Lebanon Nawaf Salam mengecam penangkapan itu sebagai pelanggaran kedaulatan dan gencatan senjata.
Ini yang perlu dicermati: beberapa sumber menyebut lokasi operasi sebagai Habbariyeh, Hebbarieh, atau Habbariyeh, dan ini merujuk ke area yang sama di selatan Lebanon. Perbedaan ejaan muncul karena transliterasi Arab ke Inggris.
Kronologi dan data pendukung: dari penggerebekan hingga serangan mematikan
Kronologi dimulai pada dini hari Senin, 9 Februari 2026.
Reuters melaporkan pejabat Jama’a Islamiya disita dari desa Habbariyeh dekat Hasbaiyaa pada jam-jam awal. Hezbollah ikut menyinggung insiden penangkapan itu, menurut Reuters.
Di hari yang sama, serangan udara Israel menghantam sebuah mobil di Yanouh, Lebanon selatan. Tiga orang tewas termasuk anak usia 3 tahun, menurut NNA yang mengutip Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Militer Israel menyatakan target di Yanouh adalah pejabat artileri Hezbollah di wilayah tersebut, yang mereka identifikasi sebagai Ahmad Salami. Israel mengakui ada “claim” korban sipil dan menyatakan insiden “under review”.
Serangan kedua terjadi di Aita al-Shaab, desa perbatasan. Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut seorang pria tewas oleh tembakan Israel, menurut Reuters.
Israel mengatakan pasukannya “eliminated a Hezbollah terrorist” di Aita al-Shaab dan menuduh korban terlibat pengintaian serta upaya memulihkan infrastruktur Hezbollah.
Hezbollah dalam pernyataannya menyebut rangkaian kejadian ini sebagai “dangerous escalation” dan sinyal awal fase baru agresi Israel.
Ada detail yang baru terlihat dari laporan terpisah: Reuters menulis Israel telah melakukan serangan reguler di Lebanon sejak perang 2024 dengan Hezbollah, dan sejak gencatan senjata, sekitar 400 orang tewas menurut sumber keamanan Lebanon.
Angka 400 ini penting karena memberi konteks skala serangan pascagencatan senjata. Namun Reuters menegaskan sumbernya berasal dari sumber keamanan Lebanon, bukan rilis tunggal pemerintah yang merinci kasus per kasus.
Respons pihak terkait: Israel, pemerintah Lebanon, dan kelompok bersenjata
Militer Israel merespons dengan narasi “targeted operation” dan “intelijen”. Dalam kutipan yang dimuat AP, militer Israel menyebut penangkapan itu sebagai “targeted intelligence-based operation”.
Dalam laporan The National, militer Israel menyatakan pasukannya melakukan penggerebekan terarah dan menangkap “a senior terrorist” dari Jamaa Islamiya.
Di sisi Lebanon, al-Jamaa al-Islamiya mengutuk penangkapan dan meminta negara Lebanon bekerja untuk pembebasan Atwi Atwi. AP menyebut kelompok itu menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran kedaulatan Lebanon.
Respons resmi dari pemerintah Lebanon menguat lewat pernyataan Perdana Menteri Nawaf Salam. Arab News melaporkan Salam mengecam “abduction” tersebut sebagai “blatant attack on Lebanese sovereignty” dan pelanggaran gencatan senjata serta hukum internasional.
Ini yang berubah: peristiwa ini tidak hanya soal serangan udara, tetapi juga operasi darat lintas batas yang berujung penahanan orang dan dipindahkan ke wilayah Israel. Perubahan bentuk operasi ini biasanya memicu respons diplomatik yang lebih keras karena menyentuh isu kedaulatan.
Dalam konteks gencatan senjata 2024, Reuters juga melaporkan Prancis memperingatkan capaian gencatan senjata masih rapuh dan menekankan pentingnya Israel melindungi warga sipil serta menarik diri dari wilayah Lebanon.
Sejauh informasi yang tersedia di laporan-laporan utama, belum ada pengumuman resmi tentang mediasi pihak ketiga untuk kasus Atwi Atwi. Belum ada konfirmasi publik tentang akses pengacara, status penahanan, atau jadwal pemulangan.
Konsekuensi dan apa berikutnya: risiko eskalasi dan jalur diplomatik
Israel lancarkan serangan ke Lebanon di tengah situasi pascagencatan senjata yang masih rentan. Konsekuensinya langsung ke warga perbatasan, karena setiap insiden bisa memicu siklus tembak-menembak baru.
Apa artinya atau dampaknya bagi publik di kawasan. Peningkatan serangan dan operasi penahanan bisa membuat pergerakan warga dan aktivitas ekonomi di Lebanon selatan semakin terganggu, serta memperbesar risiko salah sasaran.
Bagi investor dan pasar energi regional, setiap eskalasi Israel-Lebanon biasanya meningkatkan persepsi risiko geopolitik, walau dampaknya sangat bergantung pada apakah konflik melebar atau tetap terbatas di perbatasan.
Ini yang perlu dicermati: Israel menyatakan langkah mitigasi untuk mengurangi korban sipil, termasuk penggunaan amunisi presisi dan pengawasan, tetapi tetap ada korban anak dalam laporan Kementerian Kesehatan Lebanon. Celah persepsi inilah yang sering memicu tekanan diplomatik baru.
Arah berikutnya kemungkinan bergerak pada dua jalur.
Jalur pertama adalah respons negara Lebanon di level diplomatik dan legal, termasuk tuntutan penghormatan kedaulatan dan gencatan senjata. Indikasinya terlihat dari pernyataan PM Salam yang menyebut pelanggaran hukum internasional.
Jalur kedua adalah kalkulasi militer di perbatasan. Hezbollah menyebut rangkaian insiden sebagai eskalasi berbahaya, sementara Israel menuduh Hezbollah mencoba memulihkan kemampuan militernya. Dua narasi ini biasanya membuat tensi bertahan lebih lama.
Israel lancarkan serangan ke Lebanon selatan, menewaskan 4 orang termasuk anak, dan menangkap pejabat al-Jamaa al-Islamiya yang disebut sekutu Hamas. Israel menyebut operasi berbasis intelijen dan menahan orang itu di wilayah Israel. Pemerintah Lebanon mengecam dan menyebutnya pelanggaran kedaulatan serta gencatan senjata. Titik berikutnya ada pada jalur diplomatik pembebasan tahanan dan risiko eskalasi lanjutan di perbatasan.