Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Kilang Minyak Venezuela
Ekonomi

Minyak Venezuela Mengalir ke China, Ini Data Terbarunya dan Kenapa Mulai Seret

By Agung Leonardo
January 11, 2026 6 Min Read

Pusat Focus – Pagi ini, satu fakta kembali menonjok pasar energi dunia: China masih menjadi pelanggan utama Minyak Venezuela, tetapi jalur pengirimannya semakin rumit dan, dalam beberapa hari terakhir, mulai tersendat. Bukan sekadar drama geopolitik. Ini soal angka, kapal, diskon harga, dan efek domino yang bisa merembet sampai ke Asia, termasuk Indonesia.

Data yang beredar di kalangan pelaku pasar menunjukkan, sepanjang 2025 China menyerap ratusan ribu barel per hari minyak asal Venezuela. Reuters mengutip Kpler: rata-rata 389.000 barel per hari pada 2025. Di sisi lain, Reuters juga mengutip Vortexa: sekitar 470.000 barel per hari pada 2025. Angka berbeda, tetapi pesannya sama: China tetap pembeli terbesar dalam praktik, walau pencatatan resminya sering tidak mencerminkan arus sebenarnya.

Kenapa penting sekarang. Karena sejak awal Januari 2026, setelah rentetan langkah Amerika Serikat yang mengubah peta risiko pelayaran, pengapalan dari pelabuhan utama Venezuela untuk tujuan Asia dilaporkan berhenti sejak 1 Januari 2026 menurut data pelayaran yang dikutip Reuters. Ada detail yang lebih tajam di bagian tengah tulisan ini: bagaimana “Minyak Venezuela” bisa terlihat seperti “minyak negara lain” di dokumen, dan kenapa justru itu yang membuat pasokannya rentan diputus mendadak.

Untuk pembaca Indonesia, dampaknya paling dekat adalah dua hal: potensi guncangan ongkos logistik dan pergeseran diskon minyak berat di Asia. Dua komponen yang sering merayap, pelan tapi pasti, ke struktur harga bahan bakar dan biaya industri.

Indeks Berita

Toggle
  • China dan Minyak Venezuela: angka yang bicara
    • Wajib Tahu:
  • Dari “diskon tebal” ke “keran tersendat”: kronologi 60 hari terakhir
  • Ini yang perlu dicermati: perang kapal, diskon, dan barter utang
  • Apa artinya untuk Indonesia: harga, logistik, dan peluang impor

China dan Minyak Venezuela: angka yang bicara

Di atas kertas, Venezuela bukan pemasok raksasa bagi China jika dibanding Rusia atau Arab Saudi. Reuters menulis porsi Venezuela kira-kira sekitar 4 persen dari total impor minyak China. Namun bagi segmen tertentu di China, terutama kilang independen atau “teapot”, Minyak Venezuela adalah bahan baku yang sulit diganti cepat karena karakter minyaknya yang sangat berat.

Contoh paling gamblang datang dari November 2025. Reuters melaporkan Venezuela mengekspor 952.000 barel per hari, dan 778.000 barel per hari di antaranya menuju China. Artinya, pada bulan itu China menelan porsi sangat dominan dari ekspor Venezuela.

Masuk Desember 2025, arusnya masih besar. Reuters mengutip Vortexa dan Kpler: kedatangan Merey, minyak andalan Venezuela, diperkirakan melampaui 600.000 barel per hari pada Desember, dan Kpler menaksir 664.000 barel per hari untuk Desember (angka dapat direvisi), yang disebut berpotensi menjadi rekor.

Lalu kenapa ada perbedaan angka 389.000 barel per hari versus 470.000 barel per hari untuk rata-rata 2025. Dua sumber analitik memakai metodologi pelacakan yang berbeda. Yang penting, keduanya sepakat bahwa China tetap pasar utama Minyak Venezuela pada 2025, dan ketergantungan itu tidak hanya transaksi dagang, tetapi juga terkait skema utang.

Wajib Tahu:

  1. Resmi kecil, realitas besar (asal kargo sering “disamarkan”).

  2. Merey itu emas buat aspal (yield aspal tinggi, disebut Argus jauh di atas alternatif).

  3. Diskon bisa melebar sampai puluhan dolar (Reuters mencatat diskon Merey pernah melebar sampai 21 dolar AS per barel di bawah Brent).

  4. Stok terapung jadi bantalan (Kpler dan Reuters menyebut stok di kapal membuat dampak tidak langsung terasa hari ini juga).

Dari “diskon tebal” ke “keran tersendat”: kronologi 60 hari terakhir

Cerita ini memanas pada Desember 2025. Ada penyitaan kapal, sanksi tambahan, dan meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di Karibia yang membuat pemilik kapal memasang “war clause” atau klausul risiko perang. Reuters melaporkan, setelah penyitaan sebuah kapal yang membawa minyak, pelanggan Venezuela termasuk kilang China menekan PDVSA untuk diskon lebih dalam dan perubahan kontrak spot.

Angkanya bukan main. Reuters mencatat diskon Minyak Venezuela jenis Merey untuk China melebar sampai sekitar 21 dolar AS per barel di bawah Brent, dari kisaran 14 sampai 15 dolar AS per barel pada pekan sebelumnya. Diskon sebesar itu menjelaskan kenapa teapot mau repot. Mereka membeli murah, lalu memutar margin di tengah pasar yang penuh minyak sanksi lain dari Rusia dan Iran.

Namun diskon besar punya sisi gelap. Semakin murah, semakin banyak pihak yang ingin membeli, tetapi semakin besar pula risiko logistik dan risiko penegakan sanksi. Reuters juga menulis adanya kargo yang “nyangkut” di perairan Venezuela, kapal berbalik arah, dan sebagian pelayaran berjalan dalam mode gelap dengan transponder dimatikan.

Menjelang pergantian tahun, tekanan itu tidak mereda. Kpler dalam catatan pasarnya pada 16 Desember 2025 menyebut ada puluhan juta barel minyak Venezuela “di atas air” dan menilai China, sebagai pembeli terbesar minyak berat Venezuela, berpotensi jadi pihak yang paling merasakan pukulan jika pengiriman makin terganggu. Kpler juga menyinggung produksi minyak berat Venezuela sangat tergantung pasokan pengencer seperti nafta, yang rantainya ikut sensitif oleh sanksi dan risiko pelayaran.

Lalu masuk Januari 2026, situasi geopolitik melompat ke level baru. Reuters melaporkan setelah peristiwa penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat, muncul kesepakatan untuk mengekspor hingga 2 miliar dolar AS minyak Venezuela ke Amerika Serikat. Reuters dalam laporan lain menyebut adanya kerangka yang dapat menyediakan sampai 50 juta barel untuk AS, dan perusahaan-perusahaan perdagangan serta operator logistik buru-buru mengamankan kapal serta skema transfer muatan dari kapal ke kapal.

Di saat yang sama, Reuters menulis bahwa pengapalan dari pelabuhan utama Venezuela untuk tujuan Asia berhenti sejak 1 Januari 2026 berdasarkan data pelayaran. Ini titik balik. China yang selama ini menjadi “tujuan utama” tiba-tiba berhadapan dengan keran yang macet, bukan karena permintaan, tetapi karena jalurnya dipagari.

Ini yang perlu dicermati: perang kapal, diskon, dan barter utang

Ada satu detail yang sering luput dari pembaca umum: kenapa China “mencatat sangat sedikit” impor dari Venezuela, padahal minyaknya masuk.

Pusat Kebijakan Energi Global Universitas Columbia menjelaskan adanya kesenjangan besar antara data bea cukai China dan estimasi arus nyata. Menurut mereka, bea cukai China mencatat impor minyak mentah dari Venezuela sangat kecil, tetapi arus sebenarnya jauh lebih tinggi karena upaya menyamarkan asal kargo, termasuk ship-to-ship transfer, penggunaan armada bayangan, dan rebranding menjadi asal negara ketiga seperti Malaysia atau Brasil. Di lapangan, inilah cara Minyak Venezuela tetap mendarat ke China ketika sanksi membuat jalur normal nyaris tertutup.

Masalahnya, pola seperti itu rentan dipatahkan ketika penegakan sanksi dan intersepsi kapal mengeras. Begitu risiko naik, pemilik kapal minta kompensasi. Biaya asuransi melonjak. Diskon harus makin dalam agar pembeli tetap mau menanggungnya. Siklus ini terlihat jelas pada Desember 2025 ketika Reuters melaporkan diskon Merey melebar tajam.

Di sisi China, Argus menulis ada sekitar 10 pembeli reguler minyak Venezuela di China, banyak di antaranya produsen aspal, dengan rata-rata impor sekitar 430.000 barel per hari pada 2025 menurut pelacakan Argus. Argus juga menekankan perbedaan kualitas: yield aspal dari Merey bisa sekitar 60 persen, sementara alternatif seperti Iranian Extra Heavy hanya sekitar 10 sampai 13 persen. Artinya, mengganti Minyak Venezuela bukan sekadar mengganti barel, tetapi mengganti hasil akhir pabrik.

Laporan Reuters pada 7 Januari 2026 memberi gambaran respon cepat: teapot diperkirakan mengalihkan suplai ke minyak berat Iran dan Rusia, dengan bantalan stok terapung yang disebut cukup untuk sekitar 75 hari kebutuhan. Reuters juga menyebut, untuk Merey pengiriman cepat, diskon sempat mengempis dari minus 15 dolar AS per barel menjadi sekitar minus 10 sampai minus 11 dolar AS per barel karena pasokan mengetat dan perdagangan melambat. Ini yang berubah: diskon yang biasanya menjadi magnet, tiba-tiba menjadi sinyal bahaya. Barangnya ada, tetapi jalannya tidak mulus.

Apa artinya untuk Indonesia: harga, logistik, dan peluang impor

Indonesia tidak mengimpor Minyak Venezuela dalam porsi besar seperti China. Tetapi Indonesia hidup di pasar yang sama: pasar minyak mentah Asia yang sensitif terhadap perubahan aliran, diskon, dan biaya pelayaran.

Pertama, jika China kehilangan akses ke Minyak Venezuela, sebagian pembeli China akan berebut alternatif. Reuters menyebut opsi yang dipertimbangkan mencakup minyak dari Kanada, Brasil, Irak, dan Kolombia. Argus juga menyebut alternatif heavy crude non-sanksi seperti TMX dari Kanada dan Castilla dari Kolombia, meski lebih mahal. Rebutan alternatif bisa menaikkan premi atau memperkecil diskon di grade-grade tertentu. Itu bisa mengerek biaya bahan baku kilang di Asia, langsung atau bertahap.

Kedua, gangguan Venezuela memukul titik yang sering dilupakan: biaya logistik dan asuransi. Reuters menggambarkan perebutan kapal, operasi transfer muatan, dan tantangan pelabuhan Venezuela yang tua serta tidak terawat. Kalau “war clause” menjadi normal baru untuk rute tertentu, biaya pengiriman di kawasan bisa ikut terdorong. Indonesia sebagai negara kepulauan sangat sensitif pada ongkos logistik energi, karena sebagian kebutuhan bahan bakar dan komponen kilang tetap bergantung pada rantai pasok laut.

Ketiga, ada sisi peluang yang perlu dibaca dengan dingin. Jika arus Minyak Venezuela beralih ke Amerika Serikat dalam volume besar, pasar Asia bisa kebanjiran suplai lain yang mencari pembeli, terutama minyak sanksi yang bersaing ketat di China. Dalam situasi seperti itu, diskon antar grade bisa berubah cepat. Bagi pembeli Asia Tenggara, perubahan diferensial harga kadang membuka ruang negosiasi yang lebih baik pada kontrak tertentu. Tetapi ini bukan kabar pasti. Banyak yang masih bergantung pada keputusan lisensi, penegakan sanksi, dan kesiapan infrastruktur Venezuela untuk menambah ekspor.

Yang paling realistis untuk dipantau dari Indonesia adalah tiga indikator: apakah penghentian pengapalan ke Asia berlanjut melewati Januari 2026, bagaimana pergerakan diskon minyak berat di Asia (Merey, Iranian Heavy, Russian grades, dan alternatif Kanada), serta apakah biaya pelayaran naik permanen atau hanya lonjakan sesaat.

China telah lama menjadi pelanggan utama Minyak Venezuela, dan datanya menunjukkan ketergantungan itu nyata, terutama di segmen teapot dan industri aspal. Namun sejak akhir 2025 hingga awal 2026, jalur pengiriman yang selama ini “kreatif” mulai terguncang oleh risiko intersepsi kapal dan perubahan politik. Dalam beberapa pekan ke depan, pasar akan melihat apakah stok terapung benar-benar cukup menjadi penyangga, atau justru hanya menunda krisis kecil yang pecahnya belakangan. Indonesia tidak berada di pusat pusaran, tetapi tetap ikut merasakan riak melalui harga, logistik, dan kompetisi barel di Asia.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

BrentChinaKplerMerey crudeMinyak VenezuelaPDVSAsanksi ASTeapot refinery
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Greenland Mulai Di Lirik Trump
Previous

Trump Ngancam “Cara Sulit” demi Greenland, Klaim Rusia dan Cina Menggantung Tanpa Bukti

PusatFocus - RMKE Jadi Bintang Baru Logistik Batubara
Next

RMKE Jadi “Bintang Baru” Logistik Batubara, Tapi Target 10.000 Itu Angka Berani, Ini yang Perlu Dicermati

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.