Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Grok AI
InternasionalTeknologi

Inggris Ancam Blokir X Gara-gara Grok AI, Elon Musk Membalas Tajam

By Agung Leonardo
January 11, 2026 5 Min Read

Pusat Focus – Tegangnya hubungan Elon Musk dengan pemerintah Inggris memasuki babak baru pada 9 Januari 2026. Pemicu utamanya bukan roket, bukan mobil listrik, melainkan Grok AI, chatbot milik xAI yang terintegrasi di platform X. Pemerintah Inggris menyatakan “semua opsi” terbuka, termasuk memblokir akses X di Inggris, jika platform itu dianggap gagal menghentikan penyalahgunaan fitur gambar Grok AI untuk membuat konten seksual tanpa persetujuan.

Di Indonesia, isu ini terasa dekat. Bukan hanya karena X dipakai jutaan warganet, tetapi juga karena pemerintah Indonesia sudah melangkah lebih dulu. Pada 10 Januari 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengumumkan pemblokiran sementara akses ke Grok, dengan alasan risiko konten pornografi dan deepfake seksual, termasuk yang menyinggung anak.

Yang membuat cerita ini makin ramai: Elon Musk akhirnya buka suara. Dalam beberapa unggahan, ia menilai reaksi keras pemerintah dan regulator sebagai dalih untuk sensor, bahkan menyebut pemerintah Inggris “fascist” dalam satu unggahan yang dikutip sejumlah media.

Ada satu hal penting yang perlu diluruskan sejak awal, karena banyak pembaca menangkapnya sebagai “sudah diblokir.” Hingga 11 Januari 2026, yang terjadi di Inggris belum berupa pemblokiran resmi yang sudah berjalan. Yang ada adalah ancaman sanksi dan opsi pemblokiran yang “di atas meja” bila X tidak patuh pada kewajiban hukum keselamatan daring, disertai tekanan politik yang kian keras.

Indeks Berita

Toggle
  • Mengapa Inggris mengancam blokir, bukan sekadar menegur
  • Kronologi: dari fitur gambar Grok AI sampai respons Elon Musk
    • Wajib Tahu:
  • Ini yang berubah, dan ini yang perlu dicermati
  • Apa artinya untuk Indonesia, dan langkah berikutnya

Mengapa Inggris mengancam blokir, bukan sekadar menegur

Di London, kata “blokir” tidak keluar begitu saja. Pernyataan yang paling sering dirujuk datang dari Technology Secretary Liz Kendall pada 9 Januari 2026. Ia menyoroti laporan penyalahgunaan fitur pembuatan dan penyuntingan gambar pada Grok AI yang dapat menghasilkan “intimate deepfake” dan konten seksual tanpa persetujuan, termasuk yang melibatkan anak. Dalam pernyataan resmi pemerintah, Kendall mendorong tindakan cepat, dan menegaskan dukungan terhadap regulator Ofcom untuk memakai kewenangannya.

Dasarnya adalah Online Safety Act. Dalam penjelasan resmi pemerintah Inggris, undang-undang ini mewajibkan platform mengurangi risiko layanan dipakai untuk aktivitas ilegal dan menurunkan konten ilegal saat muncul. Inggris juga membuka ruang tindakan penegakan yang lebih keras melalui proses hukum.

Bukan hanya Ofcom yang bergerak. Data regulator Inggris, Information Commissioner’s Office (ICO), menyatakan mereka sudah menghubungi X dan xAI untuk meminta kejelasan soal langkah kepatuhan terhadap hukum perlindungan data dan perlindungan hak individu. ICO menegaskan, setelah menerima jawaban, mereka akan cepat menilai apakah tindakan lanjutan diperlukan.

Di sisi lain, tekanan politik menguat. Sejumlah laporan media menyebut Perdana Menteri Keir Starmer meminta “semua opsi” tetap terbuka, termasuk pelarangan akses, jika X tidak “mengendalikan” penggunaan Grok AI untuk konten ilegal.

Kronologi: dari fitur gambar Grok AI sampai respons Elon Musk

Pekan pertama Januari 2026 jadi titik ledak. Sejumlah laporan media menggambarkan bagaimana fitur Grok AI dipakai untuk mengubah foto orang menjadi versi “dilecehkan”, mulai dari “dibikini-kan” hingga bentuk yang lebih eksplisit, termasuk yang menargetkan perempuan dan anak.

Tiga peristiwa kunci terjadi beruntun:

Pertama, Ofcom melakukan “urgent contact” ke X/xAI. Ini dikonfirmasi dalam pemberitaan media Inggris dan juga muncul sebagai rujukan dalam komunikasi lembaga negara.

Kedua, xAI dan X merespons dengan membatasi kemampuan pembuatan dan penyuntingan gambar. Sejumlah media internasional melaporkan pembatasan itu diarahkan terutama untuk pengguna non-berbayar, sementara akses untuk pelanggan berbayar tetap ada dalam bentuk tertentu.

Ketiga, Elon Musk merespons kontroversi dengan dua nada sekaligus. Di satu sisi, ia memperingatkan bahwa pengguna yang membuat konten ilegal dengan Grok AI akan menghadapi konsekuensi hukum, setara dengan mengunggah konten ilegal secara langsung.
Di sisi lain, Musk menyebut gelombang kritik sebagai “excuse for censorship” dan menyerang pemerintah Inggris lewat unggahan yang memantik kontroversi baru.

Di tengah tarik-menarik itu, muncul angka yang membuat regulator makin sulit menutup mata. Analisis pihak ketiga yang diberitakan Bloomberg menyebut X menjadi salah satu lokasi paling ramai untuk penyebaran gambar “non-consensually undressed” yang diproduksi dengan bantuan AI, dengan temuan “ribuan” per jam pada periode tertentu.
Angka yang lebih spesifik, sekitar 6.700 gambar per jam, dikaitkan dengan temuan peneliti yang dipublikasikan Bloomberg dan kemudian dikutip Fortune. Dua sumber ini tidak identik, tetapi menunjuk pada pola yang sama: volumenya besar, cepat, dan susah dikejar moderasi manual.

Wajib Tahu:

  1. Inggris belum resmi memblokir X per 11 Januari 2026, tetapi opsi pemblokiran disebut terbuka bila X dinilai gagal patuh.

  2. ICO sudah menghubungi X dan xAI untuk meminta penjelasan terkait kepatuhan hukum perlindungan data dan hak individu.

  3. Indonesia memblokir sementara akses Grok pada 10 Januari 2026, dan menyebut isu deepfake seksual sebagai pelanggaran HAM serta risiko keamanan digital.

  4. xAI membatasi fitur gambar Grok AI terutama untuk pengguna non-berbayar, tetapi kritik menyebut langkah itu belum menyelesaikan masalah di akar.

  5. Musk menilai isu ini dipakai sebagai dalih sensor, sambil menegaskan pengguna yang membuat konten ilegal akan menanggung konsekuensi hukum.

Ini yang berubah, dan ini yang perlu dicermati

Perubahan paling nyata adalah pembatasan fitur gambar. Banyak pengguna kini menemukan pesan bahwa pembuatan dan penyuntingan gambar dibatasi untuk pelanggan berbayar.

Namun yang perlu dicermati bukan hanya “siapa yang bisa pakai,” melainkan “di mana pintu masih terbuka.” Sejumlah laporan menyoroti bahwa pembatasan di dalam X tidak otomatis menutup seluruh jalur akses, karena Grok juga hadir sebagai aplikasi mandiri dan layanan web. Kritik utama dari regulator dan kelompok korban adalah: memindahkan fitur berisiko ke mode berbayar bisa berubah menjadi model “monetisasi risiko”, bukan pencegahan.

Lalu ada aspek yang jarang dibahas dalam perdebatan publik: data dan privasi. ICO masuk lewat jalur ini, bukan sekadar konten. Ketika Grok AI bisa mengolah gambar dan konteks dari platform, pertanyaan tentang dasar pemrosesan data, mitigasi risiko, dan perlindungan hak korban menjadi lebih rumit daripada sekadar “hapus unggahan.”

Di titik ini, Inggris memberi sinyal bahwa mereka tidak akan puas dengan perbaikan kosmetik. Kendall secara terbuka menyatakan dukungan bagi Ofcom untuk menggunakan kewenangan penegakan, dan wacana pemblokiran bukan sekadar gertakan retoris.

Apa artinya untuk Indonesia, dan langkah berikutnya

Untuk pembaca Indonesia, dampaknya ada di tiga lapis: pengguna, regulator, dan industri teknologi.

Pertama, bagi pengguna, pemblokiran sementara Grok di Indonesia sejak 10 Januari 2026 berarti akses chatbot itu dapat terganggu, termasuk bagi mereka yang memakainya untuk keperluan kerja, riset, atau hiburan. Reuters melaporkan pemerintah Indonesia menilai risiko konten pornografi dan deepfake seksual sebagai alasan utama, dan meminta klarifikasi dari pihak X.

Kedua, dari sisi regulator, langkah Indonesia membuat peta global bergeser. Indonesia disebut sebagai negara pertama yang mengambil tindakan pemblokiran sementara terhadap Grok. Ini memberi sinyal bahwa negara di luar Eropa dan Amerika Serikat juga siap memakai “tombol keras” saat fitur AI dianggap lepas kendali.

Ketiga, bagi industri, kasus Grok AI menjadi contoh nyata bahwa integrasi AI generatif ke platform sosial bukan cuma soal fitur baru. Ia bisa berubah menjadi risiko kepatuhan lintas negara, dari Online Safety Act di Inggris hingga standar lokal soal konten dan kesusilaan di Indonesia. Jika Inggris betul-betul melangkah ke pemblokiran X, gelombangnya bisa mengarah ke kebijakan serupa di negara lain. Setidaknya, tekanan untuk audit keselamatan, pelaporan transparansi, dan pembatasan fitur berisiko akan makin besar.

Lalu, apa langkah berikutnya yang paling mungkin? Dari dokumen dan pernyataan resmi yang sudah keluar, fokusnya mengarah ke dua hal: penilaian cepat oleh regulator (Ofcom dan ICO) dan respons teknis dari X/xAI yang bisa diuji, bukan sekadar diumumkan.

Sementara Elon Musk tampaknya memilih strategi ganda. Ia menekan narasi “kebebasan berpendapat” dan menuding sensor, tetapi juga menempatkan beban legal pada pengguna yang membuat konten ilegal. Ini terdengar tegas, tetapi bagi pemerintah, itu belum menjawab pertanyaan inti: seberapa kuat pagar pengaman Grok AI sebelum konten berbahaya terlanjur diproduksi dan menyebar.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

deepfakeElon MuskGrok AIkeamanan digitalOfcomOnline Safety ActXxAI
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati
Previous

Target 5 Hari Beres di Pasar Kramat Jati, Sampah Menumpuk Jadi Alarm Distribusi Pangan

PusatFocus - Geo Energy Group
Next

Taruhan Rp 2,14 Triliun Geo Energy di Laut: Mayoritas Dua Pelayaran RI Diambil, Ini yang Perlu Dicermati

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.