Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati
Berita

Target 5 Hari Beres di Pasar Kramat Jati, Sampah Menumpuk Jadi Alarm Distribusi Pangan

By Agung Leonardo
January 10, 2026 6 Min Read

Pusat Focus – Pagi di Pasar Kramat Jati biasanya dimulai dengan ritme yang sudah hafal di kepala. Truk-truk sayur dan buah datang bertahap, buruh bongkar muat bergerak cepat, pedagang menghitung stok sambil menawar harga. Tetapi pada 10 Januari 2026, ada “pengganggu” yang sulit ditutupi: tumpukan sampah yang menggunung, berbau tajam, dan memicu keluhan lintas pihak.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memasang target yang terdengar tegas: pengangkutan sampah di kawasan pasar dituntaskan dalam 5 hari. Bukan sekadar bersih-bersih, ini berpacu dengan waktu, karena yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan. Pasar Induk Kramat Jati adalah simpul distribusi pangan. Jika akses terganggu, dampaknya bisa merembet ke rantai pasok, kualitas komoditas, sampai persepsi keamanan pangan warga kota.

Target 5 hari itu juga membawa “teaser” yang sering luput di pembuka berita: problem sampah di pasar bukan muncul semalam. Ada persoalan tata kelola, kapasitas fasilitas, disiplin pengelola, dan beban timbulan yang bisa melonjak pada momen tertentu. Di tengah sorotan hari ini, bagian pentingnya justru ada di tengah cerita: angka-angka dan pembagian tanggung jawab yang membuat target 5 hari terasa sekaligus mungkin, sekaligus rapuh.

Indeks Berita

Toggle
  • 5 Hari, Target Bersih: Apa yang Sebenarnya Terjadi
  • Mengapa Sampah di Pasar Induk Menjadi Bom Waktu
    • Wajib Tahu:
  • Dampaknya ke Harga Pangan dan Kesehatan Kota
  • Setelah Truk Terakhir: PR yang Tidak Bisa Ditunda

5 Hari, Target Bersih: Apa yang Sebenarnya Terjadi

DLH menyebut langkah yang diambil bukan tambal sulam. Dalam pemberitaan 10 Januari 2026, DLH menargetkan pengangkutan sampah di Pasar Induk Kramat Jati selesai dalam 5 hari, dengan penguatan armada dan ritme angkut yang lebih agresif dari hari biasa.

Angka yang beredar dari laporan lapangan menggambarkan skala pekerjaan. Satuan pelaksana di wilayah disebut mengangkut sekitar 450 ton sampah dari lokasi pada satu hari operasi awal, dengan estimasi sisa timbunan sekitar 1.300 ton sampah yang masih harus dikejar. Jika angka itu benar-benar mendekati kondisi aktual, beban 5 hari bukan sekadar target administratif. Itu berarti kerja berat, berulang, dan rentan tersendat bila ada hambatan akses, cuaca, atau kembali masuknya sampah baru lebih cepat dari ritme pengangkutan.

Yang juga menjadi sorotan warga adalah dampak fisik di sekitar lokasi. Dalam laporan media, tumpukan sampah di salah satu sisi disebut sampai memicu masalah pada tembok pembatas yang berbatasan dengan permukiman, dan menambah keresahan karena bukan hanya bau, tetapi juga risiko lingkungan.

Di titik ini, ada hal yang perlu ditulis jujur: data rinci harian (berapa ton per hari masuk, berapa ton per hari keluar, armada yang benar-benar beroperasi tiap shift) tidak selalu dipublikasikan dalam format yang seragam antar sumber. Beberapa laporan media mengutip estimasi petugas lapangan, sementara rilis resmi yang memuat tabel operasional lengkap belum semuanya terbuka untuk publik. Karena itu, angka-angka besar perlu dibaca sebagai indikasi skala, bukan alasan untuk mengendurkan verifikasi.

Mengapa Sampah di Pasar Induk Menjadi Bom Waktu

Pasar grosir pangan menghasilkan sampah organik dalam volume besar. Sayur busuk, buah rusak, kardus, plastik kemasan, sampai sisa bongkar muat. Jika ritme angkut terlambat, “efek domino” muncul cepat: bau, lindi, vektor penyakit, sampai mempengaruhi aktivitas jual beli.

Ada konteks penting yang membuat Pasar Kramat Jati sering menjadi perhatian. Pemprov DKI Jakarta sendiri pernah memotret kontribusi sampah pasar dalam angka yang tidak kecil. Dalam rilis resmi tahun 2024, disebutkan DKI memiliki 153 pasar yang menghasilkan sekitar 500 ton sampah per hari, atau sekitar 6,5 persen dari total timbulan sampah harian Jakarta yang disebut berada di kisaran 7.700 ton per hari.

Angka itu menjelaskan satu hal: ketika satu pasar induk mengalami gangguan pengelolaan sampah, problemnya tidak berdiri sendiri. Ia menambah beban sistem persampahan kota yang sudah berat.

Lalu, bukankah Pasar Induk Kramat Jati punya fasilitas pengolahan? Ya, ada inisiatif. Pemprov DKI Jakarta pada 2024 meresmikan fasilitas TPS 3R di Pasar Induk Kramat Jati dengan kapasitas pengolahan disebut sampai 100 ton per hari. Ini langkah penting, karena mengurangi ketergantungan penuh pada “angkut buang” ke Bantargebang, setidaknya untuk sampah organik yang bisa diproses.

Tetapi kapasitas fasilitas dan kenyataan di lapangan bisa berbeda saat beban melonjak. Di laporan Antara, timbulan sampah harian di Pasar Induk Kramat Jati disebut bisa 120 ton sampai 150 ton per hari, bahkan bisa lebih tinggi pada masa tertentu, sementara kebutuhan armada pengangkut juga dipengaruhi jarak, ritme keluar-masuk pasar, dan ketersediaan truk.

Ini yang perlu dicermati: ketika timbulan rata-rata bisa mendekati atau bahkan melampaui kapasitas olah, TPS 3R tidak otomatis menjadi “jaring pengaman” tunggal. Kuncinya ada pada pemilahan dari sumber, kepatuhan pengelola, dan konsistensi operasional. Kalau sampah organik tercampur, alat dan proses melambat. Jika jadwal angkut terganggu, tumpukan kembali naik.

Pada saat bersamaan, regulasi sebenarnya sudah memberi kerangka tanggung jawab. Perda DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah dan Pergub DKI Jakarta Nomor 102 Tahun 2021 tentang kewajiban pengelolaan sampah di kawasan dan perusahaan menguatkan prinsip bahwa pengelolaan sampah tidak hanya urusan “diangkut pemerintah”, melainkan ada kewajiban pengurangan dan penanganan di sumber, termasuk pengelola kawasan.

Di sinilah alarmnya. Ketika pasar induk yang menjadi urat nadi pangan menghadapi tumpukan sampah, persoalannya bukan semata jumlah truk. Ada disiplin ekosistem, dari pedagang, pengelola, sampai operator fasilitas.

Wajib Tahu:

  1. Sampah pasar menyumbang ratusan ton per hari di Jakarta, dan pernah dipotret sekitar 500 ton per hari dari 153 pasar.

  2. TPS 3R Pasar Induk Kramat Jati pernah diumumkan berkapasitas 100 ton per hari, tetapi efektivitasnya bergantung pada pemilahan dan operasional.

  3. Dalam laporan lapangan Januari 2026, pengangkutan awal disebut mencapai sekitar 450 ton, dengan sisa timbunan diperkirakan sekitar 1.300 ton.

  4. Timbulan harian di pasar induk disebut bisa 120 ton sampai 150 ton per hari, sehingga target bersih 5 hari harus mengejar timbunan lama sambil menahan “arus sampah baru”.

Dampaknya ke Harga Pangan dan Kesehatan Kota

Apa artinya untuk Indonesia, secara konkret?

Pertama, Pasar Induk Kramat Jati bukan pasar eceran biasa. Ia titik temu pasokan dari banyak daerah. Ketika lingkungan pasar terganggu, dampak terdekat biasanya terasa di dua sisi: kualitas komoditas dan biaya transaksi. Pedagang bisa mempercepat sortir, membuang lebih banyak barang yang rusak karena bau dan hama, atau menambah biaya untuk menjaga kebersihan lapak. Biaya-biaya kecil itu sering berakhir sebagai kenaikan harga di rantai berikutnya, terutama untuk komoditas yang mudah rusak.

Kedua, persoalan sampah organik adalah persoalan kesehatan publik. Tumpukan sampah mempercepat datangnya lalat, tikus, dan potensi penyebaran penyakit. Lindi bisa mengalir ke saluran, menurunkan kualitas lingkungan permukiman sekitar. Dalam konteks Jakarta, sistem persampahan juga bertumpu pada pembuangan akhir ke TPST Bantargebang, sehingga ketika ritme angkut dari simpul besar seperti pasar tersendat, tekanan ke sistem kota ikut naik.

Ketiga, dampak reputasi. Pasar induk yang dicap kotor, bau, dan semrawut akan memukul kepercayaan pembeli, termasuk pelaku usaha kuliner dan distributor. Dalam beberapa liputan, keluhan pedagang soal kondisi pasar ikut muncul, menggambarkan bahwa masalah ini mempengaruhi aktivitas ekonomi harian, bukan sekadar isu kebersihan.

Ini yang berubah, dan ini yang perlu dicermati. Dengan target 5 hari, DLH mengirim sinyal bahwa penanganan darurat sedang berjalan dan akan dikejar dengan ritme lebih kencang. Tetapi setelah timbunan lama diangkat, pertanyaan kuncinya bergeser: apakah sistem pencegahan penumpukan akan dipertebal, atau pasar akan kembali ke pola lama, menunggu sampai krisis berikutnya memaksa operasi besar lagi?

Setelah Truk Terakhir: PR yang Tidak Bisa Ditunda

Target 5 hari terdengar menenangkan, tetapi target selalu punya syarat. Syaratnya sederhana di atas kertas, sulit di lapangan: sampah baru harus dikelola di sumber, pemilahan harus lebih rapi, fasilitas TPS 3R harus berjalan stabil, dan pengelola pasar wajib mengunci standar operasional yang tidak bergantung pada “musim razia”.

Dalam beberapa pemberitaan, Pemprov DKI dan pihak pengelola pasar disebut ikut terseret dalam evaluasi. Benang merahnya jelas: urusan sampah di pasar induk adalah urusan kolaboratif. Pemerintah daerah bisa menambah armada, tetapi pengelola kawasan tetap memegang kunci ketertiban internal, dari jam buang, titik kumpul, sampai sanksi pelanggaran.

Satu hal lagi yang perlu jujur: publik masih menunggu ukuran keberhasilan yang bisa dicek. Bukan hanya “sudah bersih”, melainkan indikator yang terukur, misalnya target tonase harian yang diangkut, kapasitas olah yang benar-benar terpakai di TPS 3R, dan penurunan keluhan warga sekitar dalam periode tertentu. Tanpa indikator itu, klaim perbaikan akan mudah menguap begitu sorotan pindah.

Jika ritme pengangkutan berjalan konsisten dan tata kelola internal diperketat, 5 hari bisa menjadi titik balik. Kalau tidak, Pasar Kramat Jati berisiko kembali menjadi cerita berulang: menumpuk, dikeluhkan, dikejar bersih, lalu pelan-pelan menumpuk lagi.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

BantargebangDLH DKIJakarta Timurkebersihan pasarPasar Induk Kramat JatiPasar JayaPasar Kramat Jatisampah
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Pembangunan JPO Sarinah
Previous

JPO Sarinah Balik Lagi, Warga Bilang Lebih Tenang Menyeberang, Ini Alasannya

PusatFocus - Grok AI
Next

Inggris Ancam Blokir X Gara-gara Grok AI, Elon Musk Membalas Tajam

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.