Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

Trump Tidak Senang Dengan Serangan Israel Ke Depot Minyak Iran
Internasional

Depot Minyak Iran Diserang, Trump Dikabarkan Tak Senang

By Agung Leonardo
March 9, 2026 6 Min Read

Menurut laporan Axios, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tidak senang dengan serangan Israel ke Depot Minyak Iran yang memicu kebakaran besar di Teheran. Laporan itu terbit setelah Israel mengakui menyerang sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar, sementara Associated Press melaporkan otoritas Iran menyebut sedikitnya empat orang tewas dalam serangan ke depot minyak dan terminal transfer petroleum.

Perkembangan ini penting sekarang karena serangan ke Depot Minyak Iran langsung mengguncang pasar energi. Reuters melaporkan harga minyak melonjak 25 persen pada Senin, 9 Maret 2026, dan negara-negara G7 bersiap membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat. Untuk publik, dampak tercepatnya adalah risiko kenaikan harga energi, ongkos logistik, dan tekanan inflasi.

Ada detail penting yang terlihat dari pernyataan resmi IDF, Kementerian Luar Negeri Iran, peringatan perjalanan pemerintah AS, dan agenda darurat negara-negara importir energi. Sampai artikel ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih yang secara terbuka membenarkan laporan bahwa Trump tidak senang atas serangan Israel ke Depot Minyak Iran.

Indeks Berita

Toggle
  • Trump, Israel, dan Depot Minyak Iran
  • Shahran, Karaj, dan 4 Korban Awal
    • Wajib Tahu:
  • IDF, Teheran, dan Sinyal Gedung Putih
  • Harga Minyak Melonjak, G7 Siaga

Trump, Israel, dan Depot Minyak Iran

Poros utama berita ini ada pada dua lapis fakta. Pertama, Israel memang mengaku menyerang fasilitas bahan bakar di Teheran. Kedua, menurut laporan Axios yang mengutip pejabat AS, pejabat Israel, dan sumber yang mengetahui pembicaraan itu, Washington kecewa karena skala serangan dinilai melampaui ekspektasi awal.

Axios menulis serangan Israel pada Sabtu, 7 Maret 2026, menghantam sekitar 30 depot bahan bakar di Iran. Dalam laporan yang sama, seorang pejabat senior AS dikutip berkata, “We don’t think it was a good idea,” sementara seorang penasihat Trump mengatakan presiden tidak menyukai serangan itu karena berisiko mengerek harga energi. Namun, karena klaim ini belum muncul dalam rilis resmi Gedung Putih, statusnya tetap “menurut laporan”.

Pernyataan resmi yang tersedia justru datang dari pihak militer Israel. Dalam pembaruan operasi pada Minggu dini hari, 8 Maret 2026, IDF menyatakan, “The IDF struck several fuel storage complexes used by the military forces of the Iranian terrorist regime in Tehran.” IDF menegaskan fasilitas itu dipakai militer Iran untuk menjalankan infrastruktur militernya.

Serangan ini menambah eskalasi dalam perang yang, menurut dokumen resmi Gedung Putih, dimulai lewat peluncuran Operation Epic Fury pada 1 Maret 2026. Artinya, isu Depot Minyak Iran tidak berdiri sendiri, melainkan masuk dalam fase konflik yang makin menyentuh infrastruktur energi dan kini menekan pasar global.

Shahran, Karaj, dan 4 Korban Awal

Lokasi serangan yang paling jelas terverifikasi ada di Teheran. Foto Reuters dan video AP menunjukkan asap tebal dari kawasan depot bahan bakar Shahran di Teheran. Associated Press juga menulis bahwa otoritas Iran melaporkan serangan Israel menghantam depot minyak di Teheran dan sebuah terminal transfer petroleum pada Minggu dini hari.

Untuk rincian target yang lebih spesifik, datanya belum sepenuhnya seragam. IDF hanya menyebut “several fuel storage complexes” di Teheran. Al Jazeera, yang mengutip laporan Fars, menyebut empat fasilitas penyimpanan minyak dan satu pusat transfer produksi minyak di Teheran dan Provinsi Alborz, termasuk Shahran di Teheran barat dan sebuah depot di Karaj. Karena belum ada daftar target resmi yang lebih rinci dari Israel atau Iran di sumber terbuka yang saya telusuri, formulasi yang paling aman adalah beberapa fasilitas bahan bakar di Teheran dan Alborz.

Jumlah korban juga masih perlu dibaca hati-hati. AP melaporkan otoritas Iran menyebut empat orang tewas. Al Jazeera juga memuat angka empat korban tewas. Namun The Guardian melaporkan enam kematian dan sedikitnya 20 luka. Karena belum ada rekap resmi final yang konsisten di sumber primer terbuka, angka empat korban saya pakai sebagai rujukan awal yang paling konsisten di AP dan laporan lain yang mengutip otoritas Iran.

Serangan ke Depot Minyak Iran juga memunculkan bahaya lanjutan untuk warga sipil. Financial Times melaporkan warga Teheran diperingatkan soal risiko hujan asam setelah kebakaran di fasilitas penyimpanan minyak. Peringatan itu selaras dengan laporan media lain yang mengutip peringatan Palang Merah Iran mengenai paparan hidrokarbon, sulfur oksida, dan nitrogen oksida di udara.

Wajib Tahu:

Pertama, serangan ke Depot Minyak Iran pada akhir pekan ini adalah salah satu momen pertama ketika fasilitas energi sipil ikut menjadi sasaran terbuka dalam fase perang saat ini. AP menyebut ini tampak sebagai pertama kalinya fasilitas industri sipil menjadi target dalam konflik yang sedang berjalan.

Kedua, IDF mengakui serangan itu dan menyebut fasilitas bahan bakar tersebut dipakai militer Iran. Iran membantah narasi itu dan menuding serangan tersebut membahayakan warga sipil serta lingkungan.

Ketiga, sampai Senin, 9 Maret 2026, belum ada pernyataan resmi Gedung Putih yang mengonfirmasi bahwa Trump marah atau kecewa. Yang ada baru laporan Axios berbasis sumber anonim dan belum dibenarkan secara terbuka oleh pemerintah AS.

Keempat, dampaknya sudah lintas negara. Pemerintah AS pada 8 Maret 2026 memerintahkan staf non-darurat pemerintah AS dan keluarganya meninggalkan Arab Saudi karena risiko keamanan, menandakan eskalasi sudah dibaca sebagai ancaman regional.

IDF, Teheran, dan Sinyal Gedung Putih

Respons resmi dari pihak terkait bergerak ke arah yang saling bertolak belakang. IDF membenarkan serangan dan menyebutnya langkah untuk memperdalam kerusakan terhadap infrastruktur militer Iran. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh serangan ke Depot Minyak Iran sebagai ancaman langsung terhadap warga sipil.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menulis, “These attacks on fuel storage facilities amount to nothing less than intentional chemical warfare against the Iranian citizens.” Ia juga menuding akibat lingkungan dari kebakaran itu tidak akan berhenti di dalam wilayah Iran.

Dari sisi hukum internasional, para pakar HAM PBB meminta de-eskalasi. Dalam pernyataan resmi OHCHR, mereka menyebut, “We cannot pick and choose when international law applies.” Mereka menilai intervensi militer yang melanggar hukum tidak bisa dijadikan solusi.

Sinyal dari Washington justru bercabang. Secara privat, menurut laporan Axios, Gedung Putih keberatan pada skala serangan Israel. Secara terbuka, pejabat AS justru mencoba menenangkan pasar. Reuters melaporkan Trump berusaha meremehkan lonjakan harga bensin, sedangkan Energy Secretary Chris Wright mengatakan AS tidak berencana menyerang sektor energi Iran. Itu berarti ada jarak antara laporan mengenai ketidaksenangan Trump dan pesan resmi AS di depan publik.

Ini yang perlu dicermati: perbedaan antara pesan privat dan pesan publik bisa memengaruhi pembacaan pasar. Jika Washington benar-benar ingin menahan serangan ke infrastruktur energi, tetapi Israel tetap memperluas target, maka ruang koordinasi AS dan Israel akan menjadi isu baru di tengah eskalasi militer yang belum reda. Sampai saat ini, belum ada penjelasan resmi Gedung Putih yang merinci apakah ada keberatan formal yang telah disampaikan ke pemerintah Israel.

Harga Minyak Melonjak, G7 Siaga

Dampak paling cepat dari serangan ke Depot Minyak Iran sudah terlihat di pasar. Reuters melaporkan minyak melonjak 25 persen, Brent berada di jalur kenaikan satu hari terbesar, dan G7 akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan darurat. AP juga mencatat harga sempat mendekati US$120 per barel pada Senin pagi sebelum turun lagi.

Reuters juga mencatat pemerintah di Asia mulai menyiapkan langkah penahan dampak. Korea Selatan memutuskan membatasi harga bahan bakar untuk pertama kali dalam hampir 30 tahun. Jepang menyiapkan kemungkinan pelepasan cadangan minyak. Vietnam memotong tarif impor bahan bakar. Ini menunjukkan dampak isu Depot Minyak Iran sudah menjalar dari medan tempur ke kebijakan ekonomi.

Apa artinya atau dampaknya bagi audiens. Jika serangan terhadap Depot Minyak Iran berlanjut dan Iran membalas ke fasilitas energi kawasan, risiko yang paling konkret adalah harga BBM lebih tinggi, biaya pengiriman naik, tiket penerbangan terdorong, dan tekanan inflasi makin berat. Iran sendiri sudah mengirim peringatan, lewat pernyataan militer yang dikutip Xinhua dan Anadolu, bahwa serangan lanjutan bisa dibalas dengan langkah serupa di kawasan dan harga minyak dapat menembus US$200 per barel.

Ini yang berubah: semula fokus perang ada pada sasaran militer, rudal, dan komando. Kini sasaran energi masuk ke garis depan. Begitu fasilitas bahan bakar ikut dihantam, reaksi pasar menjadi jauh lebih cepat karena investor langsung membaca potensi gangguan pasokan dan ancaman ke Selat Hormuz. Reuters menulis penutupan efektif Selat Hormuz, pemotongan produksi oleh Kuwait dan Irak, serta ketidakpastian balasan Iran memperbesar kekhawatiran itu.

Sejauh ini, fakta yang paling kuat adalah ini: Israel mengakui menyerang fasilitas bahan bakar di Teheran, Iran mengecam keras, pasar energi langsung melonjak, dan laporan bahwa Trump tidak senang masih belum dikonfirmasi resmi oleh Gedung Putih. Dalam situasi seperti ini, arah konflik berikutnya akan sangat ditentukan oleh dua hal, apakah serangan ke fasilitas energi berlanjut, dan apakah Washington memilih menahan atau membiarkan eskalasi itu berkembang.

Tags:

Depot Minyak IranDonald TrumpG7Harga MinyakIDFIranIsraelTeheran
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
IHSG Runtuh Ke Level 7.337
Previous

IHSG Runtuh 3,27 Persen ke 7.337, Tekanan Jual dan Risiko Global Membesar

Eropa Impor Senjata Besar Besaran
Next

Impor Senjata Eropa Melonjak 210 Persen, Rusia Jadi Faktor Utama

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.