Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

Puasa Sembuhkan GERD
Kesehatan

Puasa Sembuhkan GERD? Cek Fakta Resmi dan Hasil Studi

By Agung Leonardo
March 4, 2026 4 Min Read

Jakarta, 04 Maret 2026. Klaim “Puasa Sembuhkan GERD” kembali dibahas saat Ramadan 1447 H masih berjalan.

Isunya penting karena pola makan berubah drastis: dari rutin sepanjang hari menjadi terpusat saat sahur dan berbuka. Perubahan ini bisa mengubah pola keluhan refluks pada sebagian orang.

Riset pada sumber resmi kesehatan menunjukkan tidak ada pernyataan pedoman utama yang menyebut puasa sebagai terapi yang “menyembuhkan” GERD. Rekomendasi yang berulang adalah modifikasi gaya hidup dan obat penekan asam, bila diperlukan.

Konsekuensi terdekat untuk publik: pasien yang mengubah jam makan dan jam obat tanpa arahan berisiko keluhan kambuh, terutama bila makan besar mendekati waktu tidur.

Satu fakta kunci yang sering terlewat: beban GERD global pada 2021 diperkirakan mencapai 825,60 juta kasus. Angkanya naik dibanding 1990.

Ada detail penting yang terlihat dari dokumen dan laman resmi: yang diuji penelitian umumnya “gejala jangka pendek”, bukan bukti “sembuh permanen”.

Indeks Berita

Toggle
  • Klaim “Puasa Sembuhkan GERD” mencuat di Ramadan 1447 H
  • Data beban GERD dunia dan catatan pedoman ACG
    • Wajib Tahu:
  • Studi Ramadan dan time-restricted eating: hasilnya tidak seragam
  • Panduan aman versi NHS dan Kemenkes saat sahur-buka

Klaim “Puasa Sembuhkan GERD” mencuat di Ramadan 1447 H

Ramadan 1447 H di Indonesia ditetapkan mulai Kamis, 19 Februari 2026, setelah sidang isbat.

Menteri Agama Nasaruddin Umar, dikutip dalam publikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), menyatakan: “disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026,”.

Di fase ini, klaim “Puasa Sembuhkan GERD” ikut naik ke ruang publik, terutama dalam format tips kesehatan dan diskusi pola makan sahur-buka. Namun, sampai hari ini, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas kesehatan besar yang menyatakan puasa adalah metode yang dapat menyembuhkan GERD secara tuntas.

Kementerian Kesehatan RI memang memuat narasi manfaat puasa untuk lambung, tetapi konteksnya adalah pengelolaan kondisi, bukan klaim “sembuh” untuk GERD. Salah satu kalimat yang sering dikutip berbunyi: “puasa dapat meringankan sekresi asam lambung”.

Di titik ini, kata “sembuhkan” menjadi kunci masalah. GERD adalah penyakit yang bisa berulang, dan standar tata laksana dalam pedoman internasional tidak menempatkan puasa sebagai terapi tunggal.

Data beban GERD dunia dan catatan pedoman ACG

Beban GERD meningkat secara global. Analisis berbasis Global Burden of Disease (GBD) 2021 melaporkan prevalensi GERD global naik dari 450,76 juta kasus (1990) menjadi 825,60 juta kasus (2021).

Lonjakan jumlah kasus ini menjelaskan kenapa isu GERD sensitif terhadap perubahan kebiasaan makan, termasuk saat Ramadan. Pada sebagian orang, perubahan jam makan dapat memengaruhi keluhan, tetapi itu berbeda dari “menyembuhkan penyakitnya”.

Pedoman American College of Gastroenterology (ACG) menempatkan GERD sebagai kondisi klinis dengan spektrum gejala dan komplikasi. Dokumen yang sama memuat rekomendasi umum seperti penurunan berat badan pada pasien overweight, meninggikan kepala saat tidur, serta menghindari makan larut dan camilan menjelang tidur.

ACG juga menegaskan dasar bukti untuk sejumlah modifikasi gaya hidup tidak selalu kuat karena banyak studi kecil dan tidak terkontrol. Ini yang membuat klaim tunggal seperti “Puasa Sembuhkan GERD” mudah melompat jauh dari data.

Wajib Tahu:

  • Prevalensi GERD global pada 2021: 825,60 juta kasus (berbasis GBD 2021).

  • NIDDK (NIH) mencantumkan opsi terapi: perubahan gaya hidup, obat, sampai tindakan, tergantung respons pasien.

  • NIDDK menyebut contoh elevasi kepala saat tidur setinggi 6 sampai 8 inci (sekitar 15 sampai 20 cm) sebagai salah satu strategi.

  • NHS menyarankan tidak makan dalam 3 sampai 4 jam sebelum tidur untuk mengurangi keluhan refluks.

  • Riset time-restricted eating 16 jam puasa dan 8 jam jendela makan menurunkan skor gejala, tetapi bukti penurunan paparan asam dinilai lemah.

Studi Ramadan dan time-restricted eating: hasilnya tidak seragam

Sejumlah studi memang menilai hubungan puasa dengan gejala GERD, terutama pada Ramadan. Hasilnya tidak tunggal.

Studi kohort yang dipublikasikan di Cureus (2023) menyimpulkan puasa Ramadan “may improve GERD symptoms”, tetapi juga menekankan perlunya studi lanjutan untuk memvalidasi dan memahami mekanisme.

Di sisi lain, penelitian tindak lanjut tiga bulan pada 69 pasien yang membandingkan kelompok berpuasa dan tidak berpuasa melaporkan tidak ada perbedaan bermakna perubahan skor gejala antara dua kelompok. Kesimpulannya menyebut puasa Ramadan tidak berpengaruh pada gejala pada pasien yang menggunakan obat antisecretory selama bulan itu.

Ada juga riset time-restricted eating di luar konteks Ramadan. Studi yang dipublikasikan di Journal of Clinical Gastroenterology (2023) memakai pemantauan pH nirkabel 96 jam, lalu mengubah pola makan menjadi 16 jam puasa dan 8 jam jendela makan pada dua hari terakhir. Skor gejala (heartburn dan regurgitasi) turun, tetapi penurunan paparan asam dinilai memiliki bukti statistik yang lemah.

Perbedaan temuan ini penting dicatat karena desain, populasi, dan kondisi terapi berbeda. Ada studi yang menilai pasien sambil tetap minum obat penekan asam, ada yang menilai pasien off PPI untuk pemeriksaan pH, dan durasi intervensinya pun pendek.

Ini yang perlu dicermati: mayoritas riset yang sering dikutip publik mengukur “gejala selama Ramadan” atau “gejala beberapa hari”, bukan penilaian kesembuhan klinis jangka panjang, apalagi pembuktian hilangnya komplikasi.

Panduan aman versi NHS dan Kemenkes saat sahur-buka

Otoritas kesehatan tidak menempatkan “puasa” sebagai obat penyembuh GERD, tetapi memberi rambu untuk mengendalikan gejala melalui kebiasaan makan, posisi tubuh, dan obat.

NHS memasukkan anjuran praktis yang relevan dengan pola sahur-buka, seperti tidak makan dalam 3 sampai 4 jam sebelum tidur.

NIDDK (NIH) menulis bahwa dokter dapat merekomendasikan perubahan kebiasaan makan, termasuk makan 2 sampai 3 jam sebelum berbaring, dan menyesuaikan terapi obat.

Di Indonesia, kanal Kemenkes juga memuat tips puasa untuk kondisi lambung. UPK Kemenkes mengingatkan perubahan jadwal obat saat puasa bisa memengaruhi efek terapi dan menekankan kehati-hatian, termasuk anjuran konsultasi.

UPK Kemenkes juga memuat contoh pengaturan minum obat selama puasa (berdasarkan frekuensi harian) serta catatan bahwa penyesuaian sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau apoteker.

Apa artinya atau dampaknya bagi publik: klaim “Puasa Sembuhkan GERD” berisiko membuat sebagian orang menghentikan obat sendiri atau “balas dendam” makan saat berbuka, padahal pedoman resmi justru mengarahkan pengendalian pemicu, jarak makan dengan tidur, dan kepatuhan terapi bila diresepkan.

Berikutnya, kebutuhan yang paling mendesak adalah literasi istilah. “Gejala membaik saat puasa” tidak otomatis sama dengan “GERD sembuh”. Penelitian yang ada juga menyebut perlunya studi lanjutan sebelum klaim dibuat tegas.

Tags:

asam lambungGERDKemenkesNIHPPIpuasaRamadan 2026refluks asam
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
Mirae Sekuritas
Previous

Mirae Sekuritas Buka Suara Usai Kantornya Digeledah Bareskrim-OJK

Wisata Air Terjun Tumpak Sewu
Next

Tumpak Sewu Buka Penuh dengan Tiket Rp20.000 dan Akses Baru 2026

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.