Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Kapal Perang Raksasa Trump
InternasionalMiliter

Kontroversial! Trump Umumkan Kapal Perang Raksasa “Trump Class”, Pakar Menyentil: Ketinggalan Zaman dan Rawan Jadi Proyek Bakar Uang

By Agung Leonardo
December 27, 2025 5 Min Read

PusatFocus – Di panggung Mar-a-Lago, Florida, Donald Trump menekan tombol yang langsung memantik perdebatan panjang. Bukan soal kampanye, bukan soal pajak, melainkan soal kapal. Trump mengumumkan rencana membangun kapal baru yang ia sebut “battleship” modern, diberi label Kapal Perang Raksasa “Trump class”, dan menjadi tulang punggung armada yang ia namai “Golden Fleet”.

Pernyataannya terdengar seperti poster film perang: kapal-kapal itu, kata Trump, akan menjadi yang “paling cepat, paling besar, dan 100 kali lebih kuat” dari battleship mana pun yang pernah dibangun. Ia juga mengaku akan ikut terlibat dalam desain, bahkan menyinggung aspek estetika kapal perang AS yang menurutnya selama ini tidak memuaskan.

Namun, tepat ketika publik membayangkan kemegahan baja raksasa di lautan, para analis pertahanan menahan napas. Bukan karena kagum, melainkan karena déjà vu. Dalam beberapa tahun terakhir, Angkatan Laut AS sudah berulang kali tergelincir pada proyek kapal baru yang telat, mahal, dan akhirnya dipangkas. Maka, saat istilah “battleship” kembali dihidupkan, kritik pun muncul: apakah ini lompatan strategis, atau romantisme masa lalu yang dibungkus teknologi?

Di tengah kekhawatiran itu, satu hal jelas: narasi Kapal Perang Raksasa ini bukan sekadar headline, tetapi pertarungan ide tentang masa depan perang laut, industri galangan, dan efektivitas belanja pertahanan.

Indeks Berita

Toggle
  • Rencana Trump dan “Golden Fleet” yang Menggegerkan
  • Kenapa Pakar Menyebutnya Ketinggalan Zaman
    • Wajib Tahu:
  • Biaya, Teknologi, dan Masalah Galangan yang Menghantui
  • Analisis peluang: simbol kekuatan atau boomerang anggaran?

Rencana Trump dan “Golden Fleet” yang Menggegerkan

Menurut Reuters, program “Trump class” dimulai dengan dua kapal, dengan target berkembang menjadi 20 sampai 25 kapal. Kapal pertama disebut akan bernama USS Defiant. Trump menyebut bobotnya lebih dari 30.000 ton dan akan dijejali teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan serta senjata energi terarah (directed energy lasers).

Associated Press menambahkan detail: lewat situs yang dibuat untuk “Golden Fleet”, kapal ini disebut sebagai “guided missile battleship” dengan bobot sekitar 35.000 ton dan kru jauh lebih kecil, berkisar 650 sampai 850 personel. Senjata utamanya juga bukan meriam raksasa seperti kapal era Perang Dunia II, melainkan rudal.

DefenseScoop, mengutip rilis dan spesifikasi yang dipublikasikan, menyebut kapal ini diproyeksikan punya kecepatan 30+ knot, panjang sekitar 840–880 kaki, dan membawa campuran senjata, mulai dari sel peluncur rudal hingga laser berdaya tinggi. Di atas kertas, konsepnya ingin menjadi kapal komando sekaligus “pemukul” jarak jauh.

Di luar soal kapal, Trump juga menyisipkan pesan yang tidak kalah keras: ia mengaku akan menekan kontraktor pertahanan soal keterlambatan dan pembengkakan biaya, termasuk mengkaji pembatasan kompensasi eksekutif dan kebijakan buyback atau dividen pada perusahaan yang proyeknya over-budget dan terlambat.

Dengan kata lain, rencana Kapal Perang Raksasa ini dipasang sebagai simbol kebesaran armada, sekaligus alat tekan ke industri pertahanan yang selama ini sering jadi sorotan karena proyek-proyek mahal yang tidak tepat waktu.

Kenapa Pakar Menyebutnya Ketinggalan Zaman

Istilah “battleship” sendiri langsung mengundang perbandingan historis. AP mengingatkan, secara tradisional battleship adalah kapal besar berlapis baja dengan meriam raksasa, yang kejayaannya meredup setelah Perang Dunia II seiring dominasi kapal induk dan rudal jarak jauh. AS sempat memodernisasi Iowa-class pada era 1980-an dengan rudal, namun seluruhnya akhirnya dipensiunkan pada 1990-an.

Masalahnya bukan sekadar nostalgia. Kritik utama para pakar adalah “bahasa desain” yang terasa tidak selaras dengan perang modern. Kapal permukaan besar adalah target yang mahal, sementara ancaman hari ini justru makin murah dan makin banyak: rudal anti-kapal jarak jauh, drone, dan serangan saturasi yang bisa menguji pertahanan kapal paling canggih sekalipun.

DefenseScoop menekankan tantangan praktis: banyak sistem yang disebut akan dibawa kapal ini masih dalam pengembangan, sementara sebagian lain pernah ditinggalkan. Kekhawatiran paling sering muncul pada kata “railgun”. AP mencatat Angkatan Laut AS menghabiskan ratusan juta dolar dan lebih dari 15 tahun mencoba menghadirkan railgun di kapal, sebelum akhirnya menghentikan proyek tersebut pada 2021.

Di sisi lain, laser memang sudah mulai dipasang pada kapal, tetapi penggunaannya masih terbatas. AP menyebut salah satu sistem laser yang ditujukan untuk mengganggu sensor drone kini ada di delapan destroyer setelah proses pengembangan bertahun-tahun. Artinya, teknologi ini nyata, tetapi belum berada pada titik “jawaban tunggal” untuk pertahanan kapal raksasa.

Poin kritik lain menyangkut muatan nuklir. Reuters menulis Menteri Angkatan Laut AS John Phelan menyebut kapal tersebut akan membawa rudal jelajah nuklir yang diluncurkan dari laut. AP mengingatkan, pengembangan atau penempatan kemampuan rudal jelajah nuklir di kapal dapat berbenturan dengan perjanjian non-proliferasi tertentu yang pernah ditandatangani AS dengan Rusia.

Responsible Statecraft bahkan lebih tajam: mereka menilai rencana ini berpotensi mengulang sejarah kegagalan program kapal permukaan modern abad ini, mulai dari Zumwalt, Littoral Combat Ship, hingga program frigate yang disebut baru dibatalkan, dan mengingatkan bahwa “kapal penuh gadget” sering kali justru menjadi monster perawatan.

Wajib Tahu:

  1. Kapal ini belum akan dibangun dalam waktu dekat. The War Zone melaporkan pejabat AL AS menyebut desain berjalan, tetapi konstruksi baru direncanakan mulai awal 2030-an, dan detail biaya akan muncul di dokumen anggaran tahun fiskal mendatang.

  2. Istilah “battleship” di era modern lebih politis ketimbang teknis. AP menyebut kapal ini senjata utamanya rudal, bukan meriam besar, sehingga konsepnya berbeda dari battleship klasik.

  3. Kunci kritiknya bukan “besar itu salah”, tetapi “besar itu mahal dan rawan”. Para analis mempertanyakan apakah kapal permukaan raksasa justru menambah titik lemah ketika ancaman drone dan rudal makin masif.

Biaya, Teknologi, dan Masalah Galangan yang Menghantui

Setiap diskusi soal Kapal Perang Raksasa pada akhirnya akan kembali ke dua kata: biaya dan kapasitas.

DefenseScoop mengutip perkiraan analis Bryan Clark yang menilai biaya per kapal bisa di atas US$10 miliar mengingat ukurannya beberapa kali lipat destroyer modern dan kompleksitas sistemnya.
Responsible Statecraft juga memprediksi skenario pahit: belanja puluhan miliar dolar, lalu program berisiko berakhir hanya menghasilkan beberapa kapal yang “troublesome” sebelum akhirnya ditinggalkan.

Di belakang layar, ada persoalan yang lebih struktural: kemampuan AS membangun kapal perang tepat waktu. Business Insider merangkum laporan CSIS bahwa masalah shipbuilding AS bersifat kronis, mulai dari keterlambatan, pembengkakan biaya, perubahan desain di tengah jalan, hingga sinyal permintaan pemerintah yang tidak konsisten sehingga industri sulit merencanakan kapasitas. Laporan itu juga menyinggung beberapa program kapal yang bermasalah dan dibatalkan, serta tekanan kompetisi dari China yang membangun armada dengan cepat.

Kondisi ini membuat rencana Trump terdengar seperti dua proyek sekaligus: membangun kapal baru dan membenahi ekosistem galangan yang sudah lama bermasalah. Bila salah satu gagal, kapal raksasa yang dijanjikan bisa berubah jadi sekadar render indah di presentasi.

Analisis peluang: simbol kekuatan atau boomerang anggaran?

Bagi Trump, Kapal Perang Raksasa “Trump class” tampak dibingkai sebagai simbol nasional dan pesan psikologis untuk rival. Reuters menulis ia menyebut armada ini bagian dari upaya menegaskan dominasi maritim AS.
DefenseScoop juga mencatat narasi “prestise” yang dihubungkan dengan armada masa lalu, seolah kapal besar adalah ikon wibawa negara.

Tetapi bagi pakar, pertanyaannya lebih tajam: apakah simbol ini menghasilkan efek tempur yang sepadan dengan biayanya?
AP menampilkan contoh nyata betapa sulitnya menghadirkan teknologi yang disebut Trump, dari railgun yang berhenti, hingga laser yang masih punya keterbatasan operasional.

Ada pula faktor waktu. The War Zone menyebut konstruksi diproyeksikan awal 2030-an. Dalam perang teknologi, delapan sampai sepuluh tahun adalah selamanya. Ancaman pada 2030-an bukan ancaman hari ini. Jika desain dan anggaran sudah “dikunci” terlalu cepat, kapal ini berpotensi lahir dalam kondisi medan tempur sudah berubah.

Maka, kritik “ketinggalan zaman” bukan semata ejekan. Ia adalah kekhawatiran strategis: kapal besar membutuhkan waktu lama untuk diwujudkan, tetapi perubahan teknologi berjalan lebih cepat dari jadwal galangan.

Kesimpulannya, kontroversi Kapal Perang Raksasa Trump class sebenarnya mencerminkan pertanyaan besar yang sedang dihadapi banyak negara: apakah masa depan perang laut ditentukan oleh platform raksasa yang sarat senjata, atau jaringan kekuatan yang lebih tersebar, lebih lincah, dan lebih murah?

Trump sudah memilih jawabannya di atas panggung. Para pakar memilih menjawabnya dengan keraguan, dan daftar panjang alasan teknis. Dan publik kini menunggu bab berikutnya: apakah “Golden Fleet” akan benar-benar lahir, atau tenggelam duluan oleh realitas anggaran, teknologi, dan galangan.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

Angkatan Laut ASGolden FleethypersonicKapal Perang Raksasalaser weaponshipbuildingSLCM-NTrump Class
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Transaksi Judol Turun 2025
Previous

Transaksi Judol Turun 57% Kata Komdigi, Tapi Warganet Bilang Ini “Efek Perang Thailand-Kamboja”, Mana yang Benar?

PusatFocus - Rekor Emas dan Perak
Next

Rekor Emas Pecah Lagi! Harga Tembus Level Tertinggi Sepanjang Masa, Perak Ikut “Ngamuk” hingga Sentuh US$78, Ini Prediksi Lanjutannya

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.