Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - China kecam AS
Internasional

China Kecam AS Keras: Penjualan Senjata Jumbo ke Taiwan Dinilai “Mempercepat Ancaman Perang”

By Agung Leonardo
December 26, 2025 5 Min Read

PusatFocus – Nada keras Beijing kembali mengemuka di penghujung tahun. Kali ini pemicunya bukan latihan militer atau manuver kapal perang, melainkan keputusan Washington yang membuka keran penjualan senjata besar-besaran ke Taiwan. Di hadapan wartawan pada Kamis, 25 Desember 2025, juru bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang menyebut langkah Amerika Serikat “mempercepat” ancaman perang di Selat Taiwan.

Pernyataan itu muncul setelah Amerika mengumumkan paket penjualan senjata bernilai sekitar US$11,1 miliar untuk Taiwan, yang disebut sebagai paket terbesar yang pernah ditawarkan Washington kepada pulau tersebut. Di atas kertas, prosesnya masih di tahap notifikasi ke Kongres, artinya belum final sepenuhnya. Namun di arena diplomatik, efeknya sudah telanjur nyata: China kecam AS dan menuntut penghentian penjualan senjata, sementara Washington menegaskan dukungan pada kemampuan pertahanan Taiwan.

Bagi pembaca Indonesia, isu ini bukan sekadar konflik jauh. Selat Taiwan adalah salah satu jalur ekonomi dan logistik penting di Asia. Setiap eskalasi berarti risiko yang bisa merembet ke harga komoditas, rantai pasok, hingga stabilitas kawasan.

Indeks Berita

Toggle
  • Isi Paket Senjata US$11,1 Miliar: Apa Saja yang Dijual AS ke Taiwan?
  • China Kecam AS: “Mempercepat Ancaman Perang” dan Sinyal Balasan Beijing
    • Wajib Tahu:
  • Sikap Washington dan Taipei: “Credible Defensive Capability” serta Asimetri
  • Apakah Ini Memicu Perang Lebih Cepat? Faktor Penentu Eskalasi di Selat Taiwan

Isi Paket Senjata US$11,1 Miliar: Apa Saja yang Dijual AS ke Taiwan?

Yang membuat isu ini meledak bukan hanya karena Taiwan membeli senjata, tetapi karena skala dan daftar sistemnya. Reuters melaporkan paket tersebut mencakup delapan item, mulai dari sistem roket artileri bergerak hingga rudal anti-tank dan drone munisi jelajah.

Sumber resmi pemerintah AS, Defense Security Cooperation Agency (DSCA), merinci beberapa komponen besar yang dinotifikasi pada 17 Desember 2025. Dari dokumen DSCA, salah satu porsi terbesar adalah sistem roket HIMARS senilai estimasi US$4,05 miliar, yang mencakup 82 unit peluncur M142 HIMARS, ratusan ATACMS, serta ratusan pod roket berpemandu GMLRS.

DSCA juga menyebut penjualan 60 unit howitzer swagerak M109A7 senilai estimasi US$4,03 miliar, lengkap dengan kendaraan amunisi, kendaraan pemulihan, kit pemandu presisi, hingga sistem data taktis artileri.

Pada paket lain, DSCA menuliskan penjualan sistem rudal anti-tank Javelin senilai estimasi US$375 juta, termasuk 1.050 rudal Javelin FGM-148F serta unit peluncur. Ada pula paket Tactical Mission Network (TMN) senilai estimasi US$1,01 miliar yang memuat perangkat lunak, komunikasi, dan juga disebut mencakup unmanned aerial systems dalam daftar item non-MDE.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Washington sedang membantu Taipei membangun kombinasi senjata jarak jauh, artileri modern, anti-armor, dan jaringan komunikasi yang lebih terintegrasi. Dari sudut pandang strategi, ini selaras dengan dorongan AS agar Taiwan memperkuat “asymmetric warfare”, yakni pertahanan yang menekankan sistem mobile, presisi, dan relatif lebih sulit dilumpuhkan sekaligus.

China Kecam AS: “Mempercepat Ancaman Perang” dan Sinyal Balasan Beijing

Di sinilah frasa China Kecam AS menjadi tajuk utama. China menilai penjualan senjata itu bukan hanya transaksi dagang, melainkan tindakan politik yang menyentuh isu paling sensitif: Taiwan.

Menurut laporan Channel NewsAsia, Zhang Xiaogang mengatakan pihak AS “mengingkari komitmennya”, menaikkan penjualan senjata ke Taiwan dan meningkatkan “penerimaan” terhadap Taiwan, yang pada akhirnya “mempercepat ancaman perang” di Selat Taiwan. Ia juga meminta AS menghentikan “provokasi” dan mengoreksi tindakan yang disebut “keliru”.

Nada serupa juga terdengar dalam respons sebelumnya. Reuters pada 19 Desember 2025 melaporkan Kementerian Pertahanan China menyatakan militer China akan meningkatkan latihan, memperkuat kesiapan tempur, dan mengambil “tindakan tegas” untuk menjaga kedaulatan serta integritas wilayah.

Poin pentingnya, Beijing tidak merinci langkah apa yang akan diambil. Tetapi ketika pernyataan resmi sudah memakai diksi “tindakan tegas” dan “mempercepat ancaman perang”, pasar dan publik cenderung membaca sinyal: tensi akan naik.

Di sisi lain, frasa China Kecam AS juga menegaskan posisi klasik Beijing yang menganggap Taiwan bagian dari wilayahnya. Karena itu, setiap paket senjata diperlakukan sebagai campur tangan terhadap urusan internal.

Wajib Tahu:

  1. Pernyataan “mempercepat ancaman perang” datang dari juru bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang pada 25 Desember 2025.

  2. Paket senjata senilai sekitar US$11,1 miliar masih berada pada tahap notifikasi Kongres AS, sebuah fase di mana Kongres secara teori bisa memblokir atau mengubah penjualan.

  3. DSCA menegaskan beberapa paket untuk Taiwan “konsisten dengan hukum dan kebijakan AS” yang merujuk pada Public Law 96-8, dasar hukum yang sering dikaitkan dengan kewajiban AS membantu kemampuan pertahanan Taiwan.

Sikap Washington dan Taipei: “Credible Defensive Capability” serta Asimetri

Di Washington, argumen resminya rapi dan konsisten. Reuters menulis Pentagon menyatakan penjualan senjata ini melayani kepentingan nasional, ekonomi, dan keamanan AS, sekaligus mendukung modernisasi angkatan bersenjata Taiwan agar memiliki “credible defensive capability”.

Taipei menyambutnya sebagai penguatan daya gentar. Dalam laporan Reuters, Kementerian Pertahanan Taiwan menyebut dukungan AS membantu Taiwan membangun kemampuan pertahanan yang memadai, memperkuat daya tangkal, dan memaksimalkan keunggulan strategi asimetris untuk menjaga stabilitas kawasan.

Konstruksi narasinya jelas: AS dan Taiwan menekankan “pertahanan” dan “pencegahan”, sedangkan China menilai langkah itu memperbesar risiko konflik. Itulah sebabnya headline China Kecam AS tak berhenti di satu pernyataan. Ini duel pesan yang berulang, dan setiap putarannya bisa memicu respons lanjutan.

Yang juga menambah “bensin” adalah konteks politik di Washington. Reuters melaporkan Presiden AS Donald Trump menandatangani undang-undang kebijakan pertahanan tahunan bernilai hampir US$1 triliun, yang di dalamnya termasuk pendanaan penuh untuk Taiwan Security Cooperation Initiative senilai US$1 miliar dan mengotorisasi pendanaan pelatihan pasukan AS untuk Taiwan. Meski itu bukan bagian langsung dari paket penjualan, sinyal kebijakan tersebut memperkuat persepsi Beijing bahwa dukungan AS ke Taiwan sedang dinaikkan levelnya.

Apakah Ini Memicu Perang Lebih Cepat? Faktor Penentu Eskalasi di Selat Taiwan

Pernyataan “mempercepat ancaman perang” tentu terdengar mengerikan. Namun secara jurnalistik, penting untuk menempatkannya sebagai klaim resmi Beijing, bukan kepastian bahwa perang akan pecah besok pagi.

Ada beberapa faktor penentu yang bisa membuat tensi naik atau mereda dalam waktu dekat:

1) Tahap persetujuan dan implementasi
Walau sudah diumumkan, penjualan masih perlu melewati proses di Kongres. Selain itu, pengadaan senjata seperti HIMARS, ATACMS, atau artileri modern biasanya memerlukan waktu produksi, pelatihan, dan integrasi ke sistem operasi. Di titik ini, efek “langsung” bukan pada kemampuan tempur besok, melainkan pada kalkulasi strategis jangka menengah.

2) Respons militer China dan pola “tindakan tegas”
China menyebut akan memperkuat latihan dan kesiapan tempur, namun belum merinci langkahnya. Jika respons itu berwujud latihan berskala besar, peningkatan patroli, atau aktivitas yang lebih intens di sekitar Selat Taiwan, potensi insiden tidak disengaja ikut naik. Di kawasan yang padat aktivitas militer, risiko miskomunikasi adalah musuh yang paling sering diremehkan.

3) Sinyal politik dari Washington dan Taipei
Paket senjata ini adalah yang terbesar menurut Reuters, dan terjadi di awal periode pemerintahan AS yang sekarang. Bagi Beijing, skala dan timing sering dibaca sebagai sinyal politik, bukan sekadar kontrak.

4) Efek psikologis terhadap publik Taiwan
China menuduh “kekuatan separatis” di Taiwan menggunakan uang publik untuk membeli senjata AS. Sementara Taiwan menegaskan jalur demokratisnya dan menolak klaim kedaulatan Beijing. Ketegangan pesan seperti ini bisa memperkeras posisi masing-masing pihak, membuat ruang kompromi makin sempit.

Pada akhirnya, eskalasi sering bukan soal siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling sulit mundur tanpa kehilangan muka. Dan saat China Kecam AS dengan diksi “mempercepat ancaman perang”, Beijing sedang menegaskan bahwa isu Taiwan adalah garis merah.

Bagi Washington, penjualan senjata diposisikan sebagai pencegahan agar tidak ada pihak yang tergoda menggunakan kekuatan. Bagi Beijing, justru itulah yang dianggap mendorong perlombaan dan meningkatkan risiko salah perhitungan.

Di tengah tarik-menarik ini, publik global hanya bisa berharap satu hal: seluruh pihak menjaga kanal komunikasi terbuka. Karena sejarah menunjukkan, konflik besar sering dimulai bukan dari rencana matang, tetapi dari serangkaian keputusan kecil yang gagal dikoreksi tepat waktu.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

China Kecam ASDSCAGeopolitikHIMARSJavelinpenjualan senjata ASSelat TaiwanTaiwan
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Kenapa 67 Viral
Previous

Bukan Sekadar Angka: Kenapa 67 Mendadak Viral, Dipakai Anak Sekolah, Sampai “Diakui” Kamus Dunia?

PusatFocus - Kado Natal Negara
Next

Viral “Kado Natal Negara” Rp6,62 Triliun: Kejagung Serahkan Gunungan Uang, Ini Asal-usul dan Dampaknya ke APBN

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.