Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

2 Kapal Pertamina RI Terjebak Di Selat Hormuz
Ekonomi

2 Kapal Pertamina Terjebak di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Hal Ini

By Agung Leonardo
March 6, 2026 6 Min Read

Dua Kapal Pertamina milik PT Pertamina International Shipping masih tertahan di kawasan Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Pemerintah Indonesia menyatakan kapal-kapal itu dalam kondisi aman, lalu menjalankan negosiasi dan jalur diplomatik untuk memastikan keduanya bisa keluar dengan selamat.

Perkembangan ini penting sekarang karena Selat Hormuz adalah jalur vital minyak dunia, dan penutupan efektif jalur itu langsung menekan pasokan global. Bagi Indonesia, risikonya bukan hanya ke pengiriman dua Kapal Pertamina, tetapi juga ke impor minyak mentah dan LPG yang masih bergantung pada kawasan Timur Tengah.

Fakta kunci yang sudah dikonfirmasi ada tiga. Pertama, jumlah kapal yang tertahan adalah dua unit. Kedua, pemerintah RI menempuh negosiasi dan komunikasi diplomatik. Ketiga, pasokan energi nasional untuk saat ini dinyatakan masih aman karena pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor minyak mentah ke Amerika Serikat dan mencari pasokan LPG dari luar Timur Tengah. Ada detail penting yang terlihat dari rilis resmi, daftar agenda, atau dokumen terkait.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah yang menyebut dua Kapal Pertamina itu mengalami serangan fisik, kebocoran, atau korban awak. Belum ada juga pernyataan resmi yang merinci jadwal pasti kapan dua kapal itu bisa melintasi Selat Hormuz dan kembali bergerak normal.

Indeks Berita

Toggle
  • Bahlil sebut dua Kapal Pertamina masih sandar
  • Gamsunoro dan Pertamina Pride muncul dalam laporan PIS
    • Wajib Tahu:
  • Kemlu RI buka dialog dengan Iran lewat KBRI Teheran
  • Pasokan RI aman sementara, risiko biaya tetap membesar

Bahlil sebut dua Kapal Pertamina masih sandar

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada Rabu, 4 Maret 2026, di Jakarta, menyatakan ada dua kargo milik Pertamina yang terjebak di Selat Hormuz. Ia mengatakan kapal-kapal itu sedang sandar untuk mencari tempat yang lebih aman sambil pemerintah melakukan negosiasi.

Kutipan langsung Bahlil menjadi titik paling jelas soal apa yang sedang dilakukan pemerintah. “Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz, punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi,” kata Bahlil, seperti dikutip ANTARA.

Reuters pada 3 Maret 2026 menguatkan pernyataan itu. Reuters menulis dua kapal milik Pertamina tertahan di Selat Hormuz dan Indonesia sedang mencoba menggunakan jalur diplomatik untuk mengeluarkan keduanya dari kawasan tersebut. Reuters juga mengutip juru bicara Pertamina yang menyatakan dua kapal itu aman dan keselamatan kru menjadi prioritas.

Di level konteks global, ancamannya memang nyata. Reuters melaporkan pada 2 Maret 2026 bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan kapal yang mencoba lewat akan diserang. Pada 5 Maret 2026, Reuters juga melaporkan sekitar 200 kapal, termasuk tanker minyak dan LNG, masih berlabuh di perairan terbuka dekat produsen utama Teluk, sementara ratusan kapal lain tidak bisa mencapai pelabuhan karena jalur terganggu.

Ini yang perlu dicermati. Frasa “terjebak” dalam sumber resmi Indonesia saat ini lebih dekat pada kondisi kapal tertahan, bersandar, dan menunggu ruang aman untuk melintas, bukan laporan resmi soal penyitaan atau penyerangan langsung terhadap dua Kapal Pertamina itu sendiri. Karena itu, versi yang paling otoritatif sampai hari ini adalah: kapal tertahan, awak aman, negosiasi berjalan.

Gamsunoro dan Pertamina Pride muncul dalam laporan PIS

Soal identitas kapal, sumber primer pemerintah belum merilis nama resmi dua unit yang tertahan. Namun menurut keterangan PT Pertamina International Shipping yang dikutip ANTARA pada 5 Maret 2026, ada empat kapal PIS di area Timur Tengah per 2 Maret 2026. Kapal Gamsunoro sedang proses loading di Khor al Zubair, Irak. Kapal Pertamina Pride telah selesai loading dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi. Kapal PIS Rinjani berada di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab. Kapal PIS Paragon sedang discharge di Oman.

Menurut laporan ANTARA lain pada 6 Maret 2026, dua kapal yang paling relevan dengan isu ini adalah tanker Pertamina yang terdampak di Selat Hormuz dan masih memerlukan pengawalan diplomatik agar bisa melintasi jalur itu dengan aman. Karena identitas dua kapal yang benar-benar tertahan belum diumumkan resmi dalam rilis pemerintah pusat, penamaan kapal harus tetap diperlakukan hati-hati dan tidak dijadikan fakta utama tanpa konfirmasi tambahan dari Pertamina atau Kementerian terkait.

Reuters juga memberi satu data penting dari sisi beban pasokan. Seperempat impor minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah, sementara kawasan itu juga menyumbang sekitar 30% impor LPG Indonesia. Dalam siaran pers ESDM, Bahlil menyebut pasokan crude Indonesia yang melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 19% kebutuhan nasional atau 25,36 juta barel, sedangkan impor LPG nasional masih sekitar 7,3 juta ton sampai 7,8 juta ton per tahun.

Data itu menjelaskan kenapa dua Kapal Pertamina menjadi isu publik yang langsung sensitif. Masalahnya bukan hanya nasib dua kapal, tetapi juga risiko ke rantai pasok energi domestik bila gangguan di Selat Hormuz berlarut. Jalur ini menangani sekitar 20% aliran minyak dunia atau sekitar 20,1 juta barel per hari menurut ESDM, dan sekitar seperlima konsumsi minyak dunia menurut Reuters.

Wajib Tahu:

  1. Dua Kapal Pertamina yang tertahan dinyatakan aman oleh juru bicara Pertamina, dan keselamatan kru menjadi prioritas.

  2. Pemerintah RI tidak hanya bernegosiasi, tetapi juga mengaktifkan jalur dialog melalui KBRI Teheran dengan otoritas Iran.

  3. Pemerintah mulai mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat untuk menutup risiko gangguan pasokan.

  4. Sampai 5 Maret 2026, Reuters memperkirakan sekitar 200 kapal masih tertahan di perairan terbuka dekat produsen Teluk.

  5. Belum ada konfirmasi resmi tentang korban atau kerusakan pada dua Kapal Pertamina yang tertahan itu.

Kemlu RI buka dialog dengan Iran lewat KBRI Teheran

Langkah pemerintah RI tidak berhenti di pernyataan ESDM. Kementerian Luar Negeri memastikan jalur diplomasi juga berjalan. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto pada Jumat, 6 Maret 2026, mengatakan penanganan terkait tanker Pertamina sedang ditindaklanjuti oleh KBRI Teheran karena dialog memang harus dilakukan dengan pihak pemerintah Iran.

Kutipan langsung Santo memperjelas mekanismenya. “Terkait dengan tanker Pertamina, hal tersebut sedang ditindaklanjuti oleh rekan-rekan di KBRI Teheran karena memang dialognya harus dilakukan dengan pihak di pemerintah Iran,” kata Santo dalam taklimat media di Jakarta. Ia juga menambahkan langkah itu ditujukan supaya kapal tanker Pertamina yang terdampak pada akhirnya “dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman”.

Pada saat yang sama, pemerintah menjalankan langkah mitigasi energi. Dalam siaran pers ESDM tertanggal 3 Maret 2026, Bahlil menyebut Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya memastikan pasokan energi nasional tidak sampai terganggu. Bahlil mengatakan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah sedang dialihkan ke negara lain yang pasokannya lebih aman, termasuk Amerika Serikat.

Reuters mengonfirmasi garis kebijakan yang sama. “The current scenario is that for the crude that we import from the Middle East, we will redirect to the United States,” kata Bahlil kepada Reuters. Untuk LPG, Reuters menyebut Indonesia juga akan mencari sebagian pasokan dari kawasan di luar Timur Tengah, walau saat itu Bahlil belum merinci negara pemasok pengganti.

Ini yang berubah. Pada fase awal konflik, perhatian publik tertuju pada penutupan Selat Hormuz dan kenaikan harga minyak dunia. Kini fokus pemerintah RI sudah masuk ke tahap operasional, yaitu menyelamatkan dua Kapal Pertamina, menjaga kru tetap aman, dan mengalihkan sumber pasokan agar kebutuhan energi nasional tidak terganggu.

Pasokan RI aman sementara, risiko biaya tetap membesar

Pemerintah sejauh ini menyatakan ketahanan energi Indonesia belum terganggu. Bahlil mengatakan dua Kapal Pertamina yang tertahan tidak mengganggu ketahanan energi nasional karena pemerintah cepat mencari alternatif pasokan. Setkab pada 4 Maret 2026 juga menulis stok BBM nasional berada di kisaran aman sekitar 23 hari, walau kapasitas daya tampung masih terbatas maksimal sekitar 25 hari.

Apa artinya atau dampaknya bagi audiens. Dalam jangka pendek, publik belum melihat gangguan langsung pada pasokan BBM dan LPG karena pemerintah sudah menyiapkan skema pengalihan impor dan stok saat ini masih dinyatakan aman. Namun jika krisis berlangsung lama, tekanan bisa datang dari ongkos pengiriman, premi asuransi perang, harga minyak dunia, dan biaya impor yang lebih mahal.

Reuters pada 5 Maret 2026 melaporkan Brent dan WTI telah naik 16% sejak perang dimulai pada Sabtu, 28 Februari 2026. Reuters juga menyebut serangan terhadap tanker terus bertambah dan Qatar menghentikan produksi gas earlier this week, membuat pasar energi global makin tegang. Fakta ini memperbesar risiko jika jalur Hormuz tetap terganggu berhari-hari atau berminggu-minggu.

Untuk saat ini, benang merahnya jelas. Dua Kapal Pertamina memang tertahan di Selat Hormuz. Pemerintah RI melakukan dua langkah sekaligus: negosiasi diplomatik untuk keselamatan dan kelancaran pelayaran kapal, lalu diversifikasi impor energi untuk menjaga pasokan di dalam negeri. Yang belum ada konfirmasi resmi sampai sekarang adalah kapan tepatnya dua kapal itu bisa keluar dari kawasan dan apakah situasi di selat akan benar-benar kembali normal dalam waktu dekat.

Tags:

Bahlil Lahadaliacrude oilESDMKapal PertaminaKemlu RILPGPertamina International ShippingSelat Hormuz
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
Kilang Minyak Pertamina Belum Punya Cadangan Penyangga Energi
Previous

Cadangan Penyangga Energi RI Belum Siap, Ini Alasan Resminya

OJK Bongkar Modus Manipulasi Saham BEBS
Next

OJK Bongkar Modus Manipulasi Saham BEBS, Harga Diduga Naik 7.150 Persen

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.