
Harga Aluminium Naik Saat Perang Iran Ganggu Selat Hormuz
Harga Aluminium global bergerak naik pada pekan ini, dipicu eskalasi perang yang melibatkan Iran dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur ekspor utama dari Teluk.
Data London Metal Exchange (LME) menunjukkan harga penutupan 3-month aluminium (day-delayed) di level US$3.251 per ton, naik 1,77%.
Risikonya langsung ke rantai pasok. Perusahaan peleburan (smelter) di Qatar mulai mematikan produksi, sementara produsen Bahrain menyatakan force majeure karena tak bisa mengirim barang.
Pemerintah Amerika Serikat lewat MARAD mengeluarkan alert keamanan maritim dan merekomendasikan kapal menghindari area jika memungkinkan, termasuk menjaga jarak 30 mil laut dari kapal militer AS. Alert itu berlaku sampai 7 Maret 2026.
Ada detail penting yang terlihat dari rilis resmi, daftar agenda, atau dokumen terkait.
Harga Aluminium terdorong risiko Selat Hormuz
Kenaikan Harga Aluminium terjadi saat pasar menilai ulang pasokan dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi sumber utama ekspor aluminium ke Eropa dan Amerika Serikat.
Reuters mencatat gangguan berkepanjangan pada ekspor aluminium Timur Tengah berpotensi paling memukul konsumen Eropa dan AS karena ketergantungan pasokan dari wilayah tersebut.
Angka ketergantungan itu besar. Eropa mengimpor sekitar 1,3 juta ton (21%) aluminium primer dan paduan dari Timur Tengah dan Mesir pada tahun lalu, sementara impor AS dari Timur Tengah mendekati 22% dari totalnya (sekitar 3,4 juta ton).
Dampaknya tidak hanya di bursa berjangka. Reuters melaporkan premi fisik aluminium duty-paid untuk pengiriman April di AS (Midwest) mencapai US$428 per ton, sementara premi duty-paid Eropa untuk pengiriman April di level US$378 per ton.
Di sisi keamanan pelayaran, International Maritime Organization (IMO) menyebut ada laporan korban dan pelaut terluka dalam serangan terhadap kapal dagang. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menyatakan: “No attack on innocent seafarers or civilian shipping is ever justified.”
28 Februari 2026: serangan dimulai, shipping goyah
Sumbu gangguan pasar dimulai pada 28 Februari 2026. Pemerintah Inggris menyatakan, “Earlier this morning, the United States and Israel struck targets in Iran.”
MARAD juga menulis “On February 28th, significant military activity commenced” untuk area Selat Hormuz, Teluk Persia, Teluk Oman, dan Laut Arab.
Di lapangan, dampak paling cepat terlihat pada arus kapal. Dokumen UKMTO/JMIC mencatat rata-rata transit Selat Hormuz sekitar 138 kapal per 24 jam, tetapi pada periode krisis transit sempat turun sangat tajam. Dalam satu catatan, jumlah transit turun hingga 28 kapal per 24 jam (penurunan sekitar 80%).
Reuters menulis lalu lintas Selat Hormuz “closed for a fourth day” pada 3 Maret 2026, di tengah konflik yang meluas.
Namun ini yang perlu dicermati. Dokumen UKMTO/JMIC menyebut belum ada otoritas yang diakui menyatakan penutupan formal, sementara Reuters menggambarkan penutupan secara operasional karena risiko serangan dan kapal yang tertahan. Dua versi ini menggambarkan hal berbeda: status hukum jalur laut versus kondisi operasional di lapangan yang membuat kapal menahan pelayaran.
Ketegangan makin tinggi setelah pernyataan yang dikutip Reuters dari media Iran: seorang pejabat senior IRGC mengatakan Iran akan menembaki kapal mana pun yang mencoba melintas.
MARAD-IMO keluarkan peringatan, smelter mulai “force majeure”
Di sisi regulator, MARAD mengeluarkan MSCI Alert 2026-001A. Rekomendasinya tegas: kapal diminta menjauhi area bila memungkinkan, dan kapal komersial AS diminta menjaga jarak 30 mil laut dari kapal militer AS untuk menurunkan risiko salah identifikasi.
Alert MARAD itu juga meminta kapal memantau advisories UKMTO dan Joint Maritime Information Center (JMIC). Masa berlaku alert ditetapkan 28 Februari 2026 sampai 7 Maret 2026.
IMO menambah peringatan dari sisi keselamatan pelaut dan navigasi. Dominguez menyatakan: “Freedom of navigation is a fundamental principle of international maritime law, and it must be respected by all Parties, with no exception.”
Pada level industri, gangguan berubah menjadi keputusan bisnis. Norsk Hydro menyatakan smelter Qatalum di Qatar memulai controlled shutdown pada 3 Maret 2026 karena kekurangan gas, dan proses shutdown diperkirakan selesai akhir Maret.
Hydro menyebut restart penuh dapat memakan 6 sampai 12 bulan, sementara waktu potensi restart “tidak diketahui” jika fasilitas sudah tertutup penuh.
Hydro juga menyatakan telah menerbitkan force majeure notice kepada pelanggan Qatalum. Kapasitas nameplate pabrik itu 636.000 metrik ton aluminium primer per tahun.
Sinyal serupa datang dari Bahrain. Aluminium Bahrain (Alba) pada 4 Maret 2026 menyatakan force majeure karena tidak bisa melakukan pengiriman. Juru bicara Alba mengatakan kepada Reuters: “It’s because what’s happening in the Strait of Hormuz, we are not able to ship.”
Reuters menilai penutupan dan gangguan ini memperdalam dampak perang terhadap sektor aluminium, karena kawasan Teluk menampung sekitar 7 juta ton kapasitas peleburan dan menyumbang sekitar 8% kapasitas global.
Dampak ke rantai pasok dan apa berikutnya
Apa artinya atau dampaknya untuk audiens. Harga Aluminium yang naik di bursa biasanya merembet ke biaya bahan baku untuk kemasan (kaleng), konstruksi (profil, rangka), otomotif, kabel, hingga komponen elektronik, karena kontrak fisik banyak mengacu pada benchmark LME plus premi regional.
Ini yang berubah dalam 72 jam terakhir. Gangguan tidak lagi berhenti pada risiko pelayaran, tetapi sudah masuk ke sisi produksi dan kontrak. Qatalum mulai shutdown, Alba mengaktifkan force majeure pengiriman, dan data UKMTO/JMIC menunjukkan penurunan tajam arus kapal di Selat Hormuz.
Untuk pasar, fase berikutnya bergantung pada dua hal. Pertama, apakah keamanan pelayaran membaik sebelum 7 Maret 2026, saat alert MARAD dijadwalkan kedaluwarsa otomatis jika tidak diperpanjang.
Kedua, seberapa lama gangguan produksi dan pengiriman berlangsung. Hydro menyebut restart penuh Qatalum bisa 6 sampai 12 bulan, yang berarti tekanan pasokan bisa bertahan jika shutdown berlanjut.
Di level kebijakan, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS bisa mulai mengawal tanker bila diperlukan, dan memerintahkan U.S. International Development Finance Corporation memberi dukungan asuransi risiko politik dan jaminan finansial untuk perdagangan maritim di Teluk.
Sementara itu, Menteri Perkapalan Yunani Vassilis Kikilias menyebut situasi “alarming” dan meminta pelayaran global serta pelaut dilindungi.
Belum ada konfirmasi resmi yang menyatakan kapan arus pelayaran Selat Hormuz pulih sepenuhnya atau kapan force majeure perusahaan akan dicabut.
Wajib Tahu:
LME mencatat harga 3-month aluminium (day-delayed) US$3.251 per ton, naik 1,77%.
MARAD meminta kapal menjaga jarak 30 mil laut dari kapal militer AS, alert berlaku sampai 7 Maret 2026.
UKMTO/JMIC mendata transit Selat Hormuz bisa turun hingga 28 kapal per 24 jam (sekitar 80% di bawah rata-rata 138).
Qatalum mulai shutdown pada 3 Maret 2026, restart penuh bisa 6 sampai 12 bulan.
Alba menyatakan force majeure karena tidak bisa mengirim akibat situasi Selat Hormuz.