
Iran DiSerang AS-Israel, Rusia-China Dorong Sidang Darurat PBB
Iran DiSerang dalam gelombang serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026, memicu balasan Iran ke target-target terkait AS di kawasan.
Pertanyaan publik langsung mengarah ke Moskow dan Beijing: di mana Rusia dan China ketika konflik meletus, dan apa yang benar-benar mereka lakukan.
Dua anggota tetap Dewan Keamanan PBB itu bergerak lewat jalur diplomasi. Rusia dan China ikut meminta sidang darurat Dewan Keamanan di New York pada 28 Februari 2026 pukul 16.00 waktu setempat.
China juga mempublikasikan angka evakuasi. Beijing menyebut lebih dari 3.000 warga China telah dievakuasi dari Iran per 2 Maret 2026 waktu Beijing.
Rusia mengecam serangan dan Presiden Vladimir Putin menyatakan siap memakai jalur komunikasi Moskow-Teheran untuk membantu meredakan situasi.
Sampai Selasa, 3 Maret 2026, belum ada pernyataan resmi dari Rusia atau China yang menyebut dukungan militer langsung untuk Iran. Pejabat China juga mengatakan tidak punya informasi tambahan soal opsi itu.
Ada detail penting yang terlihat dari risalah konferensi pers Kemenlu China dan pernyataan misi Rusia di PBB tentang langkah yang akan mereka dorong di forum internasional.
Serangan 28 Februari: Iran DiSerang AS-Israel
Serangan besar dimulai pada 28 Februari 2026. Reuters melaporkan Dewan Keamanan PBB digerakkan untuk rapat darurat setelah AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran.
PBB memperingatkan risiko eskalasi cepat. Sekjen PBB António Guterres menyebut aksi itu berisiko “menyalakan rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan” di kawasan paling volatil di dunia.
Di forum Dewan Keamanan, Guterres juga menyerukan penghentian permusuhan. Reuters mengutip seruannya: “Saya menyerukan penghentian permusuhan segera dan de-eskalasi.”
Iran menyatakan melakukan pembalasan di kawasan. Sejumlah negara mengecam serangan balasan Iran ke target terkait AS, sementara China menyatakan kedaulatan negara-negara Teluk harus dihormati dan meminta semua pihak menghentikan operasi militer.
Satu elemen yang mempercepat tensi adalah isu kepemimpinan Iran. Juru bicara Kemenlu China, Mao Ning, menyebut pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran sebagai pelanggaran berat kedaulatan Iran, sambil mengecam dan meminta penghentian operasi militer.
Dari sisi tujuan operasi, perwakilan Israel di PBB mengatakan AS dan Israel akan memastikan Iran tidak memiliki kapabilitas nuklir, dan operasi berlanjut sampai tujuan itu tercapai.
Dewan Keamanan PBB memang sudah bertemu pada 28 Februari 2026, tetapi sampai 2 Maret 2026 tidak ada resolusi atau pemungutan suara terkait aksi militer tersebut, menurut dokumen ringkas Parlemen Inggris.
Di titik ini, banyak detail lapangan masih simpang siur. Angka korban dan kerusakan di beberapa lokasi belum memiliki rekap resmi yang diakui luas, dan sebagian klaim masih “menurut laporan” atau “menurut saksi” tanpa konfirmasi independen.
Rusia minta sidang darurat DK PBB di New York
Rusia tampil paling awal lewat jalur Dewan Keamanan. Misi Rusia di PBB menyatakan Rusia dan China meminta rapat darurat “terkait aksi agresi bersenjata” AS dan Israel terhadap Iran.
Rusia juga menyatakan akan menuntut AS dan Israel menghentikan tindakan yang mereka sebut ilegal dan eskalatif, lalu kembali ke jalur penyelesaian politik dan diplomatik.
Sidang Dewan Keamanan digelar pada 28 Februari 2026 pukul 16.00 waktu New York dan dipimpin Inggris sebagai presiden bergilir Dewan Keamanan.
Di luar PBB, Kremlin menyebut Moskow berada dalam kontak konstan dengan kepemimpinan Iran. Putin pada 2 Maret 2026 juga menelepon pemimpin Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar, menawarkan penggunaan hubungan Rusia-Iran untuk membantu meredakan situasi.
Dalam pembacaan Kremlin, percakapan itu menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembali ke proses politik dan diplomatik.
Pada 28 Februari 2026, pejabat tinggi Rusia Dmitry Medvedev juga mengecam serangan dan menyebut para pelaku “mendorong Timur Tengah ke jurang eskalasi tak terkendali,” menurut Reuters.
Ini yang perlu dicermati. Meski Rusia dan China sama-sama punya hak veto di Dewan Keamanan, belum terlihat adanya produk keputusan bersama Dewan Keamanan yang mengikat tentang penghentian perang, dan dokumen ringkas Parlemen Inggris menyebut belum ada resolusi atau pemungutan suara.
Wajib Tahu:
Sidang darurat Dewan Keamanan digelar 28 Februari 2026 pukul 16.00 waktu New York, dipimpin Inggris.
Sekjen PBB memperingatkan konflik bisa memicu “rangkaian peristiwa yang tidak bisa dikendalikan.”
China menyebut lebih dari 3.000 warganya dievakuasi dari Iran per 2 Maret 2026 waktu Beijing.
Rusia menyatakan akan menuntut AS dan Israel menghentikan aksi yang mereka sebut ilegal dan eskalatif.
Putin menelepon empat pemimpin Teluk pada 2 Maret 2026, menawarkan jalur komunikasi lewat hubungan Rusia-Iran.
China saat Iran DiSerang, evakuasi 3.000 warga
Posisi resmi Beijing ditegaskan terbuka di konferensi pers Kemenlu pada 2 Maret 2026. Mao Ning menyatakan serangan AS-Israel “tidak mendapat otorisasi Dewan Keamanan PBB dan melanggar hukum internasional.”
China meminta penghentian operasi militer. Mao Ning mengatakan prioritasnya adalah menghentikan operasi militer segera dan mencegah konflik meluas.
Beijing menambahkan langkah konsuler. “Per 2 Maret, waktu Beijing, lebih dari 3.000 warga China telah dievakuasi dari Iran,” kata Mao Ning, sambil menyebut tim China di negara tetangga Iran membantu penerimaan di perbatasan.
Pada 3 Maret 2026, Mao Ning juga menyinggung aspek energi. Reuters mengutip pernyataannya bahwa China akan mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan energinya, dan menekankan stabilitas pasokan energi penting bagi ekonomi global.
Beijing menolak beberapa narasi yang beredar. Mao Ning menyebut laporan pembelian rudal anti-kapal tertentu oleh Iran dari China sebagai “tidak benar” dan menyebut China menolak disinformasi.
Ketika ditanya soal kemungkinan bantuan militer bersama Rusia untuk Iran, Mao Ning mengatakan tidak punya informasi tambahan selain keterangan resmi yang sudah dirilis soal komunikasi Wang Yi dan Sergei Lavrov.
Pada 1 Maret 2026, Reuters juga melaporkan Menlu China Wang Yi menyebut serangan AS dan Israel “tidak dapat diterima,” dan menyerukan gencatan senjata segera serta pembicaraan untuk mencegah konflik kawasan melebar.
Ini yang berubah. China tidak hanya mengeluarkan kecaman umum, tetapi mempublikasikan angka evakuasi yang spesifik dan menambah pesan tentang keamanan energi, seiring kekhawatiran gangguan rute dagang dan energi di kawasan Teluk.
Apa efeknya: minyak, penerbangan, dan diplomasi lanjut
Dampak langsung yang mulai muncul adalah tekanan pada keamanan sipil dan infrastruktur. WHO melaporkan Gandhi Hospital di Teheran dievakuasi setelah ledakan di sekitar lokasi, dan WHO sedang memverifikasi laporan kerusakan di beberapa fasilitas medis lain.
Dari sisi jalur energi, pertanyaan soal Selat Hormuz mengemuka di konferensi pers Beijing. Mao Ning menekankan selat itu dan perairan sekitarnya adalah rute penting perdagangan internasional untuk barang dan energi, dan meminta semua pihak menghentikan operasi militer untuk mencegah kerusakan lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global.
Apa artinya atau dampaknya bagi publik. Risiko yang paling dekat adalah gangguan stabilitas pasokan energi dan gangguan keamanan lintas negara, karena serangan balasan Iran dilaporkan menyasar target terkait AS di negara-negara Teluk, sementara China dan Rusia mendorong kanal PBB untuk menahan eskalasi.
Di level PBB, ruang gerak Rusia dan China terlihat bertumpu pada rapat-rapat Dewan Keamanan dan tekanan diplomatik, bukan pada pengumuman langkah militer. Dokumen ringkas Parlemen Inggris menyatakan belum ada resolusi atau pemungutan suara Dewan Keamanan terkait aksi militer sampai 2 Maret 2026.
Sejumlah detail kunci juga masih menunggu verifikasi. Contohnya, klaim tentang serangan ke lokasi sipil tertentu dan jumlah korban di beberapa titik dilaporkan berbeda-beda, dan Reuters menyebut beberapa klaim belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Langkah berikut yang paling mungkin terlihat dalam waktu dekat adalah dorongan sesi lanjutan di Dewan Keamanan, komunikasi Rusia dengan negara-negara Teluk, serta fokus China pada evakuasi dan keamanan energi. Sampai kini, belum ada konfirmasi resmi tentang rencana dukungan militer langsung Rusia atau China untuk Iran.