
Bitcoin Ambruk Lagi, Banyak yang Bilang “Siklus”, Tapi Sinyal Bahaya Ini Lagi Ramai Dibaca Trader
Pusat Focus – Pagi ini, Selasa, 3 Februari 2026, layar harga Bitcoin kembali membuat banyak orang menahan napas. Bitcoin sempat menyentuh level terendah harian di kisaran US$74.957 per koin, lalu memantul dan bergerak di sekitar US$78.028 per koin. Rentang naik turunnya lebar, dari titik rendah itu hingga titik tinggi harian US$79.155 per koin.
Di komunitas kripto Indonesia, satu pertanyaan mengambang sejak akhir pekan: Bitcoin Ambruk ini cuma “bagian dari siklus”, atau ada sesuatu yang lebih gelap menunggu di depan?
Kenapa penting sekarang? Karena penurunan ini tidak datang sendirian. Reuters melaporkan gelombang volatilitas memicu likuidasi sekitar US$2,56 miliar berdasarkan data CoinGlass. Ini bukan sekadar merah di chart, ini posisi leverage yang dipaksa keluar.
Dampak terdekat buat pembaca Indonesia juga terasa cepat. Portofolio spot ikut tergerus, tetapi yang paling rapuh adalah akun yang memakai leverage tinggi. Di tengah itu, ada teaser yang jarang dibahas di awal obrolan grup: sinyal dari pasar derivatif dan opsi mulai memperlihatkan bias defensif. Nanti kita masuk ke sana, karena justru di sanalah “bahasa jujur” pasar biasanya muncul.
Kronologi Bitcoin Ambruk: dari puncak US$126.000 ke tekanan likuidasi
Untuk memahami apakah ini murni siklus atau bahaya baru, kita perlu menarik garis ke belakang.
Reuters mencatat Bitcoin pernah berada di puncak di atas US$126.000 pada Oktober 2025, lalu bergerak turun dan kini diperdagangkan di sekitar area US$78.396 dalam rangkaian tekanan terbaru. Itu artinya, koreksi dari puncak sudah dalam, dan setiap reli kecil belakangan ini mudah dipatahkan.
Pada 31 Januari 2026, Reuters juga melaporkan Bitcoin jatuh di bawah US$80.000 saat likuiditas akhir pekan tipis memperbesar efek jual. CoinDesk menambahkan konteks yang sering luput: akhir pekan membuat pasar lebih “ringkih”, dan berita geopolitik serta risiko politik di Amerika Serikat ikut membebani sentimen.
Lalu masuk 2 Februari 2026, tekanan itu seperti menemukan bensinnya. Reuters menyebut likuidasi US$2,56 miliar terjadi di tengah penjualan lebih luas pada aset berisiko, termasuk saat pasar menilai ulang selera risiko global. Pemicu yang disebut antara lain kekhawatiran terhadap “trade AI” setelah kinerja perusahaan teknologi tertentu mengecewakan, serta perubahan ekspektasi soal arah bank sentral Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed.
Di titik ini, narasi “Bitcoin sebagai emas digital” kembali diuji. Financial Times menulis Bitcoin turun ke level terendah sejak guncangan tarif 2025, dan menyoroti bahwa saat pasar stres, Bitcoin justru lebih sering diperlakukan sebagai aset berisiko, bukan tempat berlindung.
Ini yang perlu dicermati: “siklus” saja tidak cukup menjelaskan
Orang kripto suka kata “siklus”. Ada hal benarnya: Bitcoin memang punya sejarah naik turun tajam, lalu pulih lagi pada fase berikutnya. Tetapi menyebutnya siklus saja bisa membuat kita buta pada detail yang berubah.
Ini yang berubah dan perlu dicermati.
Pertama, leverage jadi mesin percepatan. Saat harga turun dan level margin terpukul, likuidasi memaksa jual tambahan. Reuters sudah memberi angka yang membuat gambarnya jelas: US$2,56 miliar posisi terlikuidasi dalam periode volatilitas ini. Pada kondisi begini, penurunan sering terlihat “lebih brutal” daripada yang dibayangkan investor spot.
Kedua, bahasa derivatif menguatkan kewaspadaan. Derive.xyz, platform opsi, menerbitkan pembaruan pada 20 Januari 2026: pasar mematok peluang sekitar 30 persen Bitcoin turun di bawah US$80.000 pada atau sebelum 26 Juni 2026. Ini bukan ramalan tunggal, melainkan refleksi dari positioning dan harga premi opsi saat itu.
Ketiga, harga rujukan berbeda-beda, tapi arah besarnya sama. CoinMarketCap menampilkan harga Bitcoin bergerak di kisaran US$78.000-an hari ini, dengan pembaruan real-time. Sementara data intraday dari pelacak harga lain memperlihatkan titik rendah harian sempat di bawah US$75.000. Selisih kecil antar platform wajar karena perbedaan bursa acuan, tetapi pesan utamanya tidak berubah: tekanan belum benar-benar pergi.
Wajib Tahu:
Likuidasi US$2,56 miliar tercatat Reuters berbasis data CoinGlass, menandakan pasar sedang “membersihkan” posisi leverage, bukan sekadar jual biasa.
Pasar opsi di Derive.xyz mematok peluang 30 persen BTC turun di bawah US$80.000 pada 26 Juni 2026, tanda investor institusi dan trader profesional aktif memasang pagar risiko.
Harga Bitcoin hari ini bergerak di area US$78.000, dengan intraday low US$74.957 dan intraday high US$79.155 menurut data harga yang kami akses. Ini menggambarkan volatilitas yang masih tinggi.
“Skenario 70 persen” sering disalahpahami. Benjamin Cowen pernah memperingatkan potensi drawdown besar pada fase bear berikutnya berbasis sejarah siklus. Peringatan ini umumnya bicara penurunan dari puncak siklus, bukan otomatis berarti 70 persen dari harga hari ini.
Spekulasi jatuh 70 persen: mana yang analisis, mana yang salah kaprah
Di sinilah bagian yang sering membuat pasar gaduh: “Bitcoin bisa jatuh 70 persen lagi.”
Kalimat itu terdengar tegas, tapi sering tidak lengkap konteksnya. Ada komentar analis yang membahas potensi drawdown besar, misalnya Benjamin Cowen yang menyinggung kemungkinan koreksi tajam pada bear market berikutnya dengan merujuk pada sejarah penurunan dari puncak di siklus-siklus lampau.
Masalahnya, publik kerap menerjemahkan itu menjadi “70 persen dari harga sekarang”. Jika dihitung dari harga sekitar US$78.000, penurunan 70 persen berarti menuju area sekitar US$23.000. Itu skenario ekstrem, dan hari ini tidak ada pernyataan resmi regulator atau data pasar yang “memastikan” arah sedalam itu.
Yang lebih bertanggung jawab adalah membedakan tiga hal: (1) komentar analis tentang pola historis, (2) probabilitas yang tercermin dari pasar derivatif, (3) berita pemicu jangka pendek.
Untuk poin kedua, data Derive.xyz memberi kita contoh yang lebih terukur: ada peluang 30 persen BTC turun di bawah US$80.000 pada akhir Juni 2026, bukan narasi jatuh 70 persen dari harga sekarang.
Untuk poin ketiga, pemicu jangka pendek yang paling kuat saat ini datang dari kombinasi sentimen risiko global dan efek leverage. Reuters menekankan perubahan selera risiko dan faktor kebijakan moneter Amerika Serikat sebagai latar yang menekan aset spekulatif, termasuk kripto.
Di sisi lain, pasar juga tidak sepi dari proyeksi yang bullish. Sebagian publikasi merangkum prediksi 2026 yang lebar sekali, dari skenario konservatif hingga agresif, menunjukkan betapa tidak seragamnya pandangan “ahli”. Ini penting supaya pembaca paham: perbedaan pendapat besar adalah ciri pasar yang masih sangat spekulatif.
Apa artinya untuk Indonesia: dari keamanan platform sampai kebiasaan leverage
Buat investor Indonesia, “Bitcoin Ambruk” bukan cuma soal grafik merah. Ada dampak praktis yang perlu dipegang.
Pertama, soal di mana Anda bertransaksi. Di Indonesia, daftar pedagang fisik aset kripto yang terdaftar dipublikasikan di laman resmi Bappebti. Ini berguna untuk memastikan platform yang digunakan berada dalam radar pengawasan domestik.
Kedua, soal transisi pengawasan. Bank Indonesia pernah merilis informasi bahwa tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto dialihkan dari Bappebti ke OJK dalam kerangka UU P2SK, dengan masa peralihan paling lama 24 bulan sejak 10 Januari 2025. OJK juga mempublikasikan siaran pers terkait proses peralihan pengawasan aset keuangan digital yang dimulai sejak tanggal tersebut.
Mengapa ini relevan ketika Bitcoin Ambruk? Karena pada fase volatilitas, investor biasanya mencari kepastian tentang mekanisme perlindungan, tata kelola bursa, hingga standar manajemen risiko platform. Transisi regulator menambah lapisan perubahan yang wajib diikuti pelaku industri dan pengguna.
Ketiga, soal perilaku investor ritel. Dalam tekanan, godaan terbesar biasanya bukan membeli, melainkan membesarkan posisi dengan leverage demi “balik modal cepat”. Padahal data likuidasi global menunjukkan justru leverage yang membuat penurunan terasa seperti jatuh bebas.
Lalu apa yang kemungkinan terjadi berikutnya?
Jika tekanan makro global mereda, Bitcoin bisa saja memantul, terutama karena pasar kripto terkenal cepat bereaksi. Namun bila dolar menguat dan pasar memasuki mode menghindari risiko lebih lama, tekanan bisa berlanjut, terutama jika gelombang likuidasi susulan muncul saat level support ditembus.
Yang bisa dikatakan dengan jujur hari ini: Bitcoin Ambruk tidak otomatis berarti kiamat kripto. Tetapi menganggapnya sekadar siklus tanpa membaca indikator risiko juga berbahaya. Pasar sedang menuntut disiplin, bukan keberanian kosong.
Hobi Games ?