
Luas Gurun Sahara Membesar Diam-Diam, Ilmuwan Buka Data, Apa yang Sedang Terjadi?
Pusat Focus – Ada angka yang bikin kepala menoleh: Luas Gurun Sahara, gurun panas terbesar di dunia, tidak lagi bisa diperlakukan sebagai “latar jauh” yang tak menyentuh hidup kita. Sejumlah riset berbasis data iklim jangka panjang menunjukkan batas-batas Sahara bergeser. Dalam hitungan dekade, wilayah kering itu terdorong melebar ke arah yang selama ini menjadi sabuk pertanian dan penggembalaan di Afrika, terutama di sisi selatan yang berbatasan dengan kawasan Sahel.
Kenapa ini penting sekarang? Karena pembesaran gurun bukan sekadar peta yang berubah. Ia berkaitan dengan air, pangan, migrasi, dan rantai pasok global. Dan untuk Indonesia, ada satu pesan yang dekat: jika kawasan kering dunia menguat dan sirkulasi atmosfer berubah, tekanan pada pola hujan dan ekstrem cuaca ikut meningkat. Kita tidak sedang bicara soal badai pasir sampai ke Jawa. Tapi kita bicara soal gejala besar yang mengubah cara dunia memproduksi pangan dan mengelola risiko iklim. Ada bagian penting yang sering luput, yakni soal “definisi” gurun dan bagaimana peneliti mengukur luasnya. Itu baru terlihat jelas di tengah artikel ini.
Fakta kunci yang bisa dipegang datang dari kajian ilmiah yang menelusuri perubahan sejak awal abad ke-20. Dalam studi di Journal of Climate, tim peneliti menunjukkan Sahara membesar signifikan sepanjang abad ke-20, dengan kisaran 11 persen sampai 18 persen tergantung musim, dan sekitar 10 persen bila dihitung dengan definisi tahunan berbasis ambang kekeringan. Studi ini menganalisis data hujan di Afrika untuk membaca pergeseran batas gurun dari 1920 sampai 2013. Temuan ini dipublikasikan daring pada 29 Maret 2018 dan versi jurnalnya terbit pada 1 Mei 2018.
Sahara sendiri kerap disebut berukuran sekitar 9 juta kilometer persegi. Angka pastinya bisa sedikit berbeda antar rujukan karena batas gurun berubah menurut musim dan metode pengukuran. Inilah sebabnya, saat publik membaca “Luas Gurun Sahara bertambah”, yang dimaksud bukan gurun tiba-tiba menelan kota dalam semalam, melainkan garis batas kekeringan bergeser dalam tren multi-dekade.
Bagaimana ilmuwan mengukur Luas Gurun Sahara, dan kenapa hasilnya bisa berbeda
Sahara bukan hamparan pasir homogen. Ada lautan pasir, dataran berbatu, pegunungan, hingga oasis. Di atas itu semua, ada dinamika musiman. Ketika musim panas di belahan utara datang, zona kering dan panas meluas. Saat musim berganti, sebagian batasnya “mundur”. Karena itu, peneliti biasanya memakai pendekatan iklim, bukan sekadar citra pasir.
Studi Journal of Climate yang terbit pada 1 Mei 2018 mendefinisikan gurun memakai ambang curah hujan rendah. Ini penting, karena gurun dalam sains iklim adalah wilayah yang kekurangan air, bukan wilayah yang “pasti berpasir”. Hasilnya, yang terlihat adalah pergeseran batas kering yang konsisten dalam skala puluhan tahun, terutama di sisi selatan Sahara, yang beririsan dengan Sahel.
Lalu, penelitian lain pada 4 Maret 2020 di jurnal Scientific Reports menambah lapisan bukti: berdasarkan indeks iklim yang diamati, Sahara (SD) meluas sekitar 8 persen selama 1950 sampai 2015. Studi ini juga mencatat batas selatan Sahara maju sekitar 100 kilometer ke arah selatan pada periode tersebut. Angka 8 persen ini tidak bertentangan dengan 10 persen pada periode lebih panjang, karena rentang tahun dan metode definisi berbeda. Satu memakai lensa abad ke-20 yang lebih panjang, satu lagi fokus paruh kedua abad ke-20 hingga 2015.
Di titik ini, kalimat “Luas Gurun Sahara terus bertambah” perlu dibaca dengan hati-hati. Data yang kuat menunjukkan tren pembesaran dalam periode 1920 sampai 2013 dan 1950 sampai 2015. Untuk tahun-tahun setelah itu, publikasi ilmiah memang ada, tetapi tidak semuanya sepakat soal laju dan arah perubahan tahunan, karena Sahara sangat sensitif terhadap variasi iklim alami dan perubahan pola hujan regional.
Ini yang berubah, dan apa pemicu utamanya menurut riset
Yang berubah bukan cuma angka luas. Yang berubah adalah “tepi” Sahara, terutama di selatan. Itulah zona rapuh, tempat masyarakat menggantungkan hidup pada hujan musiman. Ketika batas kering bergeser, pertanian tadah hujan, padang rumput, dan sumber air dangkal menjadi taruhan.
Soal penyebab, riset 2018 menekankan kombinasi faktor: variasi iklim alami dan pengaruh pemanasan global. Dalam laporan terkait temuan itu, disebutkan sekitar dua pertiga pembesaran Sahara terkait variabilitas alami, sementara sekitar sepertiganya dikaitkan dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Peneliti juga mengaitkan tren “musim panas makin panas” dan “musim hujan mengering” di Afrika dengan faktor seperti peningkatan gas rumah kaca dan aerosol di atmosfer.
Gambaran besarnya selaras dengan laporan lembaga iklim global. IPCC dalam AR6 membahas bahwa pemanasan global memengaruhi sirkulasi atmosfer, termasuk kecenderungan pelebaran sel Hadley yang berkaitan dengan pergeseran sabuk kering subtropis, meski variabilitas internal tetap besar dan tidak semua wilayah merespons seragam. WMO juga, dalam laporan State of the Global Climate 2024 yang dirilis 19 Maret 2025, menegaskan indikator-indikator utama krisis iklim terus memburuk, dari panas laut, kenaikan muka air laut, hingga ekstrem cuaca. Untuk Afrika, WMO melalui State of the Climate in Africa 2024 menyoroti tekanan serius pada ketahanan pangan dan air di banyak wilayah, dengan kombinasi banjir ekstrem di satu sisi dan kekeringan berkepanjangan di sisi lain.
Di Afrika, respons kebijakan dan proyek restorasi lahan ikut bergerak, meski jalannya tidak selalu mulus. Inisiatif Great Green Wall didorong untuk menahan degradasi lahan di sabuk Sahel. UNCCD mencatat capaian restorasi dan penciptaan lapangan kerja di negara-negara koridor Great Green Wall, meski evaluasi independen juga menyoroti tantangan implementasi, pendanaan, dan pelacakan dampak di lapangan.
Wajib Tahu:
Luas Gurun Sahara bukan angka “kaku”. Batasnya bisa maju-mundur mengikuti musim, sehingga studi ilmiah memakai definisi berbasis kekeringan, bukan sekadar “pasir”.
Studi Journal of Climate menunjukkan Sahara membesar 11 persen sampai 18 persen bergantung musim, dan sekitar 10 persen bila dihitung tahunan untuk periode 1920 sampai 2013.
Studi Scientific Reports menemukan Sahara meluas sekitar 8 persen pada 1950 sampai 2015, dengan batas selatan bergeser sekitar 100 kilometer ke arah selatan.
Riset 2018 menilai pembesaran Sahara dipengaruhi kombinasi variabilitas alami dan pengaruh pemanasan global, bukan satu faktor tunggal.
Program restorasi seperti Great Green Wall berjalan, tetapi laporan dan kajian menunjukkan tantangan besar dalam pelaksanaan, koordinasi, dan pengukuran capaian di lapangan.
Apa artinya untuk Indonesia: bukan pasirnya, tetapi sinyal iklim dan dampak rantai pasok
Pertanyaan yang sering muncul: “Apa hubungannya Sahara dengan Indonesia?” Hubungannya bukan langsung seperti debu gurun melintasi samudra hingga menutup langit Jakarta. Yang lebih relevan adalah Sahara sebagai penanda perubahan iklim regional yang ikut terhubung dengan sirkulasi atmosfer global.
Jika sabuk kering di kawasan subtropis menguat dan pola hujan bergeser, maka ketidakpastian iklim meningkat. Indonesia berada di wilayah tropis yang pola hujannya dipengaruhi banyak mesin iklim, mulai dari monsun Asia-Australia, ENSO, sampai Indian Ocean Dipole. Ketika iklim global memanas, variabilitas ini cenderung lebih “tajam” dalam bentuk ekstrem, baik hujan lebat maupun periode kering lebih panjang. Dalam konteks ini, kabar tentang Luas Gurun Sahara yang membesar berfungsi seperti indikator di dashboard: ia memperlihatkan sistem iklim sedang bergeser, dan risiko tidak merata.
Dampak paling konkret untuk pembaca Indonesia ada pada pangan dan harga komoditas. Afrika Utara dan Sahel punya peran pada produksi pangan regional, dan ketika kekeringan memburuk, tekanan migrasi dan kebutuhan impor pangan bisa naik. Gangguan iklim yang meluas juga bisa memukul produksi gandum global, minyak nabati, dan komoditas lain yang jalur perdagangannya bersinggungan dengan Indonesia melalui harga internasional. Efeknya bukan selalu berupa krisis langsung, tetapi berupa “kenaikan risiko” yang membuat harga lebih mudah bergejolak.
Ini yang perlu dicermati: narasi “gurun makin luas” sering disederhanakan jadi seolah Sahara merayap setiap tahun tanpa jeda. Padahal data menunjukkan tren pembesaran kuat pada periode tertentu, sementara pada periode lain ada fluktuasi. Kehati-hatian membaca data penting agar publik tidak terseret sensasi, tetapi tetap menangkap pesan utamanya: kawasan kering rentan, perubahan iklim memperbesar tekanan, dan dampaknya merambat lintas benua lewat ekonomi dan cuaca ekstrem.
Apa berikutnya: apa yang bisa diharapkan dari sains dan kebijakan
Ke depan, dua hal akan menentukan apakah cerita tentang Luas Gurun Sahara terus membesar menjadi lebih suram atau mulai terkendali.
Pertama, kualitas pemantauan dan definisi yang dipakai. Studi berbasis curah hujan, indeks vegetasi, dan model iklim bisa menghasilkan angka berbeda. Ini bukan kelemahan sains, melainkan konsekuensi dari objek yang dinamis. Yang dibutuhkan adalah pembaruan data berkala, transparansi metode, dan perbandingan antarmetode untuk melihat apakah batas kering benar-benar bergeser secara permanen atau lebih banyak dipengaruhi variabilitas jangka pendek.
Kedua, respons kebijakan iklim global dan restorasi lahan. WMO dan IPCC menempatkan pengurangan emisi sebagai kunci menahan pemanasan lebih lanjut. Di tingkat regional Afrika, restorasi lahan, manajemen air, dan penguatan sistem peringatan dini menjadi penyangga bagi komunitas di tepi Sahara. Great Green Wall menunjukkan arah, tetapi tantangannya besar, dari pendanaan sampai koordinasi lintas negara.
Bagi Indonesia, membaca Sahara yang membesar bukan soal ikut-ikutan jauh. Ini soal memperkuat adaptasi di rumah sendiri: ketahanan pangan, sistem peringatan dini, pengelolaan air, serta kesiapan menghadapi ekstrem yang lebih sering. Jika tren pemanasan global berlanjut seperti yang dilaporkan WMO, “garis batas” risiko iklim akan makin kabur. Dan kabar dari Sahara adalah pengingat keras bahwa perubahan itu sudah berjalan dalam skala yang sulit dibantah.
Hobi Games ?