Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Google Ciptakan Baterai Udara
Teknologi

“Baterai Udara” Google Bukan Buat HP, Wujudnya Segede Gedung dan Pakai CO2

By Agung Leonardo
January 16, 2026 5 Min Read

Pusat Focus – Kalau Anda membayangkan “Baterai Udara” buatan Google itu seperti power bank, stop dulu di situ. Wujudnya bukan benda yang bisa diselipkan ke tas. Bentuknya justru lebih mirip instalasi industri, lengkap dengan kubah raksasa berwarna terang, tangki-tangki besar, dan sistem turbin kompresor yang biasanya kita dengar di pembangkit.

Kabar soal Baterai Udara ini ramai dibicarakan karena menggabungkan dua kata yang terdengar mustahil. “Baterai” dan “udara”. Di saat yang sama, listrik dunia sedang memasuki fase serba baru, didorong pertumbuhan energi terbarukan dan kebutuhan daya data center. Indonesia juga ikut merasakannya: investasi data center tumbuh, permintaan listrik ikut naik, sementara bauran energi bersih masih dikejar.

Yang terjadi sebenarnya adalah langkah Google masuk ke penyimpanan energi durasi panjang dengan menggandeng perusahaan Italia, Energy Dome. Bukan Google mendadak menciptakan baterai dari nol, melainkan kerja sama komersial global disertai investasi strategis. Nilai investasinya tidak dibuka ke publik.

Fakta kuncinya konkret: sistem yang dibicarakan Google, CO2 Battery milik Energy Dome, diklaim bisa menyimpan listrik dan menyalurkannya kembali selama 8 jam sampai 24 jam.
Di bagian tengah artikel ini, kita bedah kenapa ia dijuluki Baterai Udara, seperti apa bentukannya di lapangan, dan apa artinya untuk Indonesia yang sedang mengejar transisi energi.

Indeks Berita

Toggle
  • “Baterai Udara” yang dimaksud Google itu apa, dan kenapa pakai CO2
  • Begini bentukannya: kubah raksasa, tangki, dan turbin kompresor
    • Wajib Tahu:
  • Kenapa Google masuk ke Baterai Udara sekarang, dan apa dampaknya untuk Indonesia

“Baterai Udara” yang dimaksud Google itu apa, dan kenapa pakai CO2

Dari penjelasan resmi Google, teknologi yang mereka dorong adalah CO2 Battery, sebuah sistem penyimpanan energi berbasis siklus termomekanik. Intinya begini: listrik berlebih dari sumber bersih (misalnya surya atau angin) dipakai untuk mengompresi karbon dioksida sampai menjadi cairan. Saat listrik dibutuhkan, CO2 cair itu “dibangunkan” kembali, mengembang, lalu memutar turbin untuk menghasilkan listrik. Prosesnya disebut berlangsung dalam loop tertutup, jadi CO2-nya tidak dipakai lalu dibuang.

Di sini letak sumber salah paham yang sering muncul di publik. Kata “udara” membuat seolah-olah Google menemukan cara mengambil energi gratis dari udara. Padahal yang terjadi bukan mencuri listrik dari angin. CO2 berperan sebagai fluida kerja dalam sebuah mesin penyimpanan energi skala utilitas.

Reuters menulis teknologi ini mengandalkan kompresi dan pencairan karbon dioksida, lalu ekspansi untuk menghasilkan listrik kembali. Dalam narasi Energy Dome dan Google, salah satu nilai jualnya adalah tidak bergantung pada bahan baku tertentu seperti litium yang pasokannya ketat dan harganya fluktuatif.

Istilah “Baterai Udara” di Indonesia lebih tepat dipahami sebagai label populer, bukan definisi ilmiah. Nama produk resminya CO2 Battery. Google memakai istilah itu konsisten dalam rilis dan blog resminya.

Begini bentukannya: kubah raksasa, tangki, dan turbin kompresor

Sekarang bagian yang paling bikin orang menoleh: bentuk fisiknya.

Satu unit CO2 Battery bukan satu “baterai” yang bisa dipegang. Ia adalah fasilitas. Dalam liputan IEEE Spectrum, Energy Dome digambarkan mengoperasikan fasilitas penyimpanan energi durasi panjang 20 megawatt di Ottana, Sardinia, dan menyebut replika sistemnya akan mulai muncul di berbagai benua pada 2026.

Dari foto dan rendering yang dirilis Energy Dome, Anda akan melihat beberapa komponen utama:

  • Kubah besar (dome) sebagai tempat penyimpanan CO2 dalam fase gas.

  • Tangki dan peralatan industri untuk mengompresi, menyimpan, lalu menguapkan CO2 cair.

  • Turbin dan unit mekanik yang mengubah energi dari proses ekspansi menjadi listrik.

Bentuknya juga bervariasi tergantung lokasi proyek. Ada yang tampak seperti kubah bundar besar, ada pula rendering fasilitas yang memanjang seperti hanggar raksasa di dekat pembangkit surya.

Google sendiri, lewat Engadget yang mengutip penjelasan Energy Dome, menyebut CO2 ditaruh dalam “baterai berbentuk kubah”. Lagi-lagi, ini bukan gaya bahasa. Memang ada dome fisik yang jadi ciri.

Ini yang perlu dicermati: “baterai” di sini tidak identik dengan baterai kimia seperti di ponsel atau mobil listrik. CO2 Battery adalah penyimpanan energi mekanik-termal. Kelebihannya, menurut klaim pihak yang terlibat, ia bisa mengisi celah jam-jam ketika matahari sudah turun atau angin sedang tidak bertiup, tanpa harus mengandalkan baterai litium konvensional.

Wajib Tahu:

  1. Google menyebut CO2 Battery dapat menyalurkan listrik kembali selama 8 jam sampai 24 jam.

  2. Kerja sama Google dan Energy Dome diumumkan 25 Juli 2025, sekaligus investasi strategis yang nilainya tidak diungkap.

  3. Reuters mencatat fasilitas komersial Energy Dome di Sardinia memiliki kapasitas 20 megawatt dan disebut mampu memasok listrik untuk puluhan ribu rumah (angka rujukan rumah bergantung asumsi konsumsi).

  4. IEEE Spectrum menulis fasilitas 20 megawatt Energy Dome mulai beroperasi pada Juli 2025, dan 2026 akan jadi fase replikasi ke berbagai wilayah.

Kenapa Google masuk ke Baterai Udara sekarang, dan apa dampaknya untuk Indonesia

Kalau ditarik ke akar masalahnya, Google sedang mengejar target operasional 24/7 carbon-free energy pada 2030. Dalam bahasa sederhana, mereka ingin listrik untuk operasi mereka benar-benar bersih di setiap jam, bukan sekadar “dibeli” di atas kertas. Tantangannya, energi terbarukan itu tidak selalu hadir saat beban listrik sedang tinggi.

Di sisi lain, lonjakan beban listrik dari data center menjadi cerita global. Reuters dalam beberapa laporan energi mencatat data center, termasuk yang menopang AI, ikut mendorong kenaikan konsumsi listrik di berbagai negara.
IEA juga menyoroti hubungan antara AI, data center, dan permintaan listrik yang meningkat, meski kontribusinya terhadap total pertumbuhan permintaan global memiliki porsi tertentu dalam skenario dasar IEA.

Di Indonesia, isu ini terasa dalam dua lapis.

Lapis pertama, target energi. Pemerintah sejak lama memasang target bauran EBT 23 persen pada 2025, yang sering disebut dalam materi resmi Kementerian ESDM.
Namun, sejumlah pihak juga mengingatkan realisasi dan lintasan pencapaiannya tidak mudah. IESR, misalnya, mencatat tantangan mengejar target tersebut.

Lapis kedua, kebutuhan sistem listrik. Energi terbarukan skala besar memerlukan fleksibilitas grid. Saat surya berlimpah siang hari, listriknya harus bisa “ditampung” agar tidak terbuang. Saat malam, butuh pasokan stabil. Di sinilah teknologi penyimpanan energi durasi panjang menjadi pembicaraan serius, bukan sekadar eksperimen laboratorium.

Bagi Indonesia, Baterai Udara versi CO2 Battery ini belum berarti akan berdiri besok di pinggir Jakarta. Google tidak mengumumkan lokasi proyeknya di Indonesia. Tapi ada dampak tidak langsung yang nyata: jika teknologi semacam ini terbukti ekonomis dan bankable, ia bisa ikut mendorong model baru pembiayaan energi terbarukan dan infrastruktur penyangga, termasuk di pasar Asia Pasifik yang disebut menjadi salah satu fokus pengembangan proyek.

Ada juga sisi peluang. Pertumbuhan data center di kawasan, termasuk Indonesia, sudah menjadi perhatian berbagai laporan pasar. Ketika pasokan listrik menjadi kendala, pemain data center dan pembangkit akan makin mencari teknologi penyimpanan yang bisa diandalkan, bukan hanya untuk 2 jam atau 4 jam, tetapi mendekati durasi semalam.

Namun, bagian waspada tetap harus disebut. Baterai Udara jenis ini bukan solusi tunggal. Ia butuh lahan, infrastruktur, izin, dan integrasi dengan jaringan. Biaya, efisiensi, serta kinerja jangka panjangnya akan diuji di proyek-proyek komersial berikutnya. Jadi, jangan terkecoh oleh judul bombastis. Ini teknologi penyimpanan energi skala grid yang sedang dipacu, bukan revolusi baterai ponsel.

Di depan, arah ceritanya akan ditentukan oleh satu hal: seberapa cepat proyek-proyek nyata dibangun dan seberapa stabil performanya ketika dipakai harian. Google sudah mengambil “langkah pertama” yang mereka umumkan sendiri. Bola berikutnya ada di lapangan proyek, regulator, dan pembeli listrik di tiap negara.

Hobi Games ? 

Top Up Game Murah Disini

Tags:

Baterai UdaraCO2 BatteryData CenterEnergi TerbarukanEnergy DomeGooglepenyimpanan energitransisi energi
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Kesalahan Diet Yang Sering Di Lakukan Wanita
Previous

Kesalahan Diet Paling Sering pada Wanita, Diam-diam Picu Lemas, Moody, sampai Yoyo

PusatFocus - Pendemo Ditangkap Iran
Next

Pendemo Ditangkap di Iran, TV Negara Sebut 3.000 Orang Dijaring Usai Demo Besar

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.