Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

PusatFocus - Prediksi BMKG Iklim RI 2026
Berita

Prediksi BMKG 2026: Hujan Ekstrem Awal Tahun, Karhutla Saat Kemarau, Ini yang Perlu Indonesia Siapkan

By Agung Leonardo
January 10, 2026 6 Min Read

Pusat Focus – Kalimat “Prediksi BMKG” mendadak terasa seperti kebutuhan primer di awal 2026. Bukan cuma karena hujan lebat yang datang beruntun, tapi karena orang ingin tahu satu hal yang lebih besar: sepanjang 2026 ini, Indonesia akan menghadapi La Niña, El Niño, atau justru tahun yang relatif “normal”?

Jawaban resminya mulai terbaca dari rilis dan produk iklim BMKG yang terbit menjelang pergantian tahun. Pada 24 Desember 2025, BMKG menyatakan iklim 2026 secara umum diprediksi bersifat Normal. Angkanya tegas: 94,7 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan tahunan kategori normal, dengan kisaran 1.500 milimeter sampai 4.000 milimeter per tahun. Ada juga bagian yang perlu dicatat karena sering luput saat orang buru-buru menyimpulkan: 5,1 persen wilayah diprediksi berada pada kategori Atas Normal.

Kenapa penting sekarang? Karena “normal” dalam bahasa iklim tidak selalu berarti “aman”. BMKG justru menekankan perhatian pada La Niña lemah di awal tahun dan potensi hidrometeorologi ekstrem seperti banjir serta longsor. Lalu saat kemarau, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa meningkat sehingga mitigasi diminta dimulai lebih dini.

Dampak paling dekat untuk pembaca Indonesia sudah terasa pada minggu pertama Januari. Dalam prospek cuaca mingguan yang diperbarui 8 Januari 2026, BMKG mencatat hujan ekstrem di Maluku Utara 256,3 milimeter per hari, dan hujan sangat lebat di Papua Barat 114,6 milimeter per hari serta Jawa Barat 113,2 milimeter per hari. BMKG mengaitkan kenaikan intensitas hujan ini dengan kombinasi faktor, termasuk La Niña lemah dan aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang aktif.

Ada satu “teaser” yang sering membuat orang salah paham: pertanyaan La Niña atau El Niño itu bukan cuma soal label. Kuncinya ada pada waktu. Awal 2026 bisa berbeda jauh dengan pertengahan 2026. Di bagian tengah artikel ini, kita bedah apa yang disampaikan BMKG dan apa yang dibaca lembaga global, lalu kita tarik ke pertanyaan paling praktis: apa yang harus disiapkan Indonesia dari sekarang.

Indeks Berita

Toggle
  • Prediksi BMKG untuk 2026: “Normal” dengan catatan tebal di awal dan tengah tahun
  • La Niña atau El Niño di 2026? Ini yang terbaca dari BMKG dan lembaga global
    • Wajib Tahu:
  • Dampak paling masuk akal di 2026: banjir dan longsor dulu, lalu karhutla mengintai
  • Apa artinya untuk Indonesia: jangan tunggu “fix” El Niño, disiplin pada pembaruan

Prediksi BMKG untuk 2026: “Normal” dengan catatan tebal di awal dan tengah tahun

BMKG menyusun pandangan iklim 2026 dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer-laut global serta pemodelan. Produk “Climate Outlook 2026” dipublikasikan pada 21 Desember 2025 dan menjadi landasan narasi “normal” yang banyak dikutip.

Rilis 24 Desember 2025 menjadi semacam ringkasan yang paling mudah dicerna publik. Selain angka 94,7 persen wilayah kategori normal, BMKG menyoroti dua simpul risiko yang wajib dibaca dengan tenang:
Pertama, awal 2026 masih berada dalam bayang-bayang La Niña lemah yang dapat meningkatkan peluang hujan lebat dan bencana hidrometeorologi. Kedua, periode kemarau tetap berpotensi membawa kenaikan risiko karhutla, sehingga mitigasi diminta dilakukan lebih dini dan sistematis.

Untuk konteks musim, BMKG juga merilis prediksi musim hujan 2025/2026. Dalam pemutakhiran 10 Desember 2025, BMKG menyebut analisis pada November 2025 menunjukkan La Niña lemah dengan nilai sekitar -0,77, dan diprediksi bertahan hingga awal 2026. Pada saat yang sama, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase negatif sekitar -0,83 dan diprediksi bertahan hingga Desember 2025. Kombinasi variabel-variabel ini penting karena dapat memengaruhi pasokan uap air dan pola hujan Indonesia.

Di luar angka, “Prediksi BMKG” juga menegaskan pola puncak musim hujan 2025/2026 yang berbeda antar wilayah. BMKG menyebut puncak musim hujan diprediksi banyak terjadi November sampai Desember 2025 di Indonesia bagian barat, dan Januari sampai Februari 2026 di bagian selatan dan timur. Durasi musim hujan juga diprediksi lebih panjang dari biasanya.

La Niña atau El Niño di 2026? Ini yang terbaca dari BMKG dan lembaga global

Pertanyaan “ada La Niña, ada El Niño?” sah, tapi jawabannya harus dibelah dua: status sekarang, lalu peluang ke depan.

Status awal 2026 relatif konsisten antar lembaga. NOAA melalui Climate Prediction Center merilis ENSO Diagnostic Discussion pada 8 Januari 2026 dengan status La Niña Advisory. Dalam ringkasannya, NOAA menyebut La Niña masih berlangsung, lalu ada peluang sekitar 75 persen untuk transisi ke ENSO-netral pada periode Januari sampai Maret 2026, dan kondisi netral kemungkinan bertahan setidaknya hingga akhir musim semi belahan bumi utara 2026. NOAA juga menambahkan catatan penting: untuk horizon yang lebih jauh, peluang El Niño mulai “tumbuh”, tetapi ketidakpastian masih tinggi, terutama karena akurasi model menurun saat melewati musim semi.

WMO juga selaras. Dalam pembaruan 4 Desember 2025, WMO memprediksi La Niña yang lemah dan menyebut peluang kembali ke ENSO-netral meningkat sekitar 65 persen sampai 75 persen untuk rentang Januari sampai Maret 2026 dan Februari sampai April 2026, serta menekankan kecilnya peluang El Niño pada periode tersebut.

Dari sisi model akademik yang kerap dijadikan referensi, IRI (Columbia University) pada 19 Desember 2025 menyatakan mulai periode Januari sampai Maret hingga Agustus sampai Oktober 2026, outlook lebih condong ke ENSO-netral, dengan probabilitas yang berubah seiring musim.

Ini yang perlu dicermati: hingga dokumen-dokumen tersebut, sinyal kuatnya adalah La Niña lemah melemah menuju netral pada paruh awal 2026. Untuk El Niño pada paruh kedua 2026, belum ada konsensus yang bisa diangkat sebagai “fakta tunggal”. Ada indikasi peluang meningkat pada horizon jauh menurut NOAA, tetapi masih dalam wilayah “perlu dipantau”.

Wajib Tahu:

  1. BMKG memprakirakan 94,7 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan tahunan kategori Normal pada 2026, dengan kisaran 1.500 milimeter sampai 4.000 milimeter per tahun.

  2. BMKG mencatat hujan ekstrem 256,3 milimeter per hari di Maluku Utara dalam prospek cuaca mingguan yang diperbarui 8 Januari 2026, dengan La Niña lemah dan MJO sebagai bagian pemicunya.

  3. NOAA pada 8 Januari 2026 menempatkan ENSO pada status La Niña Advisory dan memberi peluang sekitar 75 persen transisi ke ENSO-netral pada Januari sampai Maret 2026.

  4. WMO menyebut peluang kembali ke ENSO-netral naik sekitar 65 persen sampai 75 persen untuk periode awal 2026, serta kecilnya peluang El Niño pada rentang tersebut.

Dampak paling masuk akal di 2026: banjir dan longsor dulu, lalu karhutla mengintai

Kalau “Prediksi BMKG” dibaca sebagai peta kerja, maka 2026 punya dua bab besar.

Bab pertama ada di awal tahun. La Niña lemah, MJO aktif, suhu muka laut yang hangat, dan gelombang atmosfer bisa bertemu di waktu yang sama. Hasilnya bukan selalu hujan harian biasa, melainkan episode hujan yang bisa tiba-tiba lebat, disertai kilat, angin kencang, dan memicu banjir bandang atau longsor di titik rawan. BMKG dalam prospek 9 sampai 15 Januari 2026 sudah mengeluarkan kategori “Siaga” untuk sejumlah wilayah dengan potensi hujan lebat sampai sangat lebat.

Bab kedua biasanya datang saat kemarau. BMKG sudah menyinggung risiko karhutla yang dapat meningkat dan butuh mitigasi lebih dini. Ini relevan untuk wilayah yang secara historis rentan, terutama ketika ada jeda hujan panjang, gambut mengering, dan aktivitas pembakaran lahan meningkat. Dalam bahasa praktis, langkah-langkah pencegahan tidak bisa menunggu sampai titik api muncul.

Sektor yang paling cepat merasakan adalah pertanian dan pangan. Pola hujan yang berubah bisa menggeser kalender tanam, memicu serangan hama tertentu, dan meningkatkan risiko gagal panen lokal jika banjir atau genangan terjadi pada fase kritis. Di sisi lain, jika periode kering lebih panjang dari yang diperkirakan, tekanan pada irigasi dan ketersediaan air meningkat.

Sektor logistik juga tidak kebal. Hujan lebat berhari-hari bisa mengganggu akses jalan di daerah perbukitan dan memukul distribusi, terutama untuk wilayah kepulauan yang bergantung pada jalur laut dan udara. BMKG dalam prospek awal Januari bahkan mengingatkan risiko untuk perjalanan darat, laut, dan udara.

Apa artinya untuk Indonesia: jangan tunggu “fix” El Niño, disiplin pada pembaruan

Pertanyaan publik sering berhenti pada El Niño, seolah segala risiko baru muncul jika El Niño datang. Padahal, rilis BMKG menunjukkan ancaman nyata sudah ada tanpa perlu menunggu label itu: hujan ekstrem di awal tahun dan potensi karhutla saat kemarau.

Apa yang kemungkinan terjadi berikutnya, berdasarkan data resmi?
Pertama, La Niña lemah masih menjadi latar awal 2026, lalu peluang besar menuju ENSO-netral pada paruh awal tahun menurut NOAA dan WMO.
Kedua, perdebatan El Niño di paruh kedua 2026 belum bisa dijadikan pegangan tunggal. Lembaga global mengakui peluang bisa meningkat pada horizon jauh, tetapi ketidakpastiannya tinggi. Artinya, untuk kebijakan dan kesiapsiagaan, yang paling rasional adalah memegang pembaruan berkala, bukan menunggu satu “vonis” tahunan.
Ketiga, BMKG sendiri menekankan pemantauan rutin melalui kanal peringatan dini dan prospek mingguan. Poin ini terdengar sederhana, tapi sering diabaikan: prakiraan harian dan mingguan sering lebih berguna untuk keputusan operasional daripada debat ENSO yang terlalu jauh.

Kalau harus diringkas untuk pembaca: Prediksi BMKG memberi pesan “normal” untuk 2026, tetapi normal yang disertai catatan kewaspadaan. Awal tahun berisiko hujan ekstrem. Menjelang kemarau, risiko karhutla harus diperlakukan sebagai pekerjaan rumah, bukan berita musiman. Dan untuk soal La Niña atau El Niño, jawabannya hari ini adalah La Niña lemah yang cenderung melemah menuju netral. Untuk El Niño di 2026, sinyalnya masih tahap peluang, belum kepastian.

Hobi Games ?

Top Up Game Murah Disini

Tags:

banjirBMKGEl Niñoiklim 2026karhutlakemarauLa Ninamusim hujan
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Perang Saudara Arab
Previous

Perang Saudara Arab di Suriah Memanas, Barat Turun Tangan dan Turki Pasang Nada Keras

PusatFocus - Pembangunan JPO Sarinah
Next

JPO Sarinah Balik Lagi, Warga Bilang Lebih Tenang Menyeberang, Ini Alasannya

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.