
Bukan Changi, Bandara China Ini Jadi yang Terindah di Dunia 2026
Pusat Focus – Gelar “bandara terindah di dunia” resmi berpindah tangan. Bukan lagi Changi Singapura yang kerap dianggap standar emas, melainkan sebuah bandara di China yang mungkin belum banyak dikenal traveler global. Pada 6 Januari 2026, lembaga penghargaan arsitektur internasional Prix Versailles mengumumkan Bandara Internasional Yantai Penglai, Terminal 2, sebagai bandara dengan desain paling memikat di dunia. Penobatan ini bukan sekadar soal kemewahan, tapi bagaimana arsitektur, fungsi, dan pengalaman penumpang berpadu dalam satu kesatuan.
Kini bandara tak lagi sekadar ruang transit. Ia menjadi wajah pertama sebuah kota, bahkan sebuah negara. Perubahan peran itu mendorong banyak negara berlomba menghadirkan terminal dengan konsep inovatif, estetika tinggi, dan efisiensi operasional. Kemenangan Yantai Penglai pada awal 2026 ini adalah penegasan bahwa tren desain bandara global telah bergeser. Fokusnya kini pada keberlanjutan, penyerapan budaya lokal, dan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi penumpang. Bagi Indonesia, momen ini adalah cambuk sekaligus pelajaran. Bagaimana bandara-bandara nasional bisa mengejar ketertinggalan dalam hal desain yang tak hanya fungsional, tapi juga bernilai seni tinggi.
Bandara China Raih Mahkota Desain Terindah di Dunia 2026
Penghargaan Prix Versailles 2025 untuk kategori bandara terindah diumumkan tepat di awal tahun 2026. Dalam daftar itu, Terminal 2 Bandara Internasional Yantai Penglai (YNT/ZSYT) di Provinsi Shandong, China, menduduki posisi puncak. Bandara ini menggeser nama-nama besar seperti Changi Singapura yang selama ini mendominasi pembicaraan.
Terminal seluas 167.000 meter persegi itu terentang di lahan yang memukau. Desainnya terinspirasi oleh Gunung Kunyu yang megah di sekitarnya. Atapnya yang lebar dan berbentuk gelombang menyampaikan dinamika dan harmoni alam sekitar. Kubah kaca membanjiri interior dengan cahaya alami, sementara aksen lambung kapal kayu di interiornya menghormati sejarah Jalur Sutra Maritim.
Dari segi tata letak, terminal ini berbentuk huruf E untuk mengoptimalkan alur penumpang dan efisiensi pergerakan. Arsitek utama di baliknya adalah firma Aedas, yang berhasil menerjemahkan lanskap pesisir Yantai ke dalam bahasa arsitektur modern. Bandara ini juga dilengkapi dengan atrium bertingkat, koneksi kereta api langsung, dan sembilan gerbang keberangkatan yang fleksibel untuk penerbangan domestik maupun internasional.
Jerome Gouadain, Sekretaris Jenderal Prix Versailles, dalam siaran resmi menyatakan bahwa bandara kini meninggalkan jejak yang dalam karena perannya yang terus berkembang dalam pertukaran internasional. “Fasilitas baru yang ada di bandara ini juga dapat dipandang sebagai suatu karya seni, atau setidaknya sebagai sesuatu yang indah,” lanjutnya. Pernyataan serupa ia sampaikan kepada media internasional, menekankan bahwa bandara modern harus bisa menjadi karya seni yang menghadapi tantangan aliran penumpang dan pesawat.
Tren Arsitektur Bandara: Dari Fungsi ke Karya Seni
Kemenangan Yantai Penglai bukanlah insiden tunggal. Ia adalah bagian dari tren global yang mengangkat bandara sebagai destinasi itu sendiri. Daftar Prix Versailles 2025 juga mencatat bandara-bandara lain yang menonjolkan keunggulan desain berkelanjutan dan konteks lokal.
Di urutan kedua, Bandara Marseille Provence di Prancis memukau dengan aula setinggi 22 meter yang seluruhnya dari kaca dan dibangun menggunakan 70% baja daur ulang. Desain minimalisnya menghadirkan pemandangan hijau Provençal dan laguna maritim. Bandara Roland Garros di Pulau Réunion (peringkat ketiga) menampilkan terminal kedatangan bioclimatik dengan “ngarai” pusat yang berfungsi sebagai cerobong termal untuk ventilasi alami. Lebih dari 90% pekerjaan konstruksinya diselesaikan oleh perusahaan lokal, mendongkrak ekonomi setempat.
Bandara Kansai Osaka (Jepang), Portland International (AS), dan San Francisco International (AS) juga masuk dalam daftar pendek. Masing-masing menghadirkan ciri khasnya: material alami khas Jepang, atap kayu besar yang menyatu dengan hutan Oregon, serta museum akreditasi pertama di dalam bandara.
Pola yang sama terlihat. Bandara terindah dunia kini adalah yang mampu menyatukan operasional yang efisien, ekologi yang bertanggung jawab, dan estetika yang memukau. Mereka bukan hanya gerbang negara, tetapi juga simbol warisan budaya dan komitmen terhadap masa depan planet ini.
Di Indonesia, Desain Bandara Mulai Digenjot
Lalu di mana posisi Indonesia? Prestasi bandara nasional sejauh ini lebih banyak di bidang layanan dan kepuasan penumpang. Pada April 2025, dua bandara Indonesia, yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai (DPS), berhasil masuk dalam daftar 100 bandara terbaik dunia versi Skytrax. Soekarno-Hatta bahkan naik tiga peringkat ke posisi ke-25, disusul Ngurah Rai di peringkat ke-72.
Direktur Utama InJourney Airports, Faik Fahmi, menyebut penghargaan itu sejalan dengan transformasi infrastruktur yang fokus pada pengalaman pelanggan, operasional berbasis ekosistem, dan pelayanan berkelas dunia. “Bandara sebagai wajah bangsa harus memiliki kualitas layanan yang baik sehingga memberikan kesan yang indah saat pertama kali orang mengunjungi Indonesia,” tambah Maya Watono, Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney.
Namun, dalam hal desain arsitektur yang mendapat pengakuan global seperti Prix Versailles, Indonesia masih belum terlihat. Upaya untuk mengejar ketertinggalan itu sebenarnya sudah dimulai. Proyek Bandara VVIP Ibu Kota Nusantara (IKN) dirancang dengan konsep yang menonjolkan budaya Kalimantan dan prinsip ramah lingkungan. Desain terminalnya mengadopsi unsur Rumah Panjang, Burung Rangkok, dan talawang (perisai suku Dayak). Arsitek Yori Antar, Adi Purnomo (Mamo), dan Reza terlibat dalam menciptakan narasi Nusantara melalui arsitektur.
Inisiatif itu patut diapresiasi. Namun, untuk bisa bersaing di panggung global, Indonesia perlu lebih berani berinvestasi dalam desain bandara yang tidak hanya fungsional dan hijau, tetapi juga memiliki nilai seni tinggi yang mampu bercerita tentang kekayaan budaya bangsa.
Apa Artinya bagi Traveler dan Pemerintah?
Bagi traveler, tren ini adalah kabar gembira. Bandara-bandara dengan desain menakjubkan akan membuat waktu transit menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pencahayaan alami, ruang terbuka, karya seni, dan material lokal yang digunakan menciptakan atmosfer yang menenangkan dan mengurangi stres perjalanan. Bandara seperti Yantai Penglai atau Marseille Provence menunjukkan bahwa terminal bisa menjadi tempat yang menginspirasi, bukan sekadar ruang tunggu yang monoton.
Bagi pemerintah dan pengelola bandara di Indonesia, momen ini adalah sinyal kuat. Kompetisi bandara global sudah melampaui sekadar fasilitas dan layanan. Desain arsitektur yang ikonik dan berkelanjutan menjadi nilai tambah yang powerful untuk meningkatkan daya tarik pariwisata dan investasi. Pembangunan bandara baru seperti IKN, atau renovasi bandara eksisting, harus memasukkan elemen desain yang kuat sebagai bagian dari strategi nasional.
Wajib Tahu: 5 Fakta tentang Bandara Terindah 2026
Luas Terminal Mencapai 167.000 m²: Terminal 2 Bandara Internasional Yantai Penglai terbentang di lahan seluas 167.000 meter persegi, setara dengan sekitar 23 lapangan sepak bola.
Terinspirasi Gunung dan Laut: Desain atapnya yang bergelombang terinspirasi oleh Gunung Kunyu di sekitarnya, sementara interiornya menghormati Jalur Sutra Maritim dengan aksen lambung kapal kayu.
Menggunakan 70% Baja Daur Ulang: Bandara Marseille Provence yang menempati peringkat kedua, menggunakan 70% baja daur ulang dalam konstruksi aula kacanya yang setinggi 22 meter.
Penghargaan Berbasis UNESCO: Prix Versailles adalah penghargaan arsitektur yang diselenggarakan bersama UNESCO, menekankan keunggulan operasional, ekologi, dan estetika.
Bandara Indonesia Masuk 100 Terbaik Skytrax: Meski belum masuk kategori desain terindah, dua bandara Indonesia (Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai) berhasil masuk daftar 100 bandara terbaik dunia versi Skytrax pada 2025.
Penutup
Kemenangan Bandara Internasional Yantai Penglai sebagai bandara dengan desain terindah di dunia di awal 2026 adalah penanda zaman. Arsitektur bandara kini dipandang sebagai karya seni yang harus menjawab tantangan fungsi, ekologi, dan estetika. Bagi Indonesia, ini adalah peluang emas untuk belajar. Prestasi di bidang layanan sudah diraih. Langkah berikutnya adalah mendorong lompatan dalam desain bandara yang tak hanya memudahkan perjalanan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang keindahan dan budaya Nusantara. Proyek Bandara VVIP IKN bisa menjadi awal yang baik, asalkan komitmen terhadap kualitas desain dan keberlanjutan dijaga konsisten. Jika itu terjadi, bukan mustahil di tahun-tahun mendatang nama bandara Indonesia akan muncul dalam daftar prestisius Prix Versailles.
Sumber : CNBC INDONESIA