
Korut Murka: “Sifat Jahat AS” Disorot usai Penangkapan Presiden Venezuela, Dunia Diminta Turun Tangan
Pusat Focus – Nada bicara Pyongyang kali ini tidak main-main. Korea Utara melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat menyusul operasi militer Washington di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro. Dalam pernyataan yang disiarkan Korean Central News Agency (KCNA), juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut menyebut tindakan AS sebagai “bentuk paling serius dari pelanggaran kedaulatan” dan menggambarkan perilaku Washington sebagai “rogue and brutal”, istilah yang diterjemahkan banyak media sebagai “liar dan brutal”.
Di titik inilah frasa Sifat Jahat AS mengemuka sebagai bingkai narasi yang dipakai Korut, bukan sekadar umpatan spontan, tetapi sebagai tuduhan politik yang diarahkan pada pola intervensi, tekanan, dan penggunaan kekuatan bersenjata. Pyongyang bahkan mengaitkan situasi Venezuela dengan guncangan yang lebih luas, menyebut dampaknya bisa berujung “katastrofik” terhadap keseimbangan hubungan regional dan internasional.
Kecaman Korut datang ketika sorotan dunia masih panas atas klaim Presiden Donald Trump bahwa AS akan “menjalankan” Venezuela untuk sementara waktu setelah operasi yang membawa Maduro ke New York. Bagi pembaca di Indonesia, isu ini terasa jauh, tapi sesungguhnya berhubungan langsung dengan dua hal yang sangat dekat: stabilitas geopolitik dan energi global.
Kecaman Korut dan narasi kedaulatan
Dalam laporan Reuters, pernyataan Korut menegaskan bahwa serangan AS di Venezuela adalah pelanggaran kedaulatan yang paling serius, sekaligus menuding Washington melakukan tindakan yang disebut “hegemony-seeking”, atau upaya mencari dominasi. CBS News yang mengutip pernyataan KCNA juga menekankan poin yang sama, bahwa Korut “minced no words” dalam mengecam penangkapan Maduro sebagai pelanggaran kedaulatan.
Bagi Pyongyang, istilah Sifat Jahat AS bukan hanya label, tetapi perangkat komunikasi: membangun citra AS sebagai negara yang, menurut mereka, memaksakan kehendak lewat kekuatan. Korut secara konsisten memakai isu kedaulatan untuk menyerang legitimasi kebijakan luar negeri AS, terutama saat Washington melakukan operasi lintas batas tanpa mandat internasional yang jelas.
Namun penting dicatat, “Sifat Jahat AS” dalam konteks ini adalah framing dari Korut. Ini bukan kesimpulan objektif yang berdiri sendiri, melainkan narasi politik yang dipakai Pyongyang untuk menilai tindakan AS.
Apa yang terjadi di Venezuela menurut laporan internasional
Rangkaian peristiwa yang memicu reaksi Korut bermula dari operasi militer AS di Venezuela yang dilaporkan terjadi pada 3 Januari 2026. Berbagai media internasional melaporkan bahwa operasi itu menyasar Caracas dan beberapa titik lain, lalu Maduro dan istrinya dibawa ke New York untuk menghadapi proses hukum terkait tuduhan yang disampaikan Washington.
The Guardian menyorot perdebatan legalitas tindakan AS dan memuat pandangan para ahli hukum yang menilai operasi tersebut berpotensi melanggar prinsip larangan penggunaan kekuatan dalam Piagam PBB, kecuali dalam kondisi tertentu seperti pembelaan diri atau mandat Dewan Keamanan.
Reaksi global pun terbelah. Axios merangkum adanya gelombang kecaman dari sejumlah negara yang menilai tindakan AS melewati batas, sementara ada juga pihak yang bersikap lebih hati-hati atau bahkan memberi dukungan. Washington Post menulis China mengecam keras serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional dan ancaman stabilitas Amerika Latin, menambah daftar tekanan diplomatik terhadap Washington.
Dalam pusaran itulah Korut masuk, menempatkan diri sebagai pengkritik vokal, dan mengeklaim tindakan AS di Venezuela adalah bukti terbaru “watak” Washington. Di mata Pyongyang, ini menguatkan narasi Sifat Jahat AS yang selama ini mereka gaungkan.
Wajib Tahu:
Kecaman Korut muncul berbarengan dengan uji coba rudal: AP melaporkan Korut meluncurkan beberapa rudal balistik ke perairan timur pada 3 Januari 2026, dan pada saat yang sama Kementerian Luar Negeri Korut juga mengkritik operasi AS di Venezuela.
Pernyataan Korut disiarkan KCNA, lalu dikutip Reuters: Ini penting karena KCNA adalah corong resmi negara, sehingga pernyataan tersebut mencerminkan posisi resmi Pyongyang, bukan opini individu.
Isu Venezuela langsung menyentuh kepentingan energi: Walau fokus artikel ini pada kecaman Korut, dinamika Venezuela juga memantik diskusi tentang minyak dan pengaruh global, sehingga respons negara lain ikut cepat dan keras.
Mengapa Pyongyang ikut bersuara
Ada yang bertanya, mengapa Korut, yang geografisnya jauh dari Caracas, begitu vokal? Jawabannya ada pada dua kepentingan: ideologi dan strategi.
Pertama, ideologi. Korut sejak lama membangun legitimasi domestik dengan narasi anti-AS. Ketika ada peristiwa besar yang bisa dipakai untuk memperkuat gambaran Sifat Jahat AS, Pyongyang cenderung memanfaatkannya sebagai amunisi propaganda politik. Dalam bahasa mereka, ini bukan sekadar urusan Venezuela, tetapi contoh “imperialisme” yang menurut Korut mengancam negara mana pun.
Kedua, strategi. Reuters menulis kecaman Korut keluar pada hari yang sama saat Korut melakukan peluncuran rudal balistik dan ketika pemimpin Korea Selatan memulai kunjungan kenegaraan ke China, sekutu kunci Pyongyang. Ini membuat konteksnya lebih tajam: Korut sedang mengirim sinyal ke banyak arah sekaligus, ke Washington, ke Seoul, dan ke Beijing.
Dengan kata lain, kecaman soal Venezuela bekerja sebagai “panggung tambahan” yang menegaskan posisi Korut sebagai penentang keras kebijakan AS, sembari menutupi agenda lain yang sama pentingnya bagi Pyongyang.
Di titik ini, frasa Sifat Jahat AS berfungsi ganda: menjadi senjata retorik untuk menyerang tindakan AS, sekaligus alat konsolidasi pesan internal bahwa Korut tetap “melawan” dominasi Washington.
Dampak ke peta geopolitik dan cara dunia membaca AS
Yang paling menarik, pernyataan Korut tidak berdiri sendiri. Ia mempertebal polarisasi global yang sudah tercipta sejak kabar penangkapan Maduro merebak.
Pertama, isu legalitas dan preseden. The Guardian menekankan kekhawatiran bahwa tindakan AS dapat menjadi preseden buruk bagi tatanan internasional jika negara kuat merasa bisa memakai kekuatan militer untuk menangkap pemimpin negara lain tanpa mandat internasional yang jelas. Di ruang semacam itu, negara-negara yang sejak lama anti-AS, termasuk Korut, mendapat bahan untuk menegaskan tuduhan mereka tentang Sifat Jahat AS.
Kedua, efek domino diplomatik. Axios dan Washington Post menggambarkan bagaimana negara-negara besar, termasuk China, mengecam serangan AS dan menilai langkah itu mengganggu stabilitas Amerika Latin. Ketika pemain besar masuk, negara-negara lain terdorong memilih posisi atau setidaknya mengeluarkan pernyataan.
Ketiga, implikasi pada stabilitas kawasan lain. AP mengaitkan momen ini dengan dinamika Asia Timur: Korut meluncurkan rudal, sementara pemimpin Korea Selatan berada dalam agenda diplomasi penting ke China. Di sini terlihat satu benang merah: krisis di satu benua bisa menjadi “bahan bakar” tensi di benua lain, karena narasi, aliansi, dan kompetisi kekuatan saling terhubung.
Untuk publik Indonesia, pelajaran utamanya sederhana: saat Korut menuduh Sifat Jahat AS, yang sedang terjadi sebenarnya bukan cuma perang kata-kata. Ini perebutan narasi global tentang siapa yang dianggap melanggar aturan, siapa yang merasa berhak menegakkan aturan, dan siapa yang mengklaim menjadi korban dari aturan yang dibentuk negara kuat.
Pada akhirnya, kecaman Korut atas penangkapan Presiden Venezuela memberi gambaran jelas: Pyongyang membaca operasi AS sebagai bukti baru untuk menjustifikasi garis politik anti-Washington. Tetapi bagi dunia internasional, perdebatan lebih besarnya adalah soal kedaulatan, legalitas penggunaan kekuatan, dan dampaknya pada stabilitas global. Di tengah situasi yang masih bergerak cepat, satu hal tampak pasti: label Sifat Jahat AS akan terus dipakai Korut sebagai senjata retorik, selama peristiwa-peristiwa seperti ini terus terjadi.
Hobi Games ?