Skip to content
-
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

Pusat Focus Logo Pusat Focus Logo Pusat Focus

Pusat Informasi Untuk Semua

  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pasar Modal & Crypto
    • Bisnis
    • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Sports
  • Travel
  • Kesehatan
  • Teknologi
Close

Search

IHSG Runtuh Ke Level 7.337
Pasar Modal & Crypto

Babak Belur di 2025! Ini Deretan Bursa Global “Saham Terburuk” dan Biang Keroknya, Indonesia Termasuk?

By Agung Leonardo
January 1, 2026 5 Min Read

Pusat Focus – Saham Terburuk Global

Tahun 2025 menutup kalender pasar dengan dua wajah. Di satu sisi, banyak indeks besar dunia berpesta: Wall Street menyegel kenaikan tahunan, sementara saham global mencetak performa kuat untuk tahun ketiga berturut-turut. Namun di sisi lain, ada barisan bursa yang pulang dengan kepala tertunduk, menjadi bahan pembicaraan investor sebagai “Saham Terburuk” sepanjang 2025.

Yang menarik, daftar bursa paling memerah ini tidak selalu berasal dari negara kecil. Ada pasar besar yang terpukul kombinasi komoditas, geopolitik, arah kebijakan, hingga faktor klasik yang kerap diremehkan investor ritel: kurs mata uang. Karena itu, ketika orang menyebut “Saham Terburuk”, kita perlu bertanya dulu: terburuk menurut siapa, dihitung dalam mata uang apa, dan memakai acuan indeks yang mana?

Dalam rekap 2025 ini, benang merahnya jelas: saat mayoritas pasar global naik, beberapa bursa justru tertahan, bahkan turun signifikan. Data dari sejumlah sumber tepercaya menunjukkan pasar Saudi Arabia melemah tajam, Thailand terseret turun, Filipina menutup tahun di zona merah, sementara Turki menjalani tahun penuh guncangan akibat ketidakpastian politik dan volatilitas nilai tukar. Di tengah daftar bursa yang terseok itu, pertanyaan “apakah Indonesia termasuk?” juga ramai, apalagi diskusi “Saham Terburuk” kerap mencomot satu negara tanpa melihat konteks.

Kabar baiknya, Indonesia justru menutup 2025 dengan catatan positif dari sisi indeks domestik. KSEI mencatat IHSG naik sekitar 22,1% sepanjang 2025 dan kapitalisasi pasar menembus Rp 15.810 triliun. Itu jauh dari label “Saham Terburuk”, setidaknya jika acuannya adalah IHSG dalam rupiah dan performa pasar domestik.

Indeks Berita

Toggle
  • Peta bursa paling memerah sepanjang 2025
    • Wajib Tahu:
  • Saudi Arabia terpukul: minyak melemah, raksasa energi ikut terseret
  • Asia Tenggara yang tersendat: Thailand dan Filipina di zona merah
  • Turki: kombinasi politik dan mata uang yang bikin pasar bergetar
  • Apakah Indonesia termasuk “Saham Terburuk” 2025?

Peta bursa paling memerah sepanjang 2025

Kalau 2025 adalah lomba lari, sebagian besar pelari di depan berlari kencang. Tapi ada beberapa yang justru tersandung. Berikut gambaran ringkas bursa yang banyak disebut sebagai kelompok terlemah sepanjang 2025, beserta konteks pemicunya:

  1. Saudi Arabia (Tadawul)
    Reuters melaporkan indeks Saudi turun sekitar 13% sepanjang 2025. Tekanan minyak dan saham energi berpengaruh besar, termasuk pelemahan saham Saudi Aramco yang disebut turun lebih dari 15% dan menjadi tahun terburuk sejak IPO 2019.

  2. Thailand (SET Index)
    Sejumlah laporan media Thailand menyebut SET Index turun sekitar 10% sepanjang 2025. Tekanan datang dari arus keluar asing, sentimen risiko, serta isu domestik yang memengaruhi kepercayaan pasar.

  3. Filipina (PSEi)
    PSEi menutup tahun dengan kinerja negatif. Media bisnis Filipina melaporkan indeks acuan itu mencatat rugi year-to-date sekitar 7,29% di akhir 2025.

  4. Turki (pasar saham Turki)
    Turki menjalani 2025 yang keras, terutama karena gejolak politik dan tekanan pada mata uang lira. Reuters mencatat momen-momen pasar yang terpukul ketika lira jatuh tajam dan saham terkoreksi dalam periode tertentu. Dari sisi indeks berbasis MSCI, data fact sheet MSCI menunjukkan performa yang sempat negatif hingga akhir November 2025, menggambarkan betapa beratnya tahun tersebut bagi investor global.

Empat pasar ini menjadi rujukan saat orang mencari “Saham Terburuk” sebagai pelajaran. Bukan semata soal angka turun, tetapi juga soal “mengapa bisa jatuh”, karena faktor pemicunya dapat menjadi alarm untuk pasar lain.

Wajib Tahu:

Istilah “Saham Terburuk” sering menipu kalau Anda membandingkan pasar lintas negara tanpa menyamakan basis mata uang dan jenis indeks. Indeks lokal seperti IHSG, SET, atau TASI dihitung dalam mata uang domestik. Sementara indeks global seperti MSCI dihitung dalam basis mata uang tertentu dan komposisinya bisa berbeda. Akibatnya, sebuah bursa bisa terlihat “naik” bagi investor lokal, tetapi “turun” bagi investor asing karena kurs melemah. Inilah sebabnya perdebatan “Indonesia masuk daftar Saham Terburuk atau tidak” bisa berubah total hanya karena perbedaan acuan.

Saudi Arabia terpukul: minyak melemah, raksasa energi ikut terseret

Mengapa Saudi masuk sorotan ketika membahas “Saham Terburuk” 2025? Kata kuncinya: energi.

Sepanjang 2025, harga minyak bergerak tidak bersahabat. Reuters menulis minyak berpotensi mencatat penurunan tahunan lebih dari 15% pada 2025, didorong kekhawatiran oversupply, tensi geopolitik, dan dinamika kebijakan produksi. Bagi pasar Saudi yang memiliki bobot besar pada sektor energi, ini seperti angin kencang yang datang tepat dari depan.

Reuters juga mencatat indeks Saudi turun sekitar 13% sepanjang 2025 dan saham Saudi Aramco melemah lebih dari 15%. Ketika saham terbesar di pasar ikut jatuh, tarikan ke bawahnya tidak main-main: sentimen investor ikut menipis, rotasi sektor terbatas, dan ruang pemulihan menjadi lebih sempit.

Faktor lain yang ikut memperkuat tekanan adalah ketergantungan pada narasi makro berbasis komoditas. Saat minyak sedang lesu, pasar butuh katalis lain, entah dari sektor non-energi, reformasi, atau lonjakan laba perusahaan di luar energi. Jika katalis itu tidak cukup kuat, pasar cenderung tertahan. Di sinilah Saudi terlihat menonjol sebagai salah satu cerita “Saham Terburuk” tahun ini.

Asia Tenggara yang tersendat: Thailand dan Filipina di zona merah

Di Asia Tenggara, Thailand dan Filipina memberi pelajaran klasik: pasar bisa jatuh bukan karena satu sebab, tetapi karena kumpulan beban kecil yang menumpuk.

Untuk Thailand, sejumlah laporan media lokal menyebut SET Index turun sekitar 10% sepanjang 2025. Reuters juga sempat menulis Bursa Thailand menerapkan langkah-langkah untuk meredam volatilitas pada periode tertentu, termasuk pembatasan mekanisme perdagangan dan kebijakan terkait short-selling pada April 2025. Ketika bursa perlu menurunkan “kecepatan” pasar melalui aturan, biasanya ada dua hal yang sedang terjadi: volatilitas tinggi dan rasa khawatir yang menebal.

Lalu Filipina. PSEi mengakhiri 2025 dengan kerugian year-to-date sekitar 7,29% menurut laporan Inquirer Business dan Philstar. Angka ini menempatkan Filipina dalam pembicaraan “Saham Terburuk” bukan karena crash dramatis, tetapi karena konsisten tertahan ketika banyak pasar lain melaju.

Untuk investor, dua pasar ini memberi sinyal penting: arus dana asing, stabilitas kebijakan, dan kualitas pertumbuhan ekonomi domestik menjadi tiga faktor yang sering menentukan. Reuters bahkan sempat melaporkan fenomena arus keluar asing di sejumlah pasar Asia pada Desember 2025, menunjukkan bagaimana investor institusi global cepat berpindah ketika valuasi, risiko, atau peluang berubah.

Turki: kombinasi politik dan mata uang yang bikin pasar bergetar

Jika harus memilih satu pasar dengan cerita paling “berisik” di 2025, Turki ada di daftar teratas. Reuters melaporkan momen ketika pasar Turki terguncang, termasuk lira yang sempat jatuh tajam dan saham yang terkoreksi dalam episode volatilitas tinggi. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya memasang rem lebih cepat: risiko politik sulit dihitung, sementara pergerakan mata uang bisa memangkas return meski sahamnya sempat naik.

Dari sisi indeks global, fact sheet MSCI untuk Turki menunjukkan performa yang sempat negatif hingga akhir November 2025. Ini bukan sekadar angka, tetapi refleksi bahwa pasar tidak sedang baik-baik saja di mata investor internasional.

Yang membuat Turki layak masuk daftar “Saham Terburuk” bukan hanya soal naik-turun harga, melainkan soal ketidakpastian yang sering datang tiba-tiba. Dalam dunia investasi, risiko yang paling mahal adalah risiko yang tidak bisa diprediksi.

Apakah Indonesia termasuk “Saham Terburuk” 2025?

Jika acuannya IHSG dan ekosistem pasar domestik, jawabannya tegas: tidak.

KSEI merilis bahwa IHSG naik sekitar 22,1% sepanjang 2025, dengan kapitalisasi pasar tembus Rp 15.810 triliun. Bahkan, laporan Bloomberg juga menyebut indeks saham Indonesia berada di jalur performa terbaik sejak 2014 berkat aliran dana ritel. Jadi, narasi “Saham Terburuk” tidak nyambung jika diarahkan ke Indonesia tanpa catatan kaki.

Namun, tetap ada pelajaran yang relevan bagi investor Indonesia dari daftar bursa terlemah tadi: jangan terpaku pada satu sektor, jangan remehkan kurs, dan jangan anggap stabilitas politik sebagai sesuatu yang otomatis. Tahun 2025 menunjukkan, pasar yang terlihat kuat bisa berubah rapuh bila pilar utamanya goyah.

Pada akhirnya, label “Saham Terburuk” lebih tepat dibaca sebagai peta risiko, bukan sekadar daftar hitam. Karena pasar yang jatuh hari ini bisa menjadi pasar yang pulih paling kencang besok, asalkan faktor penentunya berubah.

Hobi Games ? 

Top Up Game Murah Disini

Tags:

Bursa GlobalIHSGMSCIPSEiRekap 2025sahamSET IndexTASI
Author

Agung Leonardo

Follow Me
Other Articles
PusatFocus - Raja Emas Dunia
Previous

Terungkap “Raja Emas Dunia” 2025: Ini Daftar Negaranya, Indonesia Masuk atau Cuma Penonton?

PusatFocus - Aston Villa Vs Nottingham
Next

Gak Cuma Tebak-tebakan: Aston Villa Vs Nottingham, Prediksi Line Up, Skor, dan Faktor Penentu yang Paling Masuk Akal

Recent Posts

  • Mohamed Salah Berpotensi Balik ke Italia, Sinyal Dari Dalam Mulai Tertahan
  • AI Sora Tutup, OpenAI Hentikan Aplikasi Video Setelah 6 Bulan
  • Tabungan Emas Volatil usai Perang Iran, Investor Ritel Terjepit
  • Bursa Efek Besok Buka, IHSG Dikepung Data AS dan Panas Perang
  • Ultimatum Trump 48 Jam Berakhir Kapan? Ini Hitungan Resminya

Recent Comments

No comments to show.
Pusat Focus adalah portal berita yang memberikan informasi untuk anda semua.

Kami memberikan informasi seputar trending news, berita viral, berita bola, berita entertainment, berita politik dan banyak topik hot lainnya.

Email: [email protected]
Call Us: 061 588 7564
Address: Jl Gatot Subroto Blok C NO 3, Panimbangan Johor, Medan, Sumatera Utara, Indonesia.

Info Pusat Focus

  • Partnership / Press Room
  • Advertise / Media Kit
  • DMCA / Copyright Notice
  • Kebijakan Koreksi Dan Hak Jawab
  • Disclaimer PusatFocus

Sitemap

  • Home
  • Terms & Conditions
  • Contact PusatFocus
  • Privacy Policy
  • About PusatFocus
© Copyright 2026 — Pusat Focus. All rights reserved.