
China Siapkan “Reset Total” Ponsel: Evolusi HP Masuk Babak Baru, Android Bisa Tergeser?
Pusat Focus – Di depan mata kita, ponsel sedang bergerak ke arah yang terasa seperti “reset”. Bukan sekadar kamera makin tajam atau layar makin cerah, melainkan perubahan fondasi: sistem operasi, chip, konektivitas, sampai bentuk fisiknya. Dan kali ini, arah angin kencang datang dari China.
Istilahnya sederhana: Evolusi HP tidak lagi berjalan pelan dan aman. China menyiapkan “perubahan total” yang tujuannya jelas, memutus ketergantungan pada teknologi Barat sambil menciptakan standar baru yang bisa mengunci ekosistem mereka sendiri. Potongan-potongan puzzle-nya sudah terlihat sepanjang 2024 hingga 2025, dan beberapa di antaranya mulai menyentuh pasar global.
Bukti paling gamblang ada pada langkah Huawei: mengembangkan HarmonyOS yang makin mandiri, bahkan dilaporkan versi terbarunya tidak lagi mendukung aplikasi Android. Reuters menulis Huawei membuat “break” dari Android lewat iterasi HarmonyOS berikutnya, sejalan dengan ambisi membangun ekosistem software sendiri.
Di saat bersamaan, Xiaomi juga menggencarkan konsolidasi software lewat HyperOS, sambil merapatkan barisan di sisi chip dengan rencana prosesor mobile buatan sendiri.
Jika dirangkum, Evolusi HP ala China punya satu benang merah: jangan lagi cuma jadi “pasar” atau “pabrik”, tetapi jadi penentu aturan main.
China tidak lagi puas jadi pabrik dunia
Selama bertahun-tahun, narasi besar industri smartphone global berputar di sekitar dua hal: Android vs iOS, lalu chip kelas atas yang didominasi beberapa pemain. China memainkan peran vital sebagai manufaktur dan pasar raksasa, tetapi keputusan strategis sering lahir di luar negeri.
Namun sejak pembatasan teknologi Amerika Serikat terhadap Huawei pada 2019, peta ambisi berubah. Reuters mencatat Huawei mendorong inisiatif kemandirian, termasuk pengembangan sistem operasi. Bahkan pada 2025, Huawei meluncurkan laptop pertama yang memakai HarmonyOS, sebagai bagian dari strategi mengurangi ketergantungan pada platform Barat.
Pada level industri yang lebih luas, Reuters juga melaporkan dorongan baru di China yang mengarah ke penggunaan peralatan produksi semikonduktor domestik untuk kapasitas baru. Ini menegaskan bahwa “kemandirian” tidak berhenti di slogan, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan rantai pasok.
Di titik ini, Evolusi HP bukan lagi soal fitur yang membuat kita terpukau di toko. Ini soal geopolitik teknologi yang mengubah apa yang ada di tangan kita.
Tiga poros perubahan: sistem operasi, chip, jaringan
Kalau ada tiga jalur utama yang sedang dikejar China untuk mengubah arah industri ponsel, jawabannya adalah software, silikon, dan sinyal.
Huawei dan “OS tanpa Android”
Salah satu gebrakan paling berani adalah pemutusan kompatibilitas Android. Reuters melaporkan Huawei disebut tidak akan mendukung aplikasi Android pada iterasi terbaru HarmonyOS, langkah yang memaksa ekosistem aplikasi bergerak ke jalur baru.
Di sisi adopsi, Reuters juga menyebut HarmonyOS sudah berjalan di ratusan juta perangkat, dan jumlah developer di ekosistemnya terus bertumbuh.
Dari perspektif pasar, inilah “taruhan besar” Evolusi HP: ketika OS tidak lagi bergantung pada Android, maka toko aplikasi, layanan, pembayaran, peta, hingga AI assistant bisa diarahkan ke model China sepenuhnya.
Xiaomi: ekosistem software, lalu chip sendiri
Xiaomi memperkuat narasi ekosistem lewat HyperOS, yang mereka dorong lintas perangkat. Xiaomi bahkan menyiapkan halaman resmi untuk HyperOS generasi terbaru dengan fokus konektivitas antardevais dan fitur produktivitas di layar besar.
Yang membuatnya makin “berat”, Reuters melaporkan Xiaomi akan meluncurkan chip mobile self-developed (XringO1) yang diproduksi dengan proses 3 nanometer oleh TSMC. Ini sinyal bahwa persaingan tidak berhenti di desain bodi, tetapi masuk ke jantung performa.
RISC-V dan peta jalan chip “lebih netral”
Di level arsitektur, Reuters melaporkan China menyiapkan kebijakan nasional untuk mendorong adopsi RISC-V secara luas, sebagai cara mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat.
Memang RISC-V belum otomatis berarti “besok semua HP pakai RISC-V”. Tetapi arah ini penting: bila arsitektur makin terbuka, China punya ruang lebih besar untuk mengembangkan chip tanpa tersandera lisensi tertentu. Dan itulah inti “perubahan total” dalam Evolusi HP.
Konektivitas: satelit dan jalan menuju 6G
Di sisi jaringan, China agresif mendorong konektivitas satelit langsung dari ponsel. Huawei Mate 60 Pro, misalnya, disebut memanfaatkan sistem satelit Tiantong untuk fitur panggilan satelit.
Sementara untuk 6G, pernyataan dari otoritas China menyebut mereka telah mengumpulkan ratusan teknologi kunci 6G.
Yang menarik, 3GPP, organisasi standar global seluler, juga mencatat studi teknis menuju 6G mulai masuk agenda Release 20 pada 2025, yang berarti jalur standar global sedang benar-benar dibuka.
Wajib Tahu:
Ada satu hal yang sering luput saat membahas “HP China akan berubah total”: China tidak mendorong satu komponen saja, tetapi “paket komplit”.
Software: Huawei mendorong HarmonyOS yang tidak mendukung aplikasi Android, artinya kontrol ekosistem makin rapat.
Bentuk perangkat: Huawei sudah memasarkan ponsel lipat tiga secara resmi, bukan sekadar prototipe.
Fondasi chip: negara menyiapkan kebijakan yang mendorong RISC-V dan pabrik chip diarahkan memakai peralatan domestik untuk kapasitas baru.
Kalau tiga komponen ini berjalan bareng, Evolusi HP akan terasa bukan sebagai tren, tetapi sebagai perubahan era.
Bentuk baru di tangan: lipat tiga, layar lebar, dan AI
Perubahan total yang disiapkan China juga hadir secara visual. Huawei punya contoh paling mencolok: ponsel lipat tiga.
Huawei menampilkan produk “tri-fold” pada laman resmi Mate XT Ultimate Design, menonjolkan layar 10,2 inci saat terbuka penuh dan mode penggunaan berlapis.
The Verge juga melaporkan Huawei merilis ponsel tri-fold Mate XT di luar China, menyebutnya sebagai tonggak “world’s first” triple-folding display (dengan catatan pembatasan aplikasi Google masih jadi konsekuensi).
Tidak berhenti di situ, The Verge menulis tentang Huawei Pura X, flip phone yang “aneh tapi menarik” dengan rasio layar lebar, dan yang lebih penting: perangkat tersebut disebut menjadi yang pertama dikirim eksklusif dengan HarmonyOS Next, OS independen yang tidak kompatibel dengan aplikasi Android.
Di titik ini, Evolusi HP tidak lagi bertanya “kamera berapa megapiksel”, tetapi “HP seperti apa yang akan jadi standar baru”. Layar lipat tiga membuka gaya kerja seperti tablet mini di saku. Layar lebar membuka format multitasking baru. Dan ketika OS makin mandiri, AI assistant dan layanan bawaan bisa dipaketkan lebih dalam tanpa bergantung ke layanan luar.
Apa artinya bagi pengguna Indonesia dan pasar global
Pertanyaannya sekarang, apakah ini akan terasa di Indonesia? Jawabannya: sangat mungkin, tetapi dalam dua jalur.
Jalur pertama adalah produk dan bentuk perangkat. Ponsel lipat sudah masuk Indonesia, dan jika tri-fold benar-benar punya pasar, bukan mustahil model serupa akan muncul lebih luas. The Verge mencatat peluncuran global Mate XT mencakup beberapa negara, menunjukkan Huawei memang sedang mendorong bentuk baru melampaui pasar domestik.
Jalur kedua adalah ekosistem, dan ini biasanya lebih “sunyi” tapi dampaknya lebih panjang. Ketika Huawei mendorong OS tanpa Android, konsekuensinya adalah ketersediaan aplikasi, kompatibilitas layanan, dan pengalaman pengguna yang tidak lagi sama. Ini bisa jadi keunggulan jika ekosistemnya matang, atau jadi hambatan jika aplikasi yang dibutuhkan pengguna belum tersedia luas. Reuters menggambarkan dorongan HarmonyOS sebagai upaya mengurangi ketergantungan, tetapi itu juga berarti perang ekosistem aplikasi makin nyata.
Sementara itu, Xiaomi mengambil jalur yang lebih “aman” bagi pasar global: memperkuat software di atas Android lewat HyperOS, sambil menyiapkan chip sendiri untuk meningkatkan daya saing di segmen premium.
Di ujungnya, Evolusi HP yang disiapkan China membawa satu pesan tegas: perubahan tidak lagi menunggu Apple atau Google. China sedang mencoba membangun jalur alternatif, dari OS, chip, hingga jaringan. Bagi pengguna, hasil akhirnya bisa sangat menarik: bentuk baru, konektivitas satelit yang makin lazim, dan perangkat yang makin “pintar” secara lokal. Bagi industri, ini bisa menjadi awal periode paling panas dalam satu dekade terakhir, karena pertarungan bukan cuma soal spesifikasi, tetapi soal ekosistem dan kedaulatan teknologi.
Hobi Games ?